Jumat, 27 Februari 2009

Hujan Menangis Uang

Oleh: Khaulah Al-Fitri*

Suatu hari aku makan di sebuah kafe. Pesan sepiring nasi campur dan segelas teh manis. Nasi campurnya campur-campur. Nasi, ayam, sayur.
Lalu tiba-tiba, nasi, ayam dan sayur itu bergerak-gerak! Mereka tiba-tiba punya kaki, mata dan mulut. Mereka melompat-lompat, memelototiku lalu berteriak-teriak
“Uang! Uang! Uang! Mana Uang?!”
Aku terperanjat. Perutku mual. Laparku hilang.
“Uang! Uang! Uang!”
Kurogoh kocek di celanaku. Selembar uang seratus ribu menggigit tanganku. Gigitannya kuat sekali, mengerat dagingku. Dia menggigit hingga putus jari-jariku!
“Kini kumakan kau”, uang seratus ribu menyeringai puas.
Perih. Perih sekali. Aku menangis. Aku menegrang! Lalu tangisanku menjadi air mata uang! Koin-koin seribuan menetes-netes dari mataku. Lalu jatuh ke piring nasi campurku.
Nasi, ayam dan sayur tambah melompat-lompat. Kali ni mereka bersorak
“Uang! Uang! Uang! Banyak uang!”


Lalu tiba-tiba langit mendung. Awan-awan gelap mengepung kafe itu. Memang berita di radio kemarin berkata “Besok akan hujan. Hujan uang!”
Ramalan itu benar.
Ribuan koin seribuan berjatuhan dari awan-awan gelap itu. Lembar-lembar uang seratus ribuan melayang seperti badai.
Aku senang. Semua orang senang. Bahkan nasi, ayam dan sayurku juga senang.
Ribuan orang berbondong-bondong menyerbu kafe itu. Mereka membawa payung yang dibalik tudungnya. Ada juga yang membawa baskom dan panci.
Ini peristiwa bersejarah!
Baru kali ini ada hujan uang!
Ratusan wartawan langsung datang ke kafe itu. Mereka meliput peristiwa hujan uang. Mereka memotret, merekam, dan mewawancara.
Aku bertanya pada mereka “Kenapa kalian tidak menampng uang saja?”
Mereka menjawab “Kami hanya butuh berita, bukan uang!”
Aku manggut-manggut. Lalu menangis lagi. Menangis uang.
Seorang wartawan bertanya pada pemilik kafe
“Kenapa hujan uang bisa terjadi di kafe Bapak?”
Pemilik kafe tidak menjawab. Dia terlalu sibuk mengumpulkan uang sambil menangis. Menangis uang.
Wartawan itu juga bertanya pada nasi, ayam dan sayurku. Tapi mereka juga tidak tahu. Mereka hanya melompat-lompat sambil bersorak “Uang! Uang! Uang!”
Lalu wartawan itu mendongak. Melihat ke langit mendung dan awan-awan gelap itu. Tiba-tiba dia terperanjat! Sambil menunjuk-nunjuk ke langit
“Lihat! Ada mata di awan itu!!”
Dia berteriak-teriak. Aku tidak peduli. Orang-orang juga tidak peduli. Hanya para wartawan yang peduli. Merek memotret mata-mata itu. Ada dua pasang mata di sana. Mata itu menangis. Rupanya tangisan mata-mata itulah yang menyebabkan hujan uang ini.
“Hei! Siapa kalian??” wartawan itu berteriak lagi.
Lalu para pemilik mata itu menampakkan dirinya.
Para wartawan kaget sampai terjungkal-jungkal melihat para pemilik mata itu.
Mereka adalah Keynes dan Smith. Baru kali ini mereka akur dan kompak. Kompak menangis
“Kenapa kalian menangis uang?” Tanya wartawan itu.
“Kami menangis uang karena menyesal telah memberikan arti pada uang”, Keynes dan Smith tersedu-sedu. Uang-uang terus berjatuhan dari mata mereka.
Para wartawan segera menyiarkan berita itu. Peristiwa hujan uang menjadi headline di semua Koran dan TV. Hingga berita itu sampai di telinga pemerintah.
Pemerintah panik!
“Kalu hujan uang dibiarkan, maka rakyat akan mengalahkan kekayaan kita!”
Maka pemerintah memerintahkan Ahli Klimatologi, Ahli Geografi dan kawan-kawannya untuk menghentikan hujan itu. Tapi mereka tidak sanggup.
Lalu pemerintah menyuruh pawang hujan, dukun santet dampai dukun beranak, tapi mereka tidak mau disuruh. Mereka sudah punya banyak uang.
Maka hujan uang pun tidak berhenti-berhenti. Hingga kafe dan seluruh kota jadi kebanjiran uang.
Aku, nasi, ayam, sayur dan orang-orang mulai tidak suka. Kami muak.
Lalu uang-uang itu menjadi lautan. Kami tenggelam.
Blurp..! Blurp..!
Ah…
Rupanya kami belum mati. Untunglah, semua orang berhasil menyelamatkan diri. Semua orang jadi senang karena hujan uang sudah reda.
Aku tiba-tiba telah mendapati diriku di kafe itu lagi. Perutku lapar sekali. Aku pesan nasi campur dan es teh manis. Meski sederhana, tapi itu adalah menu favoritku.
Nasi, ayam dan sayurku tidak melompat-lompat lagi. Aku gembira karena bisa memakan mereka.
Jari-jariku utuh lagi. Lalu kuraba uang seratus ribuan di kocekku. Dia sudah tidak bergigi. Aku tersenyum bahagia. Lalu ku katakan pada uang itu
“Uang, aku berjanji, tidak akan memakanmu lagi”
[Nda]

--Sederhana, B11, pertengahan Oktober 2008
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, angkatan 2005


Rabu, 04 Februari 2009

DOA -Chairil Anwar

Kepada Pemeluk teguhpuis

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling




Malam

Di pinggiran sebuah hutan, satu keluarga kelinci mulai beranjak tidur. Malam membatasi gerak anak-anak mereka hanya di sekitar lubang yang menjadi rumah mereka. Walau tak berpintu, anak-anak kelinci seperti melihat dinding tebal antara rumah dan dunia luar.

Seekor anak kelinci bertingkah lain dari yang lain. Sesekali, ia menjulurkan kepalanya keluar lubang. Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang dianggapnya baru. Tapi, tindakan itu dicegah keras induknya. “Jangan coba-coba lakukan itu lagi, Nak!” teriak sang induk marah.

“Kenapa, Bu?” tanya anak kelinci heran. “Kenapa tak satu kelinci pun yang berani keluar lubang di saat malam?”

Induk kelinci menatap anaknya tajam. “Anakku,” ucapnya kemudian. “Malam sangat berbahaya untuk hewan seperti kita. Ketika malam datang, lubang menjadi tempat yang paling aman buat kita,” jelas sang induk kemudian.

“Bukankah tanah di sekitar sini hanya dihuni para kelinci, Bu?” sergah si anak menawarkan sudut pandang lain.

Induknya tersenyum. “Anakku, justru karena malamlah, kita tidak bisa membedakan mana teman dan mana pemangsa. Sabarlah untuk bergerak sekadarnya, hingga siang benar-benar datang!” ucap sang induk kelinci begitu meyakinkan.
**

Malam dan siang memang bukan sekadar pergerakan sisi bumi yang menjauh dan menghadap ke arah matahari. Ada makna lain dari yang namanya malam. Sesuatu yang menggambarkan suasana gelap, tertutup, curiga, dan ketakutan.

Dalam diri manusia pun punya dua suasana itu: malam dan siang. Malam menunjukkan suasana hati yang picik dan dangkal, dan siang menggambarkan kelapangan dada. Pada hati yang terselimuti malam, orang menjadi mudah curiga, senang dengan yang serba tertutup, sulit memaafkan, bahkan berkecenderungan menjadi pemangsa.

Orang bijak mengatakan, siang adalah di mana kita mampu membedakan antara pohon nangka dengan pohon cempedak. Selama kita tidak bisa menangkap kearifan diri kita pada wajah orang yang kita temui, jam berapa pun itu, hal itu menandakan kalau hari masih malam. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Maaf!

blog ini masih sementara dikerjakan ^_^



Antara Obama, Israel, dan Konflik Timur Tengah

Sejak terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44, dunia merasakan angin perubahan. Dunia berharap banyak pada Obama. Setidaknya bisa merealisasikan janji-janjinya saat kampanye, yakni perubahan. Obama dianggap sebagai sosok yang mampu merubah citra amerika di mata dunia. Amerika dengan segala organsinya. Amerika yang terlalu banyak ikut campur dalam urusan dalam negeri negara lain. Amerika yang tak segan-segan menjatuhkan sanksi ekonomi bahkan agresi meliter terhadap negara yang dianggap tak sejalan dengannya.


Sayangnya harapan dunia hanya harapan kosong. Amerika bukanlah negara demokratis sebagaimana mereka dengungkan. Pemilu di amerika hanyalah dagelan politik murahan buatan zionis yahudi. Siapapun yang akan menjadi presiden di amerika harus mendapat restu yahudi. Tak terkecuali Barack Obama. Sehingga mengharap sesuatu terhadap obama sama dengan mengharap pada yahudi. Seluruh sepak terjang presiden amerika serikat merupakan refleksi kepentingan yahudi. Presiden tidak ubahnya wayang yang dikendalikan oleh dalangnya yakni yahudi.

Di amerika, yahudi menanamkan hegemoninya begitu dalam. Seluruh kegiatan politik amerika baik di dalam maupun di luar akan dipantau secara langsung oleh lembaga lobi yahudi yaitu AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). Lembaga resmi ini didirikan tahun 1950-an. Kelompok lobi ini, dibangun oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan budget tahunan sebesar 15 juta dollar. Dana yang antara lain mereka kumpulkan dengan cara “memeras” diaspora Yahudi yang tinggal di Amerika. Mengeksploitasi perasaan bersalah para diaspora yang dianggap hidup enak di negeri orang, sementara saudaranya yang tinggal di Israel setiap hari harus berhadapan dengan intifada atau bom bunuh diri dari kelompok pejuang Palestina.

Selain AIPAC, masih ada Conference of Presidents of Major Jewish Organizations (CPMJO). Menurut riset National Journal pada Maret 2005 dan Forbes pada 1997, dalam hal melobi Washington, AIPAC hanya kalah oleh Asosiasi Pensiunan AS.

Mereka didukung tokoh-tokoh terkemuka Kristen Evangelis seperti Gary Bauer, Jerry Falwell, Ralph Reed, Pat Robertson yang bernaung di bawah bendera The American Alliance of Jews and Christians (AAJC). Kelompok ini muncul pada Juli 2002 dipimpin Bauer dan Rabi Daniel Lapin. "Prioritas utama saya dalam kebijakan luar negeri adalah melindungi Israel," ujar Dick Armey, seorang Kristen Zionis, mantan orang kuat di parlemen, dua bulan setelah AAJC berdiri.

George Sunderland, nama pena anggota Kongres AS, dalam situsnya, www.counterpunch.org, menulis, lobi Israel di Kongres terus menguat dari tahun ke tahun. Pemain utamanya AIPAC. "Bukan cuma karena uang yang mereka berikan (kepada para politikus), mereka juga bisa menghukum secara politis," tulisnya.

Gagalnya senator dari Illinois, Charles Percy, kembali ke Capitol Hill pada 1984, misalnya, diduga karena lobi AIPAC. Mereka marah gara-gara Percy mendukung penjualan pesawat pengintai Awacs kepada Arab Saudi dan mengkritik Israel. Direktur Eksekutif AIPAC, Tom Dine, mengisyaratkan itu dalam sambutannya di Toronto tahun yang sama. "Semua orang Yahudi bersatu untuk menyingkirkan Percy," katanya. "Ini pesan bagi para politisi Amerika."

Di pemerintahan, lobi Yahudi menancapkan kukunya dengan membantu biaya kampanye kandidat baik dari Republik maupun Demokrat. Koran Washington Post pada 2003 menghitung, 60 persen dari dana kampanye para calon presiden Demokrat berasal dari pengusaha Yahudi.

Jerusalem Post pada 2000 melaporkan: Yahudi menyumbang 50 persen dana kampanye Bill Clinton pada 1996! Jimmy Carter pun, pernah dibuat "keder" oleh kelompok lobi. Carter sebenarnya ingin mengangkat George Ball, yang kritis terhadap Israel, sebagai Menteri Luar Negeri, tapi takut akan lobi Israel, dia akhirnya hanya menjadikan Ball wakil Menlu.

Michael Massing di The New York Review of Book edisi 8 Juni 2006 menulis, kebijakan AIPAC sangat bergantung pada para direkturnya yang dipilih berdasarkan kekayaan. Yang paling berpengaruh adalah Robert Asher, Edward Levy, Mayer Mitchell, dan Larry Weinberg. Celakanya, empat pengusaha kaya-raya yang dikenal sebagai "Gang of Four" ini, menurut editor di Columbia Journalism Review itu, tak peduli terhadap mayoritas Yahudi di AS yang cinta damai.

Selain memenangkan dukungan AS atas konflik Palestina, prestasi terbesar lobi Isreal, memaksa AS menginvasi Irak. Perang tersebut Didorong oleh niat menciptakan situasi lebih aman bagi Israel (di Timur Tengah). Demikian fakta yang dipaparkan Philip Zelikow, mantan anggota badan penasihat presiden AS untuk urusan luar negeri.

Menurut Zelikow, Irak tak mengancam AS, melainkan Israel. Bukti lain, tajuk mantan perdana menteri Ehud Barak dan Benjamin Netanyahu di Wall Street Journal yang mendesak pemerintah Bush "menindak" Irak.

Kuatnya lobi israel di amerika telah berhasil memaksa amerika untuk membarikan bantuan sebesar 3 milliar dolar per tahun pada israel. Bantuan ini merupakan seperlima bantuan luar negeri Amerika. "Buku hijau" Badan Amerika untuk Pembangunan Internasional (USAID) mencatat, hingga 2003, total pinjaman dan hibah yang diterima Israel lebih dari US$ 140 miliar atau Rp 1.260 triliun, dua kali lipat anggaran Indonesia pada tahun 2006.

Selain soal dana, dukungan amerika juga diaplikasikan pada PBB. Tercatat sejak tahun 1972 sampai tahun 2006, sudah 66 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi israel di palestina diveto amerika. Ini belum termasuk resolusi setelah tahun tersebut plus resolusi terakhir saat israel melancarkan agresinya di gaza.

Para pelobi juga menguasai media. "Komentator Timur Tengah (di AS) didominasi oleh orang-orang yang tak mampu mengkritik Israel," kata Eric Alterman, profesor Inggris di Brooklyn College yang juga komentator media, di MSNBC.com, Maret 2002. Dia mensurvei 66 komentator; hanya lima yang berani mengambil posisi pro-Arab.

Obama sendiri saat kampanye didukung penuh oleh Yahudi. Situs surat kabar Israel Haaretz, Rabu (22/10), memuat laporan tentang tokoh-tokoh Yahudi AS yang memainkan peran penting dalam proses pemilu dan kampanye presiden di Negeri Paman Sam itu dibawah judul "36 Jews Who Have Shaped the 2008 U.S. Election".

Dari 36 nama tersebut terdapat nama-nama penggalang dana kampanye bagi Obama yaitu: Sheldon Adelson seorang Republikan, neokonservatif dan seorang 'mega-donor', Sherry Lansing penggalang dana dan donatur utama Partai Demokrat, pernah menjadi perempuan pertama yang memimpin Paramount, salah satu studio film terkemuka di Hollywood, Eli Pariser memimpin situs MoveOn.org, situs advokasi online beraliran liberal yang menggalang dana untuk kandidat presiden dari Partai Demokrat, Penny Pritzker ketua nasional bidang keuangan kampanye Obama, seorang milyader berasal dari keluarga Yahudi yang dikenal kerap menjadi donatur besar, Denise Rich mantan istri milyader March Rich, seorang penggalang dana terbesar bagi Partai Demokrat, Barbra Streisand penyanyi terkenal yang menjadi ikon Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi, mendukung Obama dan berhasil menggalang dana sebesar 25.800 dollar dari kalangan selebritis Hollywood.

Data di atas menjawab semua pertanyaan soal besarnya dana kampanye Obama saat itu. Dunia tahu bagaimana kampanye obama yang menghabiskan jutaan dolar. Semua dana tersebut bukan berasal dari partai demokrat atau kantung pribadi obama. Sebagian dana tersebut suntikan dari para donatur yahudi. Imbalannya, obama harus mendukung penuh seluruh kepentingan Yahudi baik di amerika, palestina maupun dunia.

Mengingat begitu kuatnya lobi yahudi di amerika, dan siapapun yang ingin jadi presiden harus dapat restu yahudi, maka tak heran jika obama harus mengais restu yahudi dengan bersembahyang di tembok ratapan. Tak hanya itu, pada masa kampanyenya Obama banyak mengunjungi komunitas Yahudi dan sinagog-sinagog. Bahkan jauh-jauh hari sebelum ia mencalonkan diri menjadi presiden, pada tahun 2006, Obama pernah berkunjung ke Israel dan menengok keluarga Israel yang rumahnya hancur akibat serangan roket Katyusha. Sebulan kemudian, ketika pecah perang Hizbullah-Israel, Obama dengan tegas mengatakan bahwa Israel berhak membela diri. Hal inilah yang membuat obama dilirik yahudi ketimbang McCain.

Kunjungan Obama saat kampanye ke Israel juga dilakukan ke permukiman Sidrot dekat Jalur Gaza yang menjadi sasaran kelompok perjuang perlawanan Palestina sebagai respon atas kejahatan Israel. Obama mengkritik ‘aksi terorisme’ terhadap Israel, menunjuk perlawanan Palestina dan persenjataan Hizbullah Libanon dan system pemerintahan Iran. Obama menolak Israel melakukan perundingan langsung dengan Hamas dan itu sikap resmi AS sekarang.

Faktor lainnya yang membuat publik Yahudi menggantungkan harapannya pada Obama adalah sikap Obama terhadap kelompok pejuang Hamas di Palestina. Obama menyatakan akan bersikap tegas terhadap Hamas sampai Hamas mau mengakui eksistensi Israel. Obama juga menyalahkan para pemimpin Palestina yang dianggapnya sebagai penyebab penderitaan rakyat Palestina.

Sebelum Pemilu di AS, dirinya tidak mau bertemu dengan Asosiasi Muslim Amerika. Selain suara muslim tidak begitu signifikan, obama takut dengan tekanan Yahudi. Bagi Obama sendiri kalau dia punya kedekatan negara Islam, justru itu akan menjadi kredit negatif. Itulah sebabnya dia matian-matian meyakinkan publik amerika kalau Husein dalam namanya tidak ada hubungan apapun dengan Islam.

Hal yang tak kalah menariknya adalah komposisi orang-orang di belakang obama. Secara mengejutkan pasca kemenangannya, obama memilih Rahm Emanuel, seorang mantan tentara Israel pada masa Perang Teluk sebagai kepala staff Gedung Putih. Emanuel dikenal sebagai seorang Yahudi garis keras sehingga dijuluki "Rahmbo" oleh lawan-lawan politiknya. Emanuel pula yang menemani Obama saat memberikan pidato pro Israelnya di hadapan AIPAC sekaligus mengatur pertemuan antara Obama dan jajaran eksekutif AIPAC. Ayah Rahm, Dr. Benjamin Emanuel memuji keputusan Obama dan mengatakan penunjukkan puteranya adalah pertanda baik bagi Israel. "Jelas dia (Rahm) akan mempengaruhi presiden agar pro Israel," tukasnya.

Selain Rahm Emanuel, obama menunjuk Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri. Dunia tahu sepak terjang senator New York ini. Seorang mantan ibu negara yang secara membabi buta mendukung isreal. Para diplomat tahu bahwa sikap Clinton terhadap Suriah lebih keras dibandingkan Obama dalam kampanyenya. Bahkan ia pernah mengajukan saran pada pemerintah amerika untuk memveto resolusi PBB yang dirasa merugikan israel di palestina. Tak heran jika Israellah yang paling berbahagia dengan terpilihnya Hillary Clinton sebagai menlu kabinet Obama. PM interim Israel Ehud Olmert langsung mengucapkan selamat pada Clinton dan mengatakan bahwa Clinton adalah sahabat Israel dan orang-orang Yahudi. "Saya yakin, dengan jabatan barunya Clinton akan melanjutkan hubungan khusus yang lebih baik antara AS dan Israel," kata Olmert.

Tak hanya Hillary, obama juga mengangkat Robert Gates untuk tetap pada posisinya sebagai Menteri Pertahanan AS. Padahal Siapapun tahu sepak terjangnya pada masa pemerintahan bush junior. Meskipun Gates akan diberi perintah baru untuk menarik seluruh pasukan tempur Amerika dari Irak dalam waktu 16 bulan. Namun warna pemerintahan bush yang beraroma yahudi dengan tindakan terornya tetap jelas terlihat melalui Gates. Walaupun mungkin pendekatannya tidak seekstrim Bush.

Dalam urusan Timur Tengah, sikap pemerintahan obama sudah jelas. Medukung sepenuhnya Israel. Sebelum resmi menjabat sebagai menlu, Hillary sudah menyampaikan pandangannya soal israel. “Mengenai israel, anda tidak dapat berunding dengan Hamas hingga kelompok itu melepaskan kekerasan, mengakui Israel dan setuju untuk mematuhi perjanjian pada masa lalu. Itu benar-benar bagi saya absolut," Clinton mengatakan pada dengar pendapat pengesahan jabatannya di Senat.

"Itulah sikap pemerintah AS. Itulah sikap presiden-terpilih," katanya setelah seorang senator memberi kesan bahwa "naif dan tidak logis" untuk berdiplomasi dengan pemerintah yang menentang Israel.

Fakta di atas memberikan gambaran pada kita kemana arah pemerintahan obama 4 tahun ke depan. Yang jelas hubungan manis antara Washington-Tel Aviv tidak akan terganggu oleh pemerintahan obama. Sebaliknya, eksistensi israel di amerika dan palestina akan semakin kuat sekuat dukungan amerika.

Amerika akan tetap seperti amerika yang dulu. Secara membabi buta mendukung israel. Dan akan terus memberikan bantuan dana pada israel yang setiap tahunnya sebesar $3 miliar. Negara yang akan terus memveto resolusi PBB yang dianggap mengancam eksistensi israel di palestina.

Andai saja warga amerika mau mendengar dan menjalankan ramalan Benjamin Franklin tahun 1789, mungkin amerika, palestina, dan dunia tidak segelap sekarang. Dia mengingatkan bahaya yang akan ditimbulkan oleh yahudi di kemudian hari jika mereka dibiarkan berada di amerika.

Benjamin menuliskan peringatannya sebagai berikut: “Di sana ada bahaya besar yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang yahudi. Di bumi manapun orang yahudi itu berdiam, mereka selalu menurunkan tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial.”

Selanjutnya ia menulis: “Jika orang-orang yahudi tidak disingkirkan dari amerika dengan kekuatan undang-undang, maka dalam waktu 100 tahun mendatang mereka akan menguasai dan menghancurkan kita dengan mengganti bentuk pemerintah yang telah kita perjuangkan dengan darah, nyawa, harta, dan kemerdekaan pribadi kita”

Sekarang ramalan tersebut telah terbukti. Sehingga sulit bagi kita mengharapkan obama menyelesaikan konflik di timur tengah khususnya Palestina secara bijak apalagi yang sifatnya menguntungkan palestina. Setiap gerak-gerik dan kebijakannya akan selalu diawasi sepenuhnya oleh lobi israel. Tangan-tangan gurita lobi segera akan memotong seluruh kebijakan obama yang dianggap merugikan israel.

Memberikan solusi positif bagi palestina yang sifatnya menguntungkan palestina umumnya dan Pemerintahan Hamas khususnya berarti akan mengancam eksistensi Israel. Dan itu tidak akan pernah dibiarkan oleh lobi-lobi israel di Washington. Obama harus membayar mahal dukungan israel padanya dalam rangka membantunya menjadi orang nomor satu amerika. Jika tidak, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya.

Pendeknya, berharap pada obama sama seperti mengharap oase di padang gurun. Obama akan terlebih dahulu membayar “hutang” pada para pendukungnya yang telah mengantarkan menjadi presiden ketimbang urusan lain. Dan itu akan terus berlanjut pada presiden-presiden pasca obama sampai lobi yahudi benar-benar hilang dari amerika sebagaimana harapan Bejamin Franklin. Semoga.(eramuslim.com)