Minggu, 28 Februari 2010

"Mata Ketiga Cowok"


MATA KETIGA COWOK
Oleh: kupukupubiru*

“A….a….. Takut! Jangan cepet-cepet dong!”
“Iya, pelan-pelan aja. Jangan ngebut!”
“Blue, kita semua belum mo mati tau!”
Tiga perempuan yang berteriak histeris saat Blue menyetir mobil di jalan curam dan  berkelok-kelok menuju Bone. Camba.
“Ye…malah pura-pura ga denger. Dah pada mabok nih!” Yeti semakin kesal
“Kita yang di belakang kaya’ main playstasion aja” ujar Nuri yang mulai mual saat itu.
“Wue…wue….” dan akhirnya malah Tini yang muntah duluan.
Yah itulah situasi yang membuat para perempuan di kursi belakang terpojokkan, mereka dibuat naik pitam. Darah mereka mendidih ingin menikam Blue dari belakang yang dengan tenangnya masih menyetir ala pembalap mobil no.1 di dunia.
“Blue, sudahlah! Kasihan mereka. Hati-hatilah kalau nyetir” Imbuhku, berusaha merayu meluluhkan hatinya.
“Iya..iya, napami seng!” jawaban ketus darinya dengan gaya bahasa Makassarnya yang masih kental dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Untunglah ia mendengarkanku kali ini, menurunkan laju kendaraannya sambil cengar-cengir sendiri.
“Dasar Blue gokil!”ujarku dalam hati.
Sebenarnya aku juga mulai geram dengan tingkahnya seperti anak kecil. Ego! Nggak mau nagalah, nggak mau dengerin pendapat orang lain, mementingkan diri sendiri. Kesal! Tapi, itulah Blue. Jangan panggil ia Blue jika nggak gokil, cerewet, dan multitalenta alias bisa buat orang ngambek seketika, tertawa oleh banyolan dan ulahnya yang lucu.
            Rupanya rekaman itu masih membekas di ingatanku. Walau kejadiannya sudah lima bulan lamanya, saat rombongan kami ingin menghadiri pesta pernikahan senior yang dirayakan di kampungnya Bone. Banyak kisah seru saat itu. Yah salah satunya cerita di atas.
            Aku heran mengapa ada laki-laki yang setega itu. Bukan hanya tiga perempuan yang duduk di kursi belakang saja yang terkena damprat ulahnya, tapi seisi mobilpun pada kesal dibuatnya, termasuk si Doni yang duduk di sampingnya kala itu.
            Aku mulai mencari-cari jawaban atas kebingungan dan pertanyaanku pada laki-laki setelah kejadian itu. Setelah kuperhatikan dengan cermat dan seksama, bukan Blue saja yang memiliki sifat itu, tapi Pak Riko juga teman sekantorku. Lebih tepatnya petinggi selevel direktur. Aku baru ingat bahwa sudah dua kali aku numpang di mobilnya setelah pulang dari acara makan-makan kantor bersama istri dan anaknya. Pak Riko malah lebih parah lagi. Ngebutnya dah dari bawaan kali. , tapi betul-betul lincah. Sepertinya punya indera keenam. Aku ingin sekali berteriak kencang dan melarang beliau seperti yang pernah kulakukan pada Blue tapi nggak enak juga, terpaksa diam saja menahan sakit di dada atas ketakutan yang kurasa. Beristighfar dalam hati sedikit mengobatinya. Sedangkan istrinya menikmati pejalanan itu. Tenang tak bergeming. Mungkin sudah terbiasa.
            Ada apa dengan hobi laki-laki yang suka ngebut? Mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membuat jantung berdetak lebih cepat di atas ambang rata-rata. Setelah sekian lama aku mencari, tepat sebulan dari kejadian itu aku menemukan jawaban atas kebingunganku terhadap sifat aneh yang dimiliki oleh laki-laki.     Akhirnya! Alhamdulillah…Jawaban itu aku temukan dari sebuah buku best seller berwarna kuning,. tipis 124 halaman. berjudul Ta’aruf Forever karya M. Shodiq Mustika dan Krisna Rihardini, tepatnya pada bab “Mata Ketiga Cowok”
            Di bab tersebut diterangkan bahwa laki-laki memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan perempuan salah satunya adalah lihai dalam mengemudi di jalan raya.
“…sebenarnya, tingginya kecepatan mengemudi mereka tuh nggak sengeri yang dibayangin orang. Dengan adanya mata ketiga, cowok akan mudah mempertkirakan gigi persneling, kombinasi rem dan pedal kecepatan waktu di tikungan…” Begitulah bunyi pendapat yang aku kutip dari buku tersebut.
            O…gitu yah! Katanya mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah keasyikan tersendiri, asalkan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada.
            Semenjak kejadian itu, aku mulai sadar bahwa selama ini aku masih belum tahu banyak tentang kaum Adam walau aku dibesarkan oleh seorang Bapak dan memiliki kakak laki-laki yang menyayangiku saat ini. Laki-laki penuh lika-liku juga.
            Aku bertekad harus lebih banyak belajar mengenai mereka. Hingga suatu saat nanti tak akan ada salah paham dan cekcok seperti kejadian di atas.
            Sebaiknya bukan hanya laki-laki saja yang mau dimengerti tetapi mereka juga harus lebih mengenal sosok perempuan.  Karena perempuan lebih ingin dimengerti. Jadi sepatutnya kita -laki-laki dan perempuan- memahami karakter masing-masing seperti pesan yang ditujukan untuk kaum Adam di muka bumi ini dalam buku tersebut yang berbunyi: ”Di sisi lain, andaikan kamu cowok ingin lebih dihargai cewek, jangan kebut-kebutan di depan mereka ataupun ngebut ketika mengendarai kendaraan yang penumpangnya ada ceweknya . Keahlianmu mengemudi gak bakal bikin terkesan. Bisa-bisa dia justru mencibir, menyangka kamu orang yang tak peduli akan keselamatan orang-orang!”  
            Nah loh!  Kalau begitu baiknya kita gencarkan gerakan ta’arufan forever karena tak kenal maka tak sayang! 
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta’arufu (supaya saling kenal mengenal).”Hujurat(49):13 
                                                                                                                            Makasar, NE 23
27 Februari 2010                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 


PEREMPUAN






PEREMPUAN

Perempuan. Begitu indah, teramat rumit untuk dipahami. Bukankah perempuan selalu ingin dimengerti, selalu ingin disayangi? Perempuan, itu perasa. Menyakitinya adalah dosa. Memarahinya adalah cela. Perempuan adalah perhiasan dunia, permata hati, pakaian bagi kaum laki-laki.
Perempuan bak hembusan taman dunia, penghimpun banyak prosa dan seni bahasa. Kehilangannya, bagaikan taman tak berbunga bagaikan malam tak berbintang. “Emas tanpa perempuan adalah arang. Mutiara tanpa perempuan adalah seonggok batu” Begitulah  kutipan dalam buku Bertedulah di Taman Hati yang ditulis oleh penulis produktif, Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni mengenai perempuan.
Perempuan dalam tanda tanya! Mungkin judge itu ada benarnya juga. Andai engkau telah memberikan apa yang ia mau dan mengabdi padanya selama setahun, lalu ia melihat ada sedikit kesalahan dari dirimu. Ia mungkin akan berkata: ”Aku tak pernah melihat kebaikan sedikitpun dari dirimu”. Yah, itulah perempuan. Seperti lagu yang selalu kukidungkan untuk mereka, Lima Kaca Berdebu Perempuan ibarat kaca yang berdebu. Jangan terlalu keras membersihkannya , karena ia akan mudah retak dan pecah. Jangan terlalu lembut membersihkananya , nanti ia mudah keruh dan ternoda. Ia bagai permata keindahan. Sentuhlah hatinya dengan kelembutan. Ia sehalus sutra di awan. Jagalah hatinya dengan kesabaran. Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalu memanjakannya Tegurlah bila ia tersalah, namun janganlah lukai hatinya…”
Senjatanya adalah cinta dan air mata. Cintanya tanpa syarat. Air mata, ekspresi jiwanya. Ia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Ia penuh kasih sayang.
Perempuan pengobat rindu, dikala Adam merasa kesepian tanpa pendamping di surga maka diciptakanlah Hawa untuknya sebagai pelipur lara.
Aku memujamu, tapi sayang kini kau terpuruk di tengah badai mode yang kian marak, berlomba-lomba menjadi trend setter bak artis tenar. Terlalu tebal topeng di wajahmu itu. Kau telah termakan oleh bualan media dan dunia gemerlap. Kau lucuti hijab dan jilbabmu. Kini kau tak lagi sama, tak cantik seperti biasa. Kau hanyut dalam sanjungan para kumbang yang mengelilingimu, membiarkan mata para penyamun menjajaki liuk tubuhmu, maka jangan salahkan mereka jika terjadi hal yang tak kau inginkan. Kau yang mengundangnya! Berbuatlah sesukamu jika kau tak punya malu. Wahai perempuan kau begitu mahal!
Kau bak istana. Bagaimana istana bisa terlindungi tanpa penjaga? Bagaimana rumah tanpa pintu dapat terpelihara?  Jagalah dirimu! Persembahkanlah dedikasi penuhmu untuk hidup yang berharga ini! Warnai dunia dengan warna terindah yang kau miliki. Gapailah citamu setinggi langit dicipta!
“Wahai perempuan disaat orang tertidur maka bangunlah, disaat orang terbangun maka berjalanlah, disaat orang berjalan maka berlarilah, disaat orang berlari maka terbanglah, dan disaat orang lain telah terbang, kau pasti telah sukses!” Percayalah! Bukankah di balik kesuksesan orang-orang besar, pastilah ada perempuan?
Aku tetap memujamu karena kau begitu mulia.


Makassar, 27 Februari 2010
Kupukupubiru

Sabtu, 27 Februari 2010

Persembahan untuk Teman [2]

MALAM INI

Malam ini…
Aku merasa dibutuhkan kembali oleh makhluk-Nya
Sudah lama aku merasa tak berguna untuk siapapun
Mungkin terlalu peduli dengan diri tapi tampak terlilit duri
Hingga terenyuh pada diri hanya melihat dengan setengah hati

Lelah…
Lelah jiwa ini menapaki hari, serasa dunia milik sendiri dan lupa diri
Mungkin terlalu cantik merias diri lalu lupa pada saudari
Aku terlalu lama tak menyadari ini

Malam ini…
Aku telah kembali pada diri akan hakikat menjadi makhluk sosial
Memberikan manfaat untuk makhluk-Nya
Menorehkan senyum indah pada bibirnya
Cahaya memancar dari wajahnya
Aku melihatnya begitu bahagia

Yah malam ini …
Aku persembahkan dedikasi diri untuk makhluk-Nya
Aku kan tidur dengan nyenyak
Karena malam ini aku merasa senang bisa membuatnya tersenyum

Tulisan ini kupersembahkan hanya untuk makhluk-Nya
Makhluk yang bernama manusia

Malam ini…
Kan kututup dengan ucapan
Terima kasih teman!


Mks, NE 23 9:50 pm
kupukupubiru

Persembahan untuk Teman [1]

Teruntuk Orang tuaku yang selalu Ananda cintai dalam relung hatiku yang terdalam…
Ibarat sinar mentari begitulah kasihmu sepanjang zaman tak akan terbalas teruntai begitu indahnya
Ananda haturkan terima kasih atas segala kasih sayang yang sedari kecil telah diberikan dengan tulus,
Setiap doa yang terlantun untuk Ananda menjadi pelipur hati dalam langkah.
Tanpa cintamu bagai taman tak berbunga.bagaikan malam tak berbintang
Duhai Rabbi sejahterakanlah Bapak dan Ibu dengan nikmat-Mu yang tak pudar ditelan masa.

Teruntuk Sauadaraku yang kusayangi karena Allah.
Tanamlah Cinta dalam hati
Biarkan Ia bertahta dalam singgasana-Nya
Ukirlah dengan pena, terjalin kuat di dasar jiwa
Yakinlah bahwa kita kan selalu dalam dekapan-Nya dan hanya kembali pada-Nya

Teruntuk Anak-anakku
Dengarlah senandung Ibunda tercinta
Karena Surga terletak pada dua telapak kakinya
Dengarlah dendang dunia
Raihlah Cita setinggi langit dicipta!
Sayang…kau begitu spesial…

Tulisan ini kupersembahkan untuk temanku “Fira” dalam lembar persembahan skripsinya.
NE 23, pk. 08.00 pm

BIRU ITU AKU


Biru itu Cantik, kataku.
Entah sejak kapan kutergila-gila dengan Biru
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hatiku telah menyatu dengannya.
Biru itu Nyawaku.
Biru itu Hidupku
Biru itu Udaraku, Nafasku
Tak ada yang boleh merenggutnya dariku, kecuali Kau tempat kembalinya Aku dan Biru.
Pemilik Semesta Alam Pemilik Aku dan Biru
Maka kan kuserahkan hidup matiku untuk-Mu
Bukan pada yang lain yang dapat melalaikanku.
Begitupun Biru.

Biru itu Cantik. Itu kataku.
Tapi dia berkata lain, dia bisikkan ke telingaku bahwa Biru itu bukan cantik,
tapi Biru itu suatu rasa yang tak dapat dilukiskan lewat kata.
Di sini! Dia menunjuk debar itu
Dia ingin merubah Biruku
Aku memberinya peluang untuk membuktikan bahwa biru bukanlah cantik, tapi seperti yang ia katakan.
Debar itu hampir memenuhi rongga dadaku meluluhlantahkanku
Menusuk sukmaku membawaku terbang dengan bianglalanya

Biru itu debar? tanyaku
Senyumnya mencibirku berubah menjadi gelegar tawa
Biru itu Kelabu
Biru itu Mati! jawabnya
Tidak! Kau tak dapat merubah Biruku.
Biru Tak kan Mati

Biru itu tetap Cantik
Kau tak dapat menghapusnya dari ragaku
Kuteriakkan lantang bahwa Biru itu Aku
Aku telah lama mengenalnya sebelum kau tahu apa itu Biru.
Warnaku, Kepakanku, Sayapku
Aku bermetamorfosis menjadi Biru
Kau tak tahu dan takkan pernah tahu
Biru itu Aku


Mks, Ne 23
27 Februari 2010 
Ba’da magrib

Selasa, 23 Februari 2010

Estafet Titik

Kelak!
Kan kuurai menjadi titik-titik lainnya

Jangan kau ragu!
Wahai Jiwa yang penuh dengan tanya!
Penantian itu kan berujung di sana

Tak perlu jawaban
Tak perlu ratapan
Tak perlu tangisan

Yang ada hanya senyuman
Yang ada hanya mata berkilauan
Yang ada hanya keyakinan

Harapan?
Yah, karena harapan membuatku hidup lebih lama
Melawan badai amarah

Kelak!
Aku semai titik-titik itu di setiap detik
Hingga hujan rintik-rintik
Mengguyur rasa yang memekik
Menyulam masa yang siap kupetik dari tangkai pohon romantik

Titik-titik itu kan terurai
Menjulurkan tongkat estafet pada titik-titik lainnya

Biarkan ia melanjutkan perjuangannya!



PK 7 Tamalanrea
pk.9.55 pm
kupukupubiru

Rabu, 17 Februari 2010

"Kepak Sayapku"


Kepak Sayapku

             Aura Tabo-Tabo masih terpancar dari diriku. Tepat tanggal 11 Januari 2010, satu hari setelah TOR FLP diselenggarakan, jemari ini dengan lincahnya menggoreskan pena di atas lembaran kertas. Perasaanku menggebu. Dua essai sebanyak 2,5 lembar kukhatamkan dalam waktu kurang dari lima jam . Tak seindah penulis tenar, tapi tulisan itu kubuat dari binar-binar cahaya. Sederhana tapi sepenuh hati! Tak semua orang memiliki itu!
            “ Dalam Diam Ada Cinta” Tulisan pertama yang aku buat untuk kakak iparku, Andi Mulya Arfan. Bercerita tentang kegigihan dan perjuangannya meminang Kakak sulungku Sukma Dewi dengan syarat yang  ditentukan oleh keluarga kecil kam yang telah mendarah daging  yaitu “Panae’”. Hidup berpisah setelah akad terucap sudah.
            Tulisan kedua “Kado Terindah Tabo-Tabo” Menggambarkan kenangan yang terukir indah di Tabo-Tabo, dan merupakan awal keyakinanku pada slogan “Tak Ada Bakat, Minatpun Jadi!”. Tulisan yang berada di hadapan pembaca saat ini merupakan lanjutan dari tulisan Kado Terindah Tabo-Tabo, tetapi dengan judul yang berbeda yaitu “Kepak Sayapku”
            Tulisan selanjutnya tak selancar seperti dua essai sebelumnya. Dari beberapa tulisan yang ada, terdapat dua tulisan yang sulit  terselesaikan dan perlu beberapa kali pengeditan  yang menurutku terbilang lama. Salah satunya, puisi yang berjudul ”Jangan Panggil Aku Elang!”dan yang kedua berupa cerpen “Coklat Palenten Aqso”. Tapi pada akhirnya tulisan itu pun telah pada puncak penantian dengan hasil yang menurutku memuaskan dan kini Aku mencoba untuk mengirimkan salah satu tulisan tersebut ke media. Doaku, semoga diterbitkan!
***
            HP. Benda mungil yang selalu menemaniku. Di kamar, di atas becak, di pete-pete, di saat menunggu, saat berjalan, menjelang tidur, di kala suka dan duka melanda dan kala mata merekam suatu kejadian. Kuabadikan dalam notes sederhana yang tersedia dalam hp mungil ini.
            “Teruntuk Sang Aku”, “Catatan Hati Kekasih”, “Jangan Panggil Aku Elang!”, ”Coklat Palenten Aqso”, ”..IS”, “Lantunan Syair Wanita”. Semua bermula dari ketikan huruf pertama dalam benda ini. Terangkai kata dalam kalimat, kalimat dalam bait, bait mencipta karya.
            Tapi, sering kali Aku menemukan jalan buntu, saat mata merekam dengan sempurna, saat rasa terlalu peka, saat pikiran begitu cepat menyusun rangkaian kata,  jemariku tak mampu menguasai itu semua. Teralalu cepat! Aku tertinggal, terlampau jauh untuk mengejarnya. Kabur…Tak terkontrol.Kabel-kabel impulsnya terputus dan dalam hitungan detik menghilang dari imajin. Tulisanku terhenti.  Hanya semu yang tersisa.
            Inilah saatnya api peperangan berkobar. Perangpun dimulai ! Aku kalah! Kalah dalam pertarungan! Kudengar lirih kematian. Rasa pesimisku berkata:
            ”Tulisan ini mungkin diselesaikan tapi sulit”, maka secepat kilat kan kuciptakan penawar untuk memusnahkannya.
            Optimislah Wahai Jiwa! ”Tulisan ini memang sulit diselesaikan, tapi itu mungkin!” Kutemukan kehidupan!
            Bicaralah dengan kerja! Hiduplah dengan ceria dan kreatifitas! Cerdaskan jiwa agar bahagia! Sebuah motivasi yang kupetik dari sebuah buku kecil bersampul merah dengan  gambar tangan mengepal. Bertuliskan “Deadline Your Life!
            Membuka hati dan mata yang hampir saja mati mendahului ajal yang telah ditetapkan. Semangatku telah kembali. Puing-puing asa kususun dalam bingkai harapan. Kubiarkan menyala!
***

           
Jembatan inilah yang mengantarku pada simpul–simpul positif, terjalin menjadi sebuah ikatan kuat dalam jiwa yang haus akan sebuah pencarian jati diri.
            “Siapa Aku?”
            Aku Raja! Tulisan membawaku berimajinasi tanpa batas. Sesuai inginku. Aku yang memegang kendali.
            “Siapa Aku?”
             Aku adalah seekor kupu-kupu yang selalu ingin mewarnai dunia dengan warna terindah yang ia miliki. Itulah Aku! Aku mencari warna itu dan kini kumenemukannya! Kebebasan mengeksprikan warna diriku.
            Dalam tulisan, Aku melihat diriku. Cerminan hatiku. Tulisan membawaku terbang tinggi. Bebas! Mengepak sayap , menari di atas taman surga yang subur.
            Akhirnya Aku mulai tersadar dari lamunan panjang akan cita dan asa yang selama ini kuimpikan.
            Gamang!
            Meradang, menerjang karang!
            Aku datang menebar bintang!
            Wahai kawan dengarkan syair yang kudendangkan!

“Butterfly terbanglah tinggi setinggi anganku menjadi penulis…”


Makassar, NE 23
 Sabtu, 13 Februari 2010
Pk.17.55

"O" Warnaku...

“O” WARNAKU

Setelah membaca blog milik Kak Aryanto from Bima, aku putusin untuk COPAS alias copy paste tulisannya ini yang dengan sengaja Beliau Copas juga dari link lain. COPAS di Copas? Penulisnya tuh Edwin Ferdian,.Tau ga siapa? Kalau Aku yang ditanya, jawabanku jelas banget: “Ga tau tuh!”
Tapi afwan (afwan=maaf) ya Kak ga minta ijin dulu. He…he…
Yang aku copas cuman golongan darahku aja ko.
Ok deh mo tahu golongan darah O itu kaya apa?


Let’s go!
Katenye sih…O itu…

Berorientasi pada tujuan dan memiliki perspektif
Memiliki keinginan yang lurus dan tulus
Ingin sekali menyenangkan hati orang lain
Sangat benci kekalahan
Tidak suka dikontrol
Cenderung Romantis dan memberikan kasih sayang sepenuhnya, walaupun terkadang tidak terlihat
Memutuskan sesuatu berdasarkan Fakta
Pemikirannya jauh dari hal-hal berbau Negatif
Pembuat Persahabatan dan mengenal arti persahabatan
Suka akan Cinta yang berwujud Kontak Fisik
Sangat berhati-hati terhadap orang yang bukan Teman
Sayang terhadap milik Pribadi
Menonjolkan diri sendiri dan Mengekspresikan diri dengan Kuat
Mahir menggunakan dan mengolah Bahasa yang baik
Memiliki Prinsip dalam Bertindak
Memiliki Mimpi, Visi dan Ambisi yang melampaui Zamannya
Memiliki Kesadaran Sosial yang Tinggi
Memiliki Naluri yang Alamiah untuk selalu berada pada Titik Maksimum
Memikirkan Keluarga dan bertanggung jawab kepadanya
Mudah Grogi dan kalau sudah begitu cenderung Temperamental pada Lingkungannya

Udah pada bacakan karakter golangan darah O.
Sekarang waktunya tuk ngomentarin, apa sesuai dengan diriku ya…
Setelah dilihat, dipikir-pikir, ditimbang-timbang and dicermatin akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa: banyak benernya, rupanya banyak yang sama ma karakterku.

Tapi, ada tapinya lo…
Aku tuh ga benci banget ko yang namanya kekalahan, kan wajar-wajar aja .
Kalah ma menang, bunga kehidupankan? Lah wong Allah cuman lihat prosesnya ko. Istiqamah ato tidak. Betul?
Terus pada poin ke 9 tentang persahabatan, sampai sekarang aku ga dapet-dapet tuh ma sahabat yang bener-bener sahabat. Susah banget nyarinya. Jangan2 dianya lagi main sembunyi-sembunyian yah. Ato Allah belum nunjukin jalan ke rumahku ya, jadinya dia nyasar ke rumah orang laen ato jangan-jangan Allah simpenin dia di surga. Ato….? Banyak banget atonya. Intinya keep husnudzan aja ma Allah.
Terus, aku bukan orang yang sangat berhati-hati ma orang yang bukan temen. Aku mah supel banget kali. He..he… ke PD-an ya? Tapi mang bener, Aku mudah percaya ma orang. Asal Ia baik ma aku maka tunggu aja aku bakal baik juga ma dia. Sangking baiknya, sampe-sampe banyak orang yang nyalahin maksud and kepercayan aku ma dia. Weleh…weleh…tega banget mereka. Husss…ga boleh ghibah tau!
Ok, selanjutnya…mahir menggunakan dan mengolah bahasa yang baik? Apa bener ya? Ga bener tuh! Bahasaku kocar-kacir. Tulisan ini buktinya!
And the last, Aku ga sepatu banget alias ga setuju and ga sepakat banget kulau aku termasuk golongan orang yang mudah grogi and temperamental ma lingkungan. Ga Gue banget!

N selebihnya… Bener!
Yup! It’s my Colour!
N “U”?

Makassar, NE 23
15 Februari 2010

Jumat, 12 Februari 2010

"...IS"


Kini kubawa desis
yang kian menipis
Tipis...

Bengis rasa yang ingin kutepis
Biarkan Ia terkikis!


12 Februari 2010
pk. 21:44 WITA

TUTUP

TUTUP!












Yakinkan pada Hati yang bertalu-talu
Kisah itu kan tertutup

Tutup

Lembaran usang kan mengatup
Terganti dengan mawar menguncup

TUTUP!

Ibu...
Bapak...

Kan kututup 1 Doa
Ananda simpan dalam laci butut

1 dari 3
Kan kukubur bertahta nisan tua
Ananda simpan dalam lipatan kusut

Dengarkan Ananda
Wahai Ibu... Bapak...

Kini Ia hanyut
Larut
Dalam ruang kalut

Percaya janji Ananda!


12 Februari 2010
21:32 WITA

Minggu, 07 Februari 2010

COKLAT PALENTEN AQSO

 


“COKLAT PALENTEN AQSO”



“Bu Gulu! Bu Gulu!” rajuk seorang anak cadal yang kini menarik-narik bajuku.
Aku hentikan sejenak aktivitas yang sedang kulakukan di pagi ini. Mencondongkan tubuh, mendekat, dan berbisik pada anak laki-laki yang hiperaktif, yang tak suka tidur siang, dan hobinya bertengkar dengan anak Ibu Kepala Sekolah yang bernama Raihan itu.
“Iya sayang, ada apa? Ada yang bisa Ibu bantu?”  Sambil kuusap rambut hitam ikalnya.
“Aqso mo tanya Bu” jari telunjuknya ia acungkan tinggi.
“Iya silakan! Ibu guru akan mendengarkan asal Aqso menaruh tasnya dulu di kelas ya…!
Sebental aja ko, sedikiiit aja. Yah…! Yah…?” Gaya wajah memelasnya akhirnya ia pamerkan juga pagi ini.
“Anak ini memang berjiwa kolerik,” ujarku dalam batin.
“Ok deh! Tapi, kita buat perjanjian dulu ya?”
“Iya…! Iya Aqso sepatu, Bu Gulu!Sambil melompat-lompat kegirangan.
“Ko’ sepatu sih?” Tanyaku dengan heran padanya.
“Kata kakak Aqso, tiga hali yang lalu.”
“Ups…! Salah…! Salah! Labu, Selasa, Senin, Minggu,sambil mengangkat tangan kanannya dan mulai menghitung hari secara mundur.
“ O…! Iya…! Ya yang benel tuh. Empat hali yang lalu, Bu Gulu"  
Hm…! Hm…! Geleng-geleng aku dibuatnya. Aqso memang anak yang cerdas, daya ingatnya sangat kuat dibanding anak-anak seusianya.
Sepatu itu altinya sepakat dan setuju Bu Gulu, ia melanjutkan kembali penjelasan yang hampir terputus tadi.
“Janji sepatu ya Bu?”
Seperti biasa, Aqso selalu mendahuluiku. Tanpa komando, jari kelingking mungilnya langsung ia kaitkan di jari kelingking kananku.
“Iya, janji!” balasku.
“Sekarang Aqso cerita ya! Karena bel masuk sebentar lagi berbunyi, sayang.”
 Kila-kila belapa menit lagi ya, Bu Gulu?” Tak lupa jari telunjuk dan ibu jari kanannya membentuk pistol dan ia gerakkan silih berganti tepat di dagunya sambil mengerutkan dahi lebarnya. Gaya khasnya yang sok dewasa itu yang membuatku menahan tawa yang sejak tadi ingin kugelegarkan.
Aku lupa bahwa berbicara dengan Aqso haruslah hati-hati dan cermat. Ia anak yang suka dengan kepastian. Hitung-hitungannya jarang meleset. Jadi harus jelas kalau menerangkan sesuatu padanya, tak boleh ngambang. Kalau tidak, ia akan meluncurkan serangan balik tanpa henti. Aqso memang anak yang spesial.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangan kiriku saat ini.
Tiga belas menit lagi sayang” jawabku
"Oce deh Bu!"  
“Ibu guluku yang cantik…” Aqso mengedipkan mata tanda rayunya padaku. Pembukaan yang bagus tuk memulai cerita. Ia selalu mencoba menarikku dalam ceritanya. Kali ini apalagi yang akan ia tanyakan? Gumamku dalam hati.
“Ibu pelnah dengal Aqso?” Ujarnya spontan tapi penuh tanya.
“Hm…! Pernahlah! Kan sekarang ada di depan Ibu orangnya. Hayo…? Aqso mo main-maini ibu ya?”
“Bukan itu maksud Aqso, Bu Gulu!” Aqso menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Terus apa dong?”
Itu tuh. Aqso di Palestina ”
Kaget bukan main aku dibuatnya.
“Kenapa Aqso tanya soal itu?” Aku mencoba mencari tahu sebenarnya.
“Kasihan yah olang-olang di sana, Bu Gulu. Meleka kelapalan, lumahnya hancul, banyak yang mati dali tua sampai muda. Aqso sedih melihat meleka apalagi anak-anaknya. Anak-anak banyak yang ga punya papa, mama, dan kakak kaya’ Aqso di sini. Anak-anak di Aqso ga bebas, ga bisa sekolah, ga bisa belmain, ga bisa makan enak juga. Pasti meleka ga bisa makan coklat sepelti kesukaan Aqso. Aqso sedih Bu Gulu” Mata Aqso berkaca-kaca. Kini ia menengadah ke arah langit-langit kantorku. Berusaha membendung lelehan air matanya yang siap tumpah.
Ada apa dengan anak ini? Pertanyaan yang kusimpan dalam hati tak urung kulontarkan padanya. Beberapa pertanyaan telah meluncur kembali dari mulut kecilnya. Datang bertubi-ubi, padahal aku belum sempat menanggapi curahan hati sebelumnya.
”Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
“Kalau ada, lasanya sama ya ma coklat palenten (palenten=valentine) punya kakak Aqso?”
“Tapi, kalau nggak ada nanti Aqso suluh mama kilimin meleka coklat lewat pesawat papa deh. Papa Aqsokan pilot. Apalagi coklat kakaknya Aqso banyak banget! Tapi, kakak mah pelit! Aqso aja cuman dikasih satu yang bentuknya hati, Bu Gulu. Katanya sih ga cocok untuk anak kecil cocoknya tuh untuk olang dewasa aja!”
 “Jadi, Bu Gulu bantu Aqso ya? Bu Gulu sumbangin coklatnya ya untuk Aqso? Coklat dali pala penggemal ibu gulu. Ibu simpan di situkan? Telunjuknya menunjuk ke arah lemari berwarna biru milikku.
Telus…! Telus…! Bantu Aqso juga layu kakak Aqso untuk ngasihin coklatnya yang banyak itu.“ Celoteh Aqso tak bertepi.
Semangatnya menggebu melancarkan ide-idenya yang menurutku sangat langka. Aqso tahu persis para kumbang yang selalu mencoba dekat denganku. Wajar jika ia tahu karena Aqsolah yang selalu diminta untuk comblangin mereka denganku. Rata-rata hadiah yang mereka titip ke Aqso adalah coklat. Tapi ada yang mengganjal di pikiranku saat ini.
“Mengapa harus coklat Aqso?”
“Kata mama, coklat itu punya kandungan penilepeniletiaAduuuh! Apaan ya?“ Seraya memukul dahinya sambil mencoba mengingat kembali nama kandungan itu.
Ko jadi lupa! Padahal kemalin Aqso dah ngapalin belulang-ulang lo. Lupa ah...! Pokoknya bisa buat olang seneng dan dapat menenangkan suasana hati” terangnya.
Mama Aqso memang seorang dokter terkenal di kota ini. Mungkin maksudnya phenylethyalamin. Memang kandungan ini dapat menghasilkan dopamine. Memiliki efek yang dapat memunculkan perasaan senang dan perbaikan suasana hati.
”Jadi, teman-teman Aqso di Palestina bisa melasa tenang dan senang saat makan coklat, lupa papanya yang telah telbunuh di medan pelang, lupa mamanya yang entah ke mana menghilang, setidaknya melupakannya walau sedikit.” Celetuknya lagi.
“Wah, pasti selu! Palenten di Palestin pasti kelen habis! Iyakan Bu Gulu?”  Imbuhnya, senyum sumringah ia mekarkan dari bibir tipisnya. Tampak sederet gigi putih menghiasi senyumnya saat ini.
Ya Tuhan, celoteh macam apa ini? Mengalir begitu saja dari hati suci Aqso.
“Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
Palenten di Palestin, pasti kelen habis!
“Bu Gulu sumbangin coklatnya ya…!
Semua itu berdenging di telingaku. Dari mana anak laki-laki kecil usia lima tahun ini mendapatkan pertanyaan dan ide seperti itu? Sedangkan aku sendiri tak pernah memikirkannya apalagi jika aku harus menjawabnya. Haruskah kujawab? Aku tak mampu!
Desah-desah keputusasaan bertalu-talu dalam hati terbelenggu dan letih menanti penantian tak bertepi, tak kunjung henti. Di bawah benteng tirani nilai-nilai manusia telah mati terintimidasi oleh kerasnya hati.
Aku merasakan pembuluh darahku menyempit, terlilit masalah pelik. Kini darah itu hampir beku. Seperti darah mayat yang berserakan di tanah suci itu. Darah korban pembantaian, penindasan, dan penzholiman. Darah atas ruh yang tak berdosa. Darah bercucuran itu terbang menuju pembaringan yang mulia, tempat yang telah dijanjikan. Darah itu kan mewangi selamanya di tanah suci nan mulia, tanah Palestina. Ya Tuhan, perasaan apa ini? Serentak jantungku berdegup kencang. Kuraba, memastikan jantungku masih normal. Anak ini membuatku tersudut dalam ruang hatiku.
“Bu Gulu! Bu Gulu! Ko nangis? Ia menghapus bulir-bulir bening yang mengalir lembut di pipiku.
“Bu Gulu, nanti Aqso tambah sedih loh. Jangan nangis ya Bu! Aqso nggak akan nanya lagi! Ibu nggak usah jawab! Ga apa-apa ko! Aqso ikhlas , Bu Gulu!” Anak kecil ini berusaha menenangkanku dengan sepenuh hatinya. Aku merasa hangat dalam pelukan tubuh kecilnya. Pelukan terhangat yang pernah kuterima setelah ibuku tiada.
“Hapuslah ail mata ibu guluku sayang!” Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggungku. Berusaha meredakan tangisan yang mengucur deras  sedari tadi.
“Ya Tuhan, apakah Aqso malaikat kecil yang Kau kirimkan padaku untuk menyadarkan aku bahwa hidup ini begitu berharga? Aku malu!”
Dalam dekapannya, dalam hatinya yang lapang, tepat di jantungnya. Aku merasakan lirih pembebasan yang Aqso kecil lantunkan untuk Palestina.
Untukmu Jiwa-jiwa Aqso
Untukmu Jiwa dan Darah Aqso
Untukmu Palestina Tercinta
Aqso penuhi panggilanmu
Untuk Al Aqso yang mulia
Aqsokan terus bersamamu

Makassar, 08 Februari 2010 Pk 03.00
*Salah satu mahasiswi Universitas Hasanuddin