Sabtu, 17 April 2010

"Teruntuk Langit dari Bumi"

"TERUNTUK LANGIT DARI BUMI"
Oleh; kupukupubiru
Kau tahu? Langit sekarang menumpahkan amarah dan kesedihannya pada bumi. Kini ia menangis. Sesekali menampilkan kilat dan gemuruh. Dukanya membasahi tanah kelahiranku. Yah! Hujan mengingatkanku pada bumi. Bumi? Apakah itu kau? Mungkin! Karena aku menyangkal kalau bumi adalah kau.
Langit dan bumi! Kau tahu siapa mereka? Mereka adalah kita. Aku dan kau! Ungkapan itu yang tepat kutujukan untuk kita. Langit dan bumi! Jauh membentang jarak. Sangat! Jangan tanya mengapa! Kau langitnya! Aku sulit menggapaimu karena aku bumi.
***
Aku mengenalmu lewat bisikan. Lirih! Bisikan-bisikan itu membawa kabar tentang kepopuleranmu yang katanya layak dipuja, dan berujung pada statement, banyak bintang berpijar mengelilingimu. Mungkin karena kau langit. Sepertinya! Tapi, itu kata mereka, bukan aku! Aku belum menjamahmu sama sekali.
Ternyata kau “Anak Sang Ratu Langit”. Itulah berita yang terbang dari burung bersayap hitam yang datang pada suatu malam. Sontak! Degup jantungku melonjak cepat. Buaian dan dedikasi Sang Ratu telah diakui oleh bintang-bintang, rembulan, dan matahari. Tak ada yang menyangsikannya! Tak terkecuali bumi. Berbahagialah dan bersyukurlah, kau terlahir dari rahim suci Sang Ratu. Semua semakin jelas menguak jurang pemisah. Langit dan bumi! Engkau langitnya dan aku bumi.
***
Hitam. Kau berteman dengan malam. Coba lihat di luar sana! Gelap, ya gelap. Akhir-akhir ini langit selalu tampak mencekam. Mendung hitam menjadi raja. Mengguyur bumi yang gersang dan sedang dilanda kekeringan. Penawar gelisah panjang.
Seperti itulah kira-kira awal perjumpaan kita. Hitam menjadi biru. Cantik! Bumi tersungging untuknya. Kau tahu? Bumi hanya tertunduk malu, enggan menengadahkan wajahnya ke langit. Itulah bumi! Merangkai tanda dalam hening. Tak seperti bintang yang datang mengedipkan cahaya. Yah, kami berbeda! Perlu kutegaskan sekali lagi bahwa kami tak kan pernah sama. Karena aku bumi!
Apakah ini? Wajarkah? Ku akui takut dan cemas dekat denganku saat ini. Menggayuti rasa yang lumrah. Tepat sasaran! Layar masa lalu itu belum redup dalam jejakmu. Menghantuiku. Mungkin aku telah banyak tahu tentang luka langit yang menjelma menjadi rintik-rintik bening. Jatuh mewarnai bumi.
Aku telah merangkainya dalam diam. Perlahan tapi pasti! Mengakar kuat dalam perut bumi. Bagaimana denganmu? Langit menyibak tabir kebingungan, keraguan, ketidakpastian, dan kepalsuan. Telah jelas! Kini aku menjelma sepertimu, bukan hujan! Bukan mozaik tapi embun. Datang dan pergi sesuka hati. Muncul di pagi hari dan hilang disengat mentari. Embun milik bumi!
***
Teruntuk Langit tak berawan yang melintas dalam kepekatan malam. Aku tetap ingin menjemput cahaya seratus itu. Aku ingin menggandengnya dan memberikan senyum termanis dengan hiasan kedua lesung pipit di pipiku. Izinmu pun ku pinta.
Harapan? Harapan ‘tuk melanjutkan estafet titik lainnya. Biarkan ia melanjutkan perjuangannya! Itu yang membuatku bertahan dari badai mematikan yang selalu kau sudutkan padaku. Beban kau pikul, kebencian terrkumpul. Benci menyergapimu. Aku telah peka dengan benci. Terima kasih, itu bertanda embun masih milik bumi! Tapi mengapa kau selalu menyuguhkanku rintik itu? Tersapu hujan yang kau tuangkan dari langit. Kau tahu? Bumi tersungging kembali.
Langit dan bumi! Masihkah seperti itu? Menggema dalam relung semu Menggoyahkan ketuguhan hati yang hampir mati.
Teruntuk Langit dari bumi. ‘Kan kukabarkan kepada rasi bintang dan galaksi. Kau langit! Kokoh memayungi tanpa perlu dipilari. Bumi…itu aku! Tak sesak dipijak sabar menanti.
***
Kupu-kupu memberitakan kepadaku bahwa Surat Teruntuk Langit tak pernah sampai di tangannya karena Bumi telah melahap dan mengubur itu dalam perutnya. Dalam! Hingga kini. Biarkan Langit yang menjemputnya sendiri!

Makassar, 14 April 2010. Pk 01.00 kupukupubiru




Rabu, 14 April 2010

"TUHAN, IZINKAN IA MATI"

 TUHAN, IZINKAN IA MATI


Oleh: kupukupubiru*
            
“Kau dengar?” tanyaku ke pada hati yang hampir mati.

            Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...! Terdengar  tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!

            “Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa, hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.

            “Entah, siksaan apalagi yang Bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.

            Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putih yang semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya.

            “Byur....byur...” dan kembali tercebur.

            “Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan menjemputnya.”

            Ia tegar! Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam.

            “Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu.” tanyaku pada emosi yang memuncak.

            Setiap pulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring bekas sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dikerjakan dengan sempurna, tapi Puang tetap saja mencari-cari cela atau kesalahan untuk bisa menghukum si Bungsu.

            Buyarkan mimpi si Bungsu kecil yang dekil.

            "Cepatlah!" hardik Puang dengan kasarnya.

            Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si bungsu.

            "Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali.

            Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Puang memulai ulahnya lagi.

            "Tuhan, izinkan ia mati!" pintaku pada-Nya.

            Sungguh, aku tak kuasa mendengar erangan si Bungsu, terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.

            "Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biarkan malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.

            Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.

            Biarkan ia tidur! Kini dan selamanya....

***

            Kebisuan membawaku terbang menerjang kelam dua tahun silam. Gara-gara mereka! Mereka tak bertanggung jawab telah merampas kebahagianku. Suamiku bersimpah darah hari itu. Mereka menghancurkan hidupku. Tidak! Bukan hanya hidupku tapi hidup banyak orang , masyarakat menderita karenanya.

            Mentari tersenyum menyambut pagi yang cerah di Kota Daengku. Aku, Ayah, Sulung, dan Bungsu bersiap-siap untuk berangkat bertamasya ke Malino. Sudah lama si Bungsu ingin menginjakkan kakinya di tempat itu. Tempat yang ia idamkan sejak duduk di kelas tiga SD. Mobil tua peninggalan orang tuaku menjadi saksi perjalanan kami. Toyota sedan berwarna biru tua yang telah pudar   termakan  usia , tak seindah dulu, meski begitu mobil itu tetap  terlihat cantik.  

            “Tlilit…tlilit…” bunyi HP Ayah dari kantong kemeja garis-garis putih yang ia kenakan. Seketika wajahnya berubah, dahinya berkerut, menampakkan kekecewaan yang dalam. Aku tahu bahwa liburan ini akan batal lagi untuk sekian kalinya.

Ayah bekerja sebagai pengaman kampus. Posisinya telah naik tingkat menjadi ketua pengamanan setelah tujuh tahun mengabdi di kampus itu.

            “Tawuran di kampus lagi?” tanyaku yakin padanya. Anggukan kecil darinya menandakan hal itu benar. Anak-anak hanya diam, duduk lesu di kursi belakang.

            “Kampus ricuh, mahasiswa melanjutkan aksi Anti BHP-nya di depan rektorat dan memblokir jalan masuk ke kampus. Tak sempat lagi untuk pulang, kita langsung ke sana! Ibu dan anak-anak ikut saja! Anak-anak pegangan yang kuat, ya!”

             Tak butuh waktu lama, Ayah mengalihkan perjalanan kami membanting setir melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah kampus terkenal itu.

***

            Semenjak kejadian itu aku mengalami kelumpuhan. Shock! Terbaring lemas dan bisu di atas ranjang reyot. Sedangkan Puang menyalahkan si Bungsu atas kejadian hitam itu. Meluapkan kemarahan padanya.

“Gara-gara kau! Ayahmu meninggal. Mencarimu di tengah keramaian berandal-berandal itu. Mengapa kau keluar dari mobil? Mengapa? Mengapa?”
“Kau tak mengindahkan perintah Ayahmu! Dasar anak nakal!” Amarah menguasai diri Puang, hanya suara tamparan yang terdengar dari bilik sebelah.
Kalimat itu yang kerap kali ia tudingkan pada Bungsu. Aku kasihan padanya.

Kasihan?”  Itu tak mengobati apa pun. Tak bisa menggantikan apa-apa.

            “Bunda, Bungsu akan merawatmu! Jangan ragukan Bungsu, Bunda! Bunda tetap berdoa ya, agar Ayah  dan Kakak hidup bahagia di sana. Pasti mereka sudah berada di surga yang indah. Tersenyum melihat Tuhan. Bungsu tahu, Bunda masih rindu pada Ayah dan Kakak, tapi biarkan mereka tenang.” Bungsu meneduhkan hatiku.

            “Ya Tuhan tak sepantasnya aku meminta kematian untuk si Bungsu. Dia begitu tegar mengahadapi hidup ini. Tak serapuh aku yang hanya bisa diam terpaku dan menyesali masa lalu.” Rasa penyesalan menggayutiku.

            “Ya Tuhan, aku ibu yang jahat! Aku hampir saja membunuhnya dengan doa beracunku. Bukankah doa seorang ibu yang terzholimi pasti Kau dengar dan ijabah? Aku khilaf!” Tak hentinya aku menyalahkan diriku.

            “Aku tak akan lagi melukainya, Tuhan. Bungsu terlalu lugu untuk mengerti makna kematian. Biarkan ia bertahan melangkah menapaki jembatan kehidupan!”

            Ya, aku akan merelakan Ayah dan Sulung, tenang dengan-Mu, Sang Maha! Tapi aku tidak akan tenang sedikit pun, akan tetap menyimpan dendam pada  mereka yang telah merenggut pelita kami. Biarkan munajatku tetap  kudendangkan untuk mereka yang tak lebih mengerti akan arti sebuah nyawa yang telah dirampasnya. Nafsu telah menguasai dirinya, menggerogoti pikiran busuknya. Putih menjadi merah!

“Atas nama rakyat! Turunkan mereka!”

“Bunuh para bajingan, si Tikus Kampus! Kalian merampas hak kami!”

“Kalian maling!”      
“Kami menggugatnya! Cabut segera!

            Mereka pintar berdalih. Seakan-akan mereka adalah yang paling benar dan suci menyuarakan keadilan. Ha…! Apa harus dengan kekerasan dan kekacauan untuk menikam para tikus yang kau teriakkan dengan lantang? Maling teriak maling! Bukankah kau sama saja dengan mereka?

Anarkis! Itu yang terjadi. Tepat di depan lampu merah jalan masuk kampus, perjalanan kami terhenti. Sesak! Kau salah sasaran! Menyerang membabi buta dengan tangan mengepal kau angkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga kau lempar batu ke arah kami. Setelah itu kau lari terbirit-birit bersembunyi di balik dinding tinggi. Meninggalkan jejak-jejak darah di hadapan kami yang teraniaya. Darah mengucur deras dari kepala Ayah,  dan Sulungku. Kau hujamkan tajam batu-batu itu tepat di tubuh mereka berdua. Mereka terkapar terinjak-injak dalam massamu. Mobil kami dilahap oleh api yang kau sulutkan. Bungsu merintih ketakutan di balik pohon. Teriakanku kau abaikan dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

            Akankah kalian bertanggung jawab atas kejadian itu?

            Penjara dunia tak pantas untukmu, karena kau menyumpal mulut para abdi negara yang silau akan kuasa dan uang. Kau bebas! Tapi, penjara lain akan menunggumu. Kelak maut akan meregang nyawamu dengan keras. Menebasnya  dengan kapak kegelapan.

            Kebrutalanmu telah menyengsarakan banyak orang. Jangan kau buat negara menjadi semakin malu, menanggung beban atas ulahmu! Cepatlah bertaubat wahai penerus generasi bangsa! Jika tidak, inilah lantunan doa yang akan kupersembahakan untukmu,  Tuhan, izinkan ia mati!
            Dan anakku, Bungsu. Tetaplah tegar bagai karang dihempas ombak! Kau tahu? Doa itu kini telah kulantunkan untuk mereka yang telah merampas kebahagianmu. Kebahagian kita. Bungsu, doa itu bukan untukmu lagi. Bukan! Karena Tuhan begitu menyayangimu.


Pangkep, Awal  2010

*Salah satu mahasiswi Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin




Kamis, 18 Maret 2010

Maaf...
Judul itu terlalu lama kusimpan

Bergelut dengan pikiran
Setumpuk asa dan cita-cita

Entah ke mana jejak kan melangkah?
Arungi langit dan laut biru?
Itukah mau kalian?

Demi dan untuk cinta kan kulakukan!
Aku mencintai kalian

Cinta?
Aku tak menemukan relungnya
pada jiwa yang kering kerontang
pada hati yang remuk redam
Bias!

Cinta?
Aku tahu ini titipan Ilahi
Suci!
Sesuci cinta Hajar Ibrahim pada Ismail

Maaf...
Ada yang mengetuk pintu malam tadi
Kubiarkan ia masuk
Menjemputku terbang dengan biangalalanya

Membawaku memetik bintang

...

kupukupubiru
18 Maret 2010. Bung!

Rabu, 17 Maret 2010

Dari Ade' Wawan

'Lihatlah keluar,
ada titik terang dari langit.
Tapi itu bukan bintang.
Percayalah itu bukan bintang.
Tapi, harapan yang bisa kau petik satu per satu'

Minggu, 28 Februari 2010

"Mata Ketiga Cowok"


MATA KETIGA COWOK
Oleh: kupukupubiru*

“A….a….. Takut! Jangan cepet-cepet dong!”
“Iya, pelan-pelan aja. Jangan ngebut!”
“Blue, kita semua belum mo mati tau!”
Tiga perempuan yang berteriak histeris saat Blue menyetir mobil di jalan curam dan  berkelok-kelok menuju Bone. Camba.
“Ye…malah pura-pura ga denger. Dah pada mabok nih!” Yeti semakin kesal
“Kita yang di belakang kaya’ main playstasion aja” ujar Nuri yang mulai mual saat itu.
“Wue…wue….” dan akhirnya malah Tini yang muntah duluan.
Yah itulah situasi yang membuat para perempuan di kursi belakang terpojokkan, mereka dibuat naik pitam. Darah mereka mendidih ingin menikam Blue dari belakang yang dengan tenangnya masih menyetir ala pembalap mobil no.1 di dunia.
“Blue, sudahlah! Kasihan mereka. Hati-hatilah kalau nyetir” Imbuhku, berusaha merayu meluluhkan hatinya.
“Iya..iya, napami seng!” jawaban ketus darinya dengan gaya bahasa Makassarnya yang masih kental dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Untunglah ia mendengarkanku kali ini, menurunkan laju kendaraannya sambil cengar-cengir sendiri.
“Dasar Blue gokil!”ujarku dalam hati.
Sebenarnya aku juga mulai geram dengan tingkahnya seperti anak kecil. Ego! Nggak mau nagalah, nggak mau dengerin pendapat orang lain, mementingkan diri sendiri. Kesal! Tapi, itulah Blue. Jangan panggil ia Blue jika nggak gokil, cerewet, dan multitalenta alias bisa buat orang ngambek seketika, tertawa oleh banyolan dan ulahnya yang lucu.
            Rupanya rekaman itu masih membekas di ingatanku. Walau kejadiannya sudah lima bulan lamanya, saat rombongan kami ingin menghadiri pesta pernikahan senior yang dirayakan di kampungnya Bone. Banyak kisah seru saat itu. Yah salah satunya cerita di atas.
            Aku heran mengapa ada laki-laki yang setega itu. Bukan hanya tiga perempuan yang duduk di kursi belakang saja yang terkena damprat ulahnya, tapi seisi mobilpun pada kesal dibuatnya, termasuk si Doni yang duduk di sampingnya kala itu.
            Aku mulai mencari-cari jawaban atas kebingungan dan pertanyaanku pada laki-laki setelah kejadian itu. Setelah kuperhatikan dengan cermat dan seksama, bukan Blue saja yang memiliki sifat itu, tapi Pak Riko juga teman sekantorku. Lebih tepatnya petinggi selevel direktur. Aku baru ingat bahwa sudah dua kali aku numpang di mobilnya setelah pulang dari acara makan-makan kantor bersama istri dan anaknya. Pak Riko malah lebih parah lagi. Ngebutnya dah dari bawaan kali. , tapi betul-betul lincah. Sepertinya punya indera keenam. Aku ingin sekali berteriak kencang dan melarang beliau seperti yang pernah kulakukan pada Blue tapi nggak enak juga, terpaksa diam saja menahan sakit di dada atas ketakutan yang kurasa. Beristighfar dalam hati sedikit mengobatinya. Sedangkan istrinya menikmati pejalanan itu. Tenang tak bergeming. Mungkin sudah terbiasa.
            Ada apa dengan hobi laki-laki yang suka ngebut? Mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membuat jantung berdetak lebih cepat di atas ambang rata-rata. Setelah sekian lama aku mencari, tepat sebulan dari kejadian itu aku menemukan jawaban atas kebingunganku terhadap sifat aneh yang dimiliki oleh laki-laki.     Akhirnya! Alhamdulillah…Jawaban itu aku temukan dari sebuah buku best seller berwarna kuning,. tipis 124 halaman. berjudul Ta’aruf Forever karya M. Shodiq Mustika dan Krisna Rihardini, tepatnya pada bab “Mata Ketiga Cowok”
            Di bab tersebut diterangkan bahwa laki-laki memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan perempuan salah satunya adalah lihai dalam mengemudi di jalan raya.
“…sebenarnya, tingginya kecepatan mengemudi mereka tuh nggak sengeri yang dibayangin orang. Dengan adanya mata ketiga, cowok akan mudah mempertkirakan gigi persneling, kombinasi rem dan pedal kecepatan waktu di tikungan…” Begitulah bunyi pendapat yang aku kutip dari buku tersebut.
            O…gitu yah! Katanya mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah keasyikan tersendiri, asalkan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada.
            Semenjak kejadian itu, aku mulai sadar bahwa selama ini aku masih belum tahu banyak tentang kaum Adam walau aku dibesarkan oleh seorang Bapak dan memiliki kakak laki-laki yang menyayangiku saat ini. Laki-laki penuh lika-liku juga.
            Aku bertekad harus lebih banyak belajar mengenai mereka. Hingga suatu saat nanti tak akan ada salah paham dan cekcok seperti kejadian di atas.
            Sebaiknya bukan hanya laki-laki saja yang mau dimengerti tetapi mereka juga harus lebih mengenal sosok perempuan.  Karena perempuan lebih ingin dimengerti. Jadi sepatutnya kita -laki-laki dan perempuan- memahami karakter masing-masing seperti pesan yang ditujukan untuk kaum Adam di muka bumi ini dalam buku tersebut yang berbunyi: ”Di sisi lain, andaikan kamu cowok ingin lebih dihargai cewek, jangan kebut-kebutan di depan mereka ataupun ngebut ketika mengendarai kendaraan yang penumpangnya ada ceweknya . Keahlianmu mengemudi gak bakal bikin terkesan. Bisa-bisa dia justru mencibir, menyangka kamu orang yang tak peduli akan keselamatan orang-orang!”  
            Nah loh!  Kalau begitu baiknya kita gencarkan gerakan ta’arufan forever karena tak kenal maka tak sayang! 
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta’arufu (supaya saling kenal mengenal).”Hujurat(49):13 
                                                                                                                            Makasar, NE 23
27 Februari 2010                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 


PEREMPUAN






PEREMPUAN

Perempuan. Begitu indah, teramat rumit untuk dipahami. Bukankah perempuan selalu ingin dimengerti, selalu ingin disayangi? Perempuan, itu perasa. Menyakitinya adalah dosa. Memarahinya adalah cela. Perempuan adalah perhiasan dunia, permata hati, pakaian bagi kaum laki-laki.
Perempuan bak hembusan taman dunia, penghimpun banyak prosa dan seni bahasa. Kehilangannya, bagaikan taman tak berbunga bagaikan malam tak berbintang. “Emas tanpa perempuan adalah arang. Mutiara tanpa perempuan adalah seonggok batu” Begitulah  kutipan dalam buku Bertedulah di Taman Hati yang ditulis oleh penulis produktif, Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni mengenai perempuan.
Perempuan dalam tanda tanya! Mungkin judge itu ada benarnya juga. Andai engkau telah memberikan apa yang ia mau dan mengabdi padanya selama setahun, lalu ia melihat ada sedikit kesalahan dari dirimu. Ia mungkin akan berkata: ”Aku tak pernah melihat kebaikan sedikitpun dari dirimu”. Yah, itulah perempuan. Seperti lagu yang selalu kukidungkan untuk mereka, Lima Kaca Berdebu Perempuan ibarat kaca yang berdebu. Jangan terlalu keras membersihkannya , karena ia akan mudah retak dan pecah. Jangan terlalu lembut membersihkananya , nanti ia mudah keruh dan ternoda. Ia bagai permata keindahan. Sentuhlah hatinya dengan kelembutan. Ia sehalus sutra di awan. Jagalah hatinya dengan kesabaran. Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalu memanjakannya Tegurlah bila ia tersalah, namun janganlah lukai hatinya…”
Senjatanya adalah cinta dan air mata. Cintanya tanpa syarat. Air mata, ekspresi jiwanya. Ia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Ia penuh kasih sayang.
Perempuan pengobat rindu, dikala Adam merasa kesepian tanpa pendamping di surga maka diciptakanlah Hawa untuknya sebagai pelipur lara.
Aku memujamu, tapi sayang kini kau terpuruk di tengah badai mode yang kian marak, berlomba-lomba menjadi trend setter bak artis tenar. Terlalu tebal topeng di wajahmu itu. Kau telah termakan oleh bualan media dan dunia gemerlap. Kau lucuti hijab dan jilbabmu. Kini kau tak lagi sama, tak cantik seperti biasa. Kau hanyut dalam sanjungan para kumbang yang mengelilingimu, membiarkan mata para penyamun menjajaki liuk tubuhmu, maka jangan salahkan mereka jika terjadi hal yang tak kau inginkan. Kau yang mengundangnya! Berbuatlah sesukamu jika kau tak punya malu. Wahai perempuan kau begitu mahal!
Kau bak istana. Bagaimana istana bisa terlindungi tanpa penjaga? Bagaimana rumah tanpa pintu dapat terpelihara?  Jagalah dirimu! Persembahkanlah dedikasi penuhmu untuk hidup yang berharga ini! Warnai dunia dengan warna terindah yang kau miliki. Gapailah citamu setinggi langit dicipta!
“Wahai perempuan disaat orang tertidur maka bangunlah, disaat orang terbangun maka berjalanlah, disaat orang berjalan maka berlarilah, disaat orang berlari maka terbanglah, dan disaat orang lain telah terbang, kau pasti telah sukses!” Percayalah! Bukankah di balik kesuksesan orang-orang besar, pastilah ada perempuan?
Aku tetap memujamu karena kau begitu mulia.


Makassar, 27 Februari 2010
Kupukupubiru

Sabtu, 27 Februari 2010

Persembahan untuk Teman [2]

MALAM INI

Malam ini…
Aku merasa dibutuhkan kembali oleh makhluk-Nya
Sudah lama aku merasa tak berguna untuk siapapun
Mungkin terlalu peduli dengan diri tapi tampak terlilit duri
Hingga terenyuh pada diri hanya melihat dengan setengah hati

Lelah…
Lelah jiwa ini menapaki hari, serasa dunia milik sendiri dan lupa diri
Mungkin terlalu cantik merias diri lalu lupa pada saudari
Aku terlalu lama tak menyadari ini

Malam ini…
Aku telah kembali pada diri akan hakikat menjadi makhluk sosial
Memberikan manfaat untuk makhluk-Nya
Menorehkan senyum indah pada bibirnya
Cahaya memancar dari wajahnya
Aku melihatnya begitu bahagia

Yah malam ini …
Aku persembahkan dedikasi diri untuk makhluk-Nya
Aku kan tidur dengan nyenyak
Karena malam ini aku merasa senang bisa membuatnya tersenyum

Tulisan ini kupersembahkan hanya untuk makhluk-Nya
Makhluk yang bernama manusia

Malam ini…
Kan kututup dengan ucapan
Terima kasih teman!


Mks, NE 23 9:50 pm
kupukupubiru

Persembahan untuk Teman [1]

Teruntuk Orang tuaku yang selalu Ananda cintai dalam relung hatiku yang terdalam…
Ibarat sinar mentari begitulah kasihmu sepanjang zaman tak akan terbalas teruntai begitu indahnya
Ananda haturkan terima kasih atas segala kasih sayang yang sedari kecil telah diberikan dengan tulus,
Setiap doa yang terlantun untuk Ananda menjadi pelipur hati dalam langkah.
Tanpa cintamu bagai taman tak berbunga.bagaikan malam tak berbintang
Duhai Rabbi sejahterakanlah Bapak dan Ibu dengan nikmat-Mu yang tak pudar ditelan masa.

Teruntuk Sauadaraku yang kusayangi karena Allah.
Tanamlah Cinta dalam hati
Biarkan Ia bertahta dalam singgasana-Nya
Ukirlah dengan pena, terjalin kuat di dasar jiwa
Yakinlah bahwa kita kan selalu dalam dekapan-Nya dan hanya kembali pada-Nya

Teruntuk Anak-anakku
Dengarlah senandung Ibunda tercinta
Karena Surga terletak pada dua telapak kakinya
Dengarlah dendang dunia
Raihlah Cita setinggi langit dicipta!
Sayang…kau begitu spesial…

Tulisan ini kupersembahkan untuk temanku “Fira” dalam lembar persembahan skripsinya.
NE 23, pk. 08.00 pm

BIRU ITU AKU


Biru itu Cantik, kataku.
Entah sejak kapan kutergila-gila dengan Biru
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hatiku telah menyatu dengannya.
Biru itu Nyawaku.
Biru itu Hidupku
Biru itu Udaraku, Nafasku
Tak ada yang boleh merenggutnya dariku, kecuali Kau tempat kembalinya Aku dan Biru.
Pemilik Semesta Alam Pemilik Aku dan Biru
Maka kan kuserahkan hidup matiku untuk-Mu
Bukan pada yang lain yang dapat melalaikanku.
Begitupun Biru.

Biru itu Cantik. Itu kataku.
Tapi dia berkata lain, dia bisikkan ke telingaku bahwa Biru itu bukan cantik,
tapi Biru itu suatu rasa yang tak dapat dilukiskan lewat kata.
Di sini! Dia menunjuk debar itu
Dia ingin merubah Biruku
Aku memberinya peluang untuk membuktikan bahwa biru bukanlah cantik, tapi seperti yang ia katakan.
Debar itu hampir memenuhi rongga dadaku meluluhlantahkanku
Menusuk sukmaku membawaku terbang dengan bianglalanya

Biru itu debar? tanyaku
Senyumnya mencibirku berubah menjadi gelegar tawa
Biru itu Kelabu
Biru itu Mati! jawabnya
Tidak! Kau tak dapat merubah Biruku.
Biru Tak kan Mati

Biru itu tetap Cantik
Kau tak dapat menghapusnya dari ragaku
Kuteriakkan lantang bahwa Biru itu Aku
Aku telah lama mengenalnya sebelum kau tahu apa itu Biru.
Warnaku, Kepakanku, Sayapku
Aku bermetamorfosis menjadi Biru
Kau tak tahu dan takkan pernah tahu
Biru itu Aku


Mks, Ne 23
27 Februari 2010 
Ba’da magrib

Selasa, 23 Februari 2010

Estafet Titik

Kelak!
Kan kuurai menjadi titik-titik lainnya

Jangan kau ragu!
Wahai Jiwa yang penuh dengan tanya!
Penantian itu kan berujung di sana

Tak perlu jawaban
Tak perlu ratapan
Tak perlu tangisan

Yang ada hanya senyuman
Yang ada hanya mata berkilauan
Yang ada hanya keyakinan

Harapan?
Yah, karena harapan membuatku hidup lebih lama
Melawan badai amarah

Kelak!
Aku semai titik-titik itu di setiap detik
Hingga hujan rintik-rintik
Mengguyur rasa yang memekik
Menyulam masa yang siap kupetik dari tangkai pohon romantik

Titik-titik itu kan terurai
Menjulurkan tongkat estafet pada titik-titik lainnya

Biarkan ia melanjutkan perjuangannya!



PK 7 Tamalanrea
pk.9.55 pm
kupukupubiru

Rabu, 17 Februari 2010

"Kepak Sayapku"


Kepak Sayapku

             Aura Tabo-Tabo masih terpancar dari diriku. Tepat tanggal 11 Januari 2010, satu hari setelah TOR FLP diselenggarakan, jemari ini dengan lincahnya menggoreskan pena di atas lembaran kertas. Perasaanku menggebu. Dua essai sebanyak 2,5 lembar kukhatamkan dalam waktu kurang dari lima jam . Tak seindah penulis tenar, tapi tulisan itu kubuat dari binar-binar cahaya. Sederhana tapi sepenuh hati! Tak semua orang memiliki itu!
            “ Dalam Diam Ada Cinta” Tulisan pertama yang aku buat untuk kakak iparku, Andi Mulya Arfan. Bercerita tentang kegigihan dan perjuangannya meminang Kakak sulungku Sukma Dewi dengan syarat yang  ditentukan oleh keluarga kecil kam yang telah mendarah daging  yaitu “Panae’”. Hidup berpisah setelah akad terucap sudah.
            Tulisan kedua “Kado Terindah Tabo-Tabo” Menggambarkan kenangan yang terukir indah di Tabo-Tabo, dan merupakan awal keyakinanku pada slogan “Tak Ada Bakat, Minatpun Jadi!”. Tulisan yang berada di hadapan pembaca saat ini merupakan lanjutan dari tulisan Kado Terindah Tabo-Tabo, tetapi dengan judul yang berbeda yaitu “Kepak Sayapku”
            Tulisan selanjutnya tak selancar seperti dua essai sebelumnya. Dari beberapa tulisan yang ada, terdapat dua tulisan yang sulit  terselesaikan dan perlu beberapa kali pengeditan  yang menurutku terbilang lama. Salah satunya, puisi yang berjudul ”Jangan Panggil Aku Elang!”dan yang kedua berupa cerpen “Coklat Palenten Aqso”. Tapi pada akhirnya tulisan itu pun telah pada puncak penantian dengan hasil yang menurutku memuaskan dan kini Aku mencoba untuk mengirimkan salah satu tulisan tersebut ke media. Doaku, semoga diterbitkan!
***
            HP. Benda mungil yang selalu menemaniku. Di kamar, di atas becak, di pete-pete, di saat menunggu, saat berjalan, menjelang tidur, di kala suka dan duka melanda dan kala mata merekam suatu kejadian. Kuabadikan dalam notes sederhana yang tersedia dalam hp mungil ini.
            “Teruntuk Sang Aku”, “Catatan Hati Kekasih”, “Jangan Panggil Aku Elang!”, ”Coklat Palenten Aqso”, ”..IS”, “Lantunan Syair Wanita”. Semua bermula dari ketikan huruf pertama dalam benda ini. Terangkai kata dalam kalimat, kalimat dalam bait, bait mencipta karya.
            Tapi, sering kali Aku menemukan jalan buntu, saat mata merekam dengan sempurna, saat rasa terlalu peka, saat pikiran begitu cepat menyusun rangkaian kata,  jemariku tak mampu menguasai itu semua. Teralalu cepat! Aku tertinggal, terlampau jauh untuk mengejarnya. Kabur…Tak terkontrol.Kabel-kabel impulsnya terputus dan dalam hitungan detik menghilang dari imajin. Tulisanku terhenti.  Hanya semu yang tersisa.
            Inilah saatnya api peperangan berkobar. Perangpun dimulai ! Aku kalah! Kalah dalam pertarungan! Kudengar lirih kematian. Rasa pesimisku berkata:
            ”Tulisan ini mungkin diselesaikan tapi sulit”, maka secepat kilat kan kuciptakan penawar untuk memusnahkannya.
            Optimislah Wahai Jiwa! ”Tulisan ini memang sulit diselesaikan, tapi itu mungkin!” Kutemukan kehidupan!
            Bicaralah dengan kerja! Hiduplah dengan ceria dan kreatifitas! Cerdaskan jiwa agar bahagia! Sebuah motivasi yang kupetik dari sebuah buku kecil bersampul merah dengan  gambar tangan mengepal. Bertuliskan “Deadline Your Life!
            Membuka hati dan mata yang hampir saja mati mendahului ajal yang telah ditetapkan. Semangatku telah kembali. Puing-puing asa kususun dalam bingkai harapan. Kubiarkan menyala!
***

           
Jembatan inilah yang mengantarku pada simpul–simpul positif, terjalin menjadi sebuah ikatan kuat dalam jiwa yang haus akan sebuah pencarian jati diri.
            “Siapa Aku?”
            Aku Raja! Tulisan membawaku berimajinasi tanpa batas. Sesuai inginku. Aku yang memegang kendali.
            “Siapa Aku?”
             Aku adalah seekor kupu-kupu yang selalu ingin mewarnai dunia dengan warna terindah yang ia miliki. Itulah Aku! Aku mencari warna itu dan kini kumenemukannya! Kebebasan mengeksprikan warna diriku.
            Dalam tulisan, Aku melihat diriku. Cerminan hatiku. Tulisan membawaku terbang tinggi. Bebas! Mengepak sayap , menari di atas taman surga yang subur.
            Akhirnya Aku mulai tersadar dari lamunan panjang akan cita dan asa yang selama ini kuimpikan.
            Gamang!
            Meradang, menerjang karang!
            Aku datang menebar bintang!
            Wahai kawan dengarkan syair yang kudendangkan!

“Butterfly terbanglah tinggi setinggi anganku menjadi penulis…”


Makassar, NE 23
 Sabtu, 13 Februari 2010
Pk.17.55

"O" Warnaku...

“O” WARNAKU

Setelah membaca blog milik Kak Aryanto from Bima, aku putusin untuk COPAS alias copy paste tulisannya ini yang dengan sengaja Beliau Copas juga dari link lain. COPAS di Copas? Penulisnya tuh Edwin Ferdian,.Tau ga siapa? Kalau Aku yang ditanya, jawabanku jelas banget: “Ga tau tuh!”
Tapi afwan (afwan=maaf) ya Kak ga minta ijin dulu. He…he…
Yang aku copas cuman golongan darahku aja ko.
Ok deh mo tahu golongan darah O itu kaya apa?


Let’s go!
Katenye sih…O itu…

Berorientasi pada tujuan dan memiliki perspektif
Memiliki keinginan yang lurus dan tulus
Ingin sekali menyenangkan hati orang lain
Sangat benci kekalahan
Tidak suka dikontrol
Cenderung Romantis dan memberikan kasih sayang sepenuhnya, walaupun terkadang tidak terlihat
Memutuskan sesuatu berdasarkan Fakta
Pemikirannya jauh dari hal-hal berbau Negatif
Pembuat Persahabatan dan mengenal arti persahabatan
Suka akan Cinta yang berwujud Kontak Fisik
Sangat berhati-hati terhadap orang yang bukan Teman
Sayang terhadap milik Pribadi
Menonjolkan diri sendiri dan Mengekspresikan diri dengan Kuat
Mahir menggunakan dan mengolah Bahasa yang baik
Memiliki Prinsip dalam Bertindak
Memiliki Mimpi, Visi dan Ambisi yang melampaui Zamannya
Memiliki Kesadaran Sosial yang Tinggi
Memiliki Naluri yang Alamiah untuk selalu berada pada Titik Maksimum
Memikirkan Keluarga dan bertanggung jawab kepadanya
Mudah Grogi dan kalau sudah begitu cenderung Temperamental pada Lingkungannya

Udah pada bacakan karakter golangan darah O.
Sekarang waktunya tuk ngomentarin, apa sesuai dengan diriku ya…
Setelah dilihat, dipikir-pikir, ditimbang-timbang and dicermatin akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa: banyak benernya, rupanya banyak yang sama ma karakterku.

Tapi, ada tapinya lo…
Aku tuh ga benci banget ko yang namanya kekalahan, kan wajar-wajar aja .
Kalah ma menang, bunga kehidupankan? Lah wong Allah cuman lihat prosesnya ko. Istiqamah ato tidak. Betul?
Terus pada poin ke 9 tentang persahabatan, sampai sekarang aku ga dapet-dapet tuh ma sahabat yang bener-bener sahabat. Susah banget nyarinya. Jangan2 dianya lagi main sembunyi-sembunyian yah. Ato Allah belum nunjukin jalan ke rumahku ya, jadinya dia nyasar ke rumah orang laen ato jangan-jangan Allah simpenin dia di surga. Ato….? Banyak banget atonya. Intinya keep husnudzan aja ma Allah.
Terus, aku bukan orang yang sangat berhati-hati ma orang yang bukan temen. Aku mah supel banget kali. He..he… ke PD-an ya? Tapi mang bener, Aku mudah percaya ma orang. Asal Ia baik ma aku maka tunggu aja aku bakal baik juga ma dia. Sangking baiknya, sampe-sampe banyak orang yang nyalahin maksud and kepercayan aku ma dia. Weleh…weleh…tega banget mereka. Husss…ga boleh ghibah tau!
Ok, selanjutnya…mahir menggunakan dan mengolah bahasa yang baik? Apa bener ya? Ga bener tuh! Bahasaku kocar-kacir. Tulisan ini buktinya!
And the last, Aku ga sepatu banget alias ga setuju and ga sepakat banget kulau aku termasuk golongan orang yang mudah grogi and temperamental ma lingkungan. Ga Gue banget!

N selebihnya… Bener!
Yup! It’s my Colour!
N “U”?

Makassar, NE 23
15 Februari 2010