Oleh: Khaulah Al-Fitri*
Suatu hari aku makan di sebuah kafe. Pesan sepiring nasi campur dan segelas teh manis. Nasi campurnya campur-campur. Nasi, ayam, sayur.
Lalu tiba-tiba, nasi, ayam dan sayur itu bergerak-gerak! Mereka tiba-tiba punya kaki, mata dan mulut. Mereka melompat-lompat, memelototiku lalu berteriak-teriak
“Uang! Uang! Uang! Mana Uang?!”
Aku terperanjat. Perutku mual. Laparku hilang.
“Uang! Uang! Uang!”
Kurogoh kocek di celanaku. Selembar uang seratus ribu menggigit tanganku. Gigitannya kuat sekali, mengerat dagingku. Dia menggigit hingga putus jari-jariku!
“Kini kumakan kau”, uang seratus ribu menyeringai puas.
Perih. Perih sekali. Aku menangis. Aku menegrang! Lalu tangisanku menjadi air mata uang! Koin-koin seribuan menetes-netes dari mataku. Lalu jatuh ke piring nasi campurku.
Nasi, ayam dan sayur tambah melompat-lompat. Kali ni mereka bersorak
“Uang! Uang! Uang! Banyak uang!”
Lalu tiba-tiba langit mendung. Awan-awan gelap mengepung kafe itu. Memang berita di radio kemarin berkata “Besok akan hujan. Hujan uang!”
Ramalan itu benar.
Ribuan koin seribuan berjatuhan dari awan-awan gelap itu. Lembar-lembar uang seratus ribuan melayang seperti badai.
Aku senang. Semua orang senang. Bahkan nasi, ayam dan sayurku juga senang.
Ribuan orang berbondong-bondong menyerbu kafe itu. Mereka membawa payung yang dibalik tudungnya. Ada juga yang membawa baskom dan panci.
Ini peristiwa bersejarah!
Baru kali ini ada hujan uang!
Ratusan wartawan langsung datang ke kafe itu. Mereka meliput peristiwa hujan uang. Mereka memotret, merekam, dan mewawancara.
Aku bertanya pada mereka “Kenapa kalian tidak menampng uang saja?”
Mereka menjawab “Kami hanya butuh berita, bukan uang!”
Aku manggut-manggut. Lalu menangis lagi. Menangis uang.
Seorang wartawan bertanya pada pemilik kafe
“Kenapa hujan uang bisa terjadi di kafe Bapak?”
Pemilik kafe tidak menjawab. Dia terlalu sibuk mengumpulkan uang sambil menangis. Menangis uang.
Wartawan itu juga bertanya pada nasi, ayam dan sayurku. Tapi mereka juga tidak tahu. Mereka hanya melompat-lompat sambil bersorak “Uang! Uang! Uang!”
Lalu wartawan itu mendongak. Melihat ke langit mendung dan awan-awan gelap itu. Tiba-tiba dia terperanjat! Sambil menunjuk-nunjuk ke langit
“Lihat! Ada mata di awan itu!!”
Dia berteriak-teriak. Aku tidak peduli. Orang-orang juga tidak peduli. Hanya para wartawan yang peduli. Merek memotret mata-mata itu. Ada dua pasang mata di sana. Mata itu menangis. Rupanya tangisan mata-mata itulah yang menyebabkan hujan uang ini.
“Hei! Siapa kalian??” wartawan itu berteriak lagi.
Lalu para pemilik mata itu menampakkan dirinya.
Para wartawan kaget sampai terjungkal-jungkal melihat para pemilik mata itu.
Mereka adalah Keynes dan Smith. Baru kali ini mereka akur dan kompak. Kompak menangis
“Kenapa kalian menangis uang?” Tanya wartawan itu.
“Kami menangis uang karena menyesal telah memberikan arti pada uang”, Keynes dan Smith tersedu-sedu. Uang-uang terus berjatuhan dari mata mereka.
Para wartawan segera menyiarkan berita itu. Peristiwa hujan uang menjadi headline di semua Koran dan TV. Hingga berita itu sampai di telinga pemerintah.
Pemerintah panik!
“Kalu hujan uang dibiarkan, maka rakyat akan mengalahkan kekayaan kita!”
Maka pemerintah memerintahkan Ahli Klimatologi, Ahli Geografi dan kawan-kawannya untuk menghentikan hujan itu. Tapi mereka tidak sanggup.
Lalu pemerintah menyuruh pawang hujan, dukun santet dampai dukun beranak, tapi mereka tidak mau disuruh. Mereka sudah punya banyak uang.
Maka hujan uang pun tidak berhenti-berhenti. Hingga kafe dan seluruh kota jadi kebanjiran uang.
Aku, nasi, ayam, sayur dan orang-orang mulai tidak suka. Kami muak.
Lalu uang-uang itu menjadi lautan. Kami tenggelam.
Blurp..! Blurp..!
Ah…
Rupanya kami belum mati. Untunglah, semua orang berhasil menyelamatkan diri. Semua orang jadi senang karena hujan uang sudah reda.
Aku tiba-tiba telah mendapati diriku di kafe itu lagi. Perutku lapar sekali. Aku pesan nasi campur dan es teh manis. Meski sederhana, tapi itu adalah menu favoritku.
Nasi, ayam dan sayurku tidak melompat-lompat lagi. Aku gembira karena bisa memakan mereka.
Jari-jariku utuh lagi. Lalu kuraba uang seratus ribuan di kocekku. Dia sudah tidak bergigi. Aku tersenyum bahagia. Lalu ku katakan pada uang itu
“Uang, aku berjanji, tidak akan memakanmu lagi”
[Nda]
--Sederhana, B11, pertengahan Oktober 2008
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, angkatan 2005
ILMU JARH WA TA’DIL (Mata Kuliah : Ulumul Hadits)
6 tahun yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar
Ojo lali dikomen yo...!!!