“Kau dengar?” tanyaku ke pada hati yang hampir mati.
Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...! Terdengar tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!
“Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa, hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.
“Entah, siksaan apalagi yang Bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.
Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putih yang semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya.
“Byur....byur...” dan kembali tercebur.
“Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan menjemputnya.”
Ia tegar! Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam.
“Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu.” tanyaku pada emosi yang memuncak.
Setiap pulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring bekas sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dikerjakan dengan sempurna, tapi Puang tetap saja mencari-cari cela atau kesalahan untuk bisa menghukum si Bungsu.
Buyarkan mimpi si Bungsu kecil yang dekil.
"Cepatlah!" hardik Puang dengan kasarnya.
Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si bungsu.
"Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali.
Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Puang memulai ulahnya lagi.
"Tuhan, izinkan ia mati!" pintaku pada-Nya.
Sungguh, aku tak kuasa mendengar erangan si Bungsu, terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.
"Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biarkan malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.
Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.
Biarkan ia tidur! Kini dan selamanya....
***
Kebisuan membawaku terbang menerjang kelam dua tahun silam. Gara-gara mereka! Mereka tak bertanggung jawab telah merampas kebahagianku. Suamiku bersimpah darah hari itu. Mereka menghancurkan hidupku. Tidak! Bukan hanya hidupku tapi hidup banyak orang , masyarakat menderita karenanya.
Mentari tersenyum menyambut pagi yang cerah di Kota Daengku. Aku, Ayah, Sulung, dan Bungsu bersiap-siap untuk berangkat bertamasya ke Malino. Sudah lama si Bungsu ingin menginjakkan kakinya di tempat itu. Tempat yang ia idamkan sejak duduk di kelas tiga SD. Mobil tua peninggalan orang tuaku menjadi saksi perjalanan kami. Toyota sedan berwarna biru tua yang telah pudar termakan usia , tak seindah dulu, meski begitu mobil itu tetap terlihat cantik.
“Tlilit…tlilit…” bunyi HP Ayah dari kantong kemeja garis-garis putih yang ia kenakan. Seketika wajahnya berubah, dahinya berkerut, menampakkan kekecewaan yang dalam. Aku tahu bahwa liburan ini akan batal lagi untuk sekian kalinya.
Ayah bekerja sebagai pengaman kampus. Posisinya telah naik tingkat menjadi ketua pengamanan setelah tujuh tahun mengabdi di kampus itu.
“Tawuran di kampus lagi?” tanyaku yakin padanya. Anggukan kecil darinya menandakan hal itu benar. Anak-anak hanya diam, duduk lesu di kursi belakang.
“Kampus ricuh, mahasiswa melanjutkan aksi Anti BHP-nya di depan rektorat dan memblokir jalan masuk ke kampus. Tak sempat lagi untuk pulang, kita langsung ke sana! Ibu dan anak-anak ikut saja! Anak-anak pegangan yang kuat, ya!”
Tak butuh waktu lama, Ayah mengalihkan perjalanan kami membanting setir melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah kampus terkenal itu.
***
Semenjak kejadian itu aku mengalami kelumpuhan. Shock! Terbaring lemas dan bisu di atas ranjang reyot. Sedangkan Puang menyalahkan si Bungsu atas kejadian hitam itu. Meluapkan kemarahan padanya.
“Gara-gara kau! Ayahmu meninggal. Mencarimu di tengah keramaian berandal-berandal itu. Mengapa kau keluar dari mobil? Mengapa? Mengapa?”
“Kau tak mengindahkan perintah Ayahmu! Dasar anak nakal!” Amarah menguasai diri Puang, hanya suara tamparan yang terdengar dari bilik sebelah.
Kalimat itu yang kerap kali ia tudingkan pada Bungsu. Aku kasihan padanya.
“Kasihan?” Itu tak mengobati apa pun. Tak bisa menggantikan apa-apa.
“Bunda, Bungsu akan merawatmu! Jangan ragukan Bungsu, Bunda! Bunda tetap berdoa ya, agar Ayah dan Kakak hidup bahagia di sana. Pasti mereka sudah berada di surga yang indah. Tersenyum melihat Tuhan. Bungsu tahu, Bunda masih rindu pada Ayah dan Kakak, tapi biarkan mereka tenang.” Bungsu meneduhkan hatiku.
“Ya Tuhan tak sepantasnya aku meminta kematian untuk si Bungsu. Dia begitu tegar mengahadapi hidup ini. Tak serapuh aku yang hanya bisa diam terpaku dan menyesali masa lalu.” Rasa penyesalan menggayutiku.
“Ya Tuhan, aku ibu yang jahat! Aku hampir saja membunuhnya dengan doa beracunku. Bukankah doa seorang ibu yang terzholimi pasti Kau dengar dan ijabah? Aku khilaf!” Tak hentinya aku menyalahkan diriku.
“Aku tak akan lagi melukainya, Tuhan. Bungsu terlalu lugu untuk mengerti makna kematian. Biarkan ia bertahan melangkah menapaki jembatan kehidupan!”
Ya, aku akan merelakan Ayah dan Sulung, tenang dengan-Mu, Sang Maha! Tapi aku tidak akan tenang sedikit pun, akan tetap menyimpan dendam pada mereka yang telah merenggut pelita kami. Biarkan munajatku tetap kudendangkan untuk mereka yang tak lebih mengerti akan arti sebuah nyawa yang telah dirampasnya. Nafsu telah menguasai dirinya, menggerogoti pikiran busuknya. Putih menjadi merah!
“Atas nama rakyat! Turunkan mereka!”
“Bunuh para bajingan, si Tikus Kampus! Kalian merampas hak kami!”
“Kalian maling!”
“Kami menggugatnya! Cabut segera!
Mereka pintar berdalih. Seakan-akan mereka adalah yang paling benar dan suci menyuarakan keadilan. Ha…! Apa harus dengan kekerasan dan kekacauan untuk menikam para tikus yang kau teriakkan dengan lantang? Maling teriak maling! Bukankah kau sama saja dengan mereka?
Anarkis! Itu yang terjadi. Tepat di depan lampu merah jalan masuk kampus, perjalanan kami terhenti. Sesak! Kau salah sasaran! Menyerang membabi buta dengan tangan mengepal kau angkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga kau lempar batu ke arah kami. Setelah itu kau lari terbirit-birit bersembunyi di balik dinding tinggi. Meninggalkan jejak-jejak darah di hadapan kami yang teraniaya. Darah mengucur deras dari kepala Ayah, dan Sulungku. Kau hujamkan tajam batu-batu itu tepat di tubuh mereka berdua. Mereka terkapar terinjak-injak dalam massamu. Mobil kami dilahap oleh api yang kau sulutkan. Bungsu merintih ketakutan di balik pohon. Teriakanku kau abaikan dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.
Akankah kalian bertanggung jawab atas kejadian itu?
Penjara dunia tak pantas untukmu, karena kau menyumpal mulut para abdi negara yang silau akan kuasa dan uang. Kau bebas! Tapi, penjara lain akan menunggumu. Kelak maut akan meregang nyawamu dengan keras. Menebasnya dengan kapak kegelapan.
Kebrutalanmu telah menyengsarakan banyak orang. Jangan kau buat negara menjadi semakin malu, menanggung beban atas ulahmu! Cepatlah bertaubat wahai penerus generasi bangsa! Jika tidak, inilah lantunan doa yang akan kupersembahakan untukmu, “Tuhan, izinkan ia mati!”
Dan anakku, Bungsu. Tetaplah tegar bagai karang dihempas ombak! Kau tahu? Doa itu kini telah kulantunkan untuk mereka yang telah merampas kebahagianmu. Kebahagian kita. Bungsu, doa itu bukan untukmu lagi. Bukan! Karena Tuhan begitu menyayangimu.
Pangkep, Awal 2010
*Salah satu mahasiswi Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin