Tampilkan postingan dengan label Cerpenkupu2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenkupu2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2010

"TUHAN, IZINKAN IA MATI"

 TUHAN, IZINKAN IA MATI


Oleh: kupukupubiru*
            
“Kau dengar?” tanyaku ke pada hati yang hampir mati.

            Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...! Terdengar  tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!

            “Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa, hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.

            “Entah, siksaan apalagi yang Bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.

            Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putih yang semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya.

            “Byur....byur...” dan kembali tercebur.

            “Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan menjemputnya.”

            Ia tegar! Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam.

            “Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu.” tanyaku pada emosi yang memuncak.

            Setiap pulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring bekas sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dikerjakan dengan sempurna, tapi Puang tetap saja mencari-cari cela atau kesalahan untuk bisa menghukum si Bungsu.

            Buyarkan mimpi si Bungsu kecil yang dekil.

            "Cepatlah!" hardik Puang dengan kasarnya.

            Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si bungsu.

            "Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali.

            Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Puang memulai ulahnya lagi.

            "Tuhan, izinkan ia mati!" pintaku pada-Nya.

            Sungguh, aku tak kuasa mendengar erangan si Bungsu, terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.

            "Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biarkan malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.

            Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.

            Biarkan ia tidur! Kini dan selamanya....

***

            Kebisuan membawaku terbang menerjang kelam dua tahun silam. Gara-gara mereka! Mereka tak bertanggung jawab telah merampas kebahagianku. Suamiku bersimpah darah hari itu. Mereka menghancurkan hidupku. Tidak! Bukan hanya hidupku tapi hidup banyak orang , masyarakat menderita karenanya.

            Mentari tersenyum menyambut pagi yang cerah di Kota Daengku. Aku, Ayah, Sulung, dan Bungsu bersiap-siap untuk berangkat bertamasya ke Malino. Sudah lama si Bungsu ingin menginjakkan kakinya di tempat itu. Tempat yang ia idamkan sejak duduk di kelas tiga SD. Mobil tua peninggalan orang tuaku menjadi saksi perjalanan kami. Toyota sedan berwarna biru tua yang telah pudar   termakan  usia , tak seindah dulu, meski begitu mobil itu tetap  terlihat cantik.  

            “Tlilit…tlilit…” bunyi HP Ayah dari kantong kemeja garis-garis putih yang ia kenakan. Seketika wajahnya berubah, dahinya berkerut, menampakkan kekecewaan yang dalam. Aku tahu bahwa liburan ini akan batal lagi untuk sekian kalinya.

Ayah bekerja sebagai pengaman kampus. Posisinya telah naik tingkat menjadi ketua pengamanan setelah tujuh tahun mengabdi di kampus itu.

            “Tawuran di kampus lagi?” tanyaku yakin padanya. Anggukan kecil darinya menandakan hal itu benar. Anak-anak hanya diam, duduk lesu di kursi belakang.

            “Kampus ricuh, mahasiswa melanjutkan aksi Anti BHP-nya di depan rektorat dan memblokir jalan masuk ke kampus. Tak sempat lagi untuk pulang, kita langsung ke sana! Ibu dan anak-anak ikut saja! Anak-anak pegangan yang kuat, ya!”

             Tak butuh waktu lama, Ayah mengalihkan perjalanan kami membanting setir melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah kampus terkenal itu.

***

            Semenjak kejadian itu aku mengalami kelumpuhan. Shock! Terbaring lemas dan bisu di atas ranjang reyot. Sedangkan Puang menyalahkan si Bungsu atas kejadian hitam itu. Meluapkan kemarahan padanya.

“Gara-gara kau! Ayahmu meninggal. Mencarimu di tengah keramaian berandal-berandal itu. Mengapa kau keluar dari mobil? Mengapa? Mengapa?”
“Kau tak mengindahkan perintah Ayahmu! Dasar anak nakal!” Amarah menguasai diri Puang, hanya suara tamparan yang terdengar dari bilik sebelah.
Kalimat itu yang kerap kali ia tudingkan pada Bungsu. Aku kasihan padanya.

Kasihan?”  Itu tak mengobati apa pun. Tak bisa menggantikan apa-apa.

            “Bunda, Bungsu akan merawatmu! Jangan ragukan Bungsu, Bunda! Bunda tetap berdoa ya, agar Ayah  dan Kakak hidup bahagia di sana. Pasti mereka sudah berada di surga yang indah. Tersenyum melihat Tuhan. Bungsu tahu, Bunda masih rindu pada Ayah dan Kakak, tapi biarkan mereka tenang.” Bungsu meneduhkan hatiku.

            “Ya Tuhan tak sepantasnya aku meminta kematian untuk si Bungsu. Dia begitu tegar mengahadapi hidup ini. Tak serapuh aku yang hanya bisa diam terpaku dan menyesali masa lalu.” Rasa penyesalan menggayutiku.

            “Ya Tuhan, aku ibu yang jahat! Aku hampir saja membunuhnya dengan doa beracunku. Bukankah doa seorang ibu yang terzholimi pasti Kau dengar dan ijabah? Aku khilaf!” Tak hentinya aku menyalahkan diriku.

            “Aku tak akan lagi melukainya, Tuhan. Bungsu terlalu lugu untuk mengerti makna kematian. Biarkan ia bertahan melangkah menapaki jembatan kehidupan!”

            Ya, aku akan merelakan Ayah dan Sulung, tenang dengan-Mu, Sang Maha! Tapi aku tidak akan tenang sedikit pun, akan tetap menyimpan dendam pada  mereka yang telah merenggut pelita kami. Biarkan munajatku tetap  kudendangkan untuk mereka yang tak lebih mengerti akan arti sebuah nyawa yang telah dirampasnya. Nafsu telah menguasai dirinya, menggerogoti pikiran busuknya. Putih menjadi merah!

“Atas nama rakyat! Turunkan mereka!”

“Bunuh para bajingan, si Tikus Kampus! Kalian merampas hak kami!”

“Kalian maling!”      
“Kami menggugatnya! Cabut segera!

            Mereka pintar berdalih. Seakan-akan mereka adalah yang paling benar dan suci menyuarakan keadilan. Ha…! Apa harus dengan kekerasan dan kekacauan untuk menikam para tikus yang kau teriakkan dengan lantang? Maling teriak maling! Bukankah kau sama saja dengan mereka?

Anarkis! Itu yang terjadi. Tepat di depan lampu merah jalan masuk kampus, perjalanan kami terhenti. Sesak! Kau salah sasaran! Menyerang membabi buta dengan tangan mengepal kau angkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga kau lempar batu ke arah kami. Setelah itu kau lari terbirit-birit bersembunyi di balik dinding tinggi. Meninggalkan jejak-jejak darah di hadapan kami yang teraniaya. Darah mengucur deras dari kepala Ayah,  dan Sulungku. Kau hujamkan tajam batu-batu itu tepat di tubuh mereka berdua. Mereka terkapar terinjak-injak dalam massamu. Mobil kami dilahap oleh api yang kau sulutkan. Bungsu merintih ketakutan di balik pohon. Teriakanku kau abaikan dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

            Akankah kalian bertanggung jawab atas kejadian itu?

            Penjara dunia tak pantas untukmu, karena kau menyumpal mulut para abdi negara yang silau akan kuasa dan uang. Kau bebas! Tapi, penjara lain akan menunggumu. Kelak maut akan meregang nyawamu dengan keras. Menebasnya  dengan kapak kegelapan.

            Kebrutalanmu telah menyengsarakan banyak orang. Jangan kau buat negara menjadi semakin malu, menanggung beban atas ulahmu! Cepatlah bertaubat wahai penerus generasi bangsa! Jika tidak, inilah lantunan doa yang akan kupersembahakan untukmu,  Tuhan, izinkan ia mati!
            Dan anakku, Bungsu. Tetaplah tegar bagai karang dihempas ombak! Kau tahu? Doa itu kini telah kulantunkan untuk mereka yang telah merampas kebahagianmu. Kebahagian kita. Bungsu, doa itu bukan untukmu lagi. Bukan! Karena Tuhan begitu menyayangimu.


Pangkep, Awal  2010

*Salah satu mahasiswi Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin




Minggu, 28 Februari 2010

"Mata Ketiga Cowok"


MATA KETIGA COWOK
Oleh: kupukupubiru*

“A….a….. Takut! Jangan cepet-cepet dong!”
“Iya, pelan-pelan aja. Jangan ngebut!”
“Blue, kita semua belum mo mati tau!”
Tiga perempuan yang berteriak histeris saat Blue menyetir mobil di jalan curam dan  berkelok-kelok menuju Bone. Camba.
“Ye…malah pura-pura ga denger. Dah pada mabok nih!” Yeti semakin kesal
“Kita yang di belakang kaya’ main playstasion aja” ujar Nuri yang mulai mual saat itu.
“Wue…wue….” dan akhirnya malah Tini yang muntah duluan.
Yah itulah situasi yang membuat para perempuan di kursi belakang terpojokkan, mereka dibuat naik pitam. Darah mereka mendidih ingin menikam Blue dari belakang yang dengan tenangnya masih menyetir ala pembalap mobil no.1 di dunia.
“Blue, sudahlah! Kasihan mereka. Hati-hatilah kalau nyetir” Imbuhku, berusaha merayu meluluhkan hatinya.
“Iya..iya, napami seng!” jawaban ketus darinya dengan gaya bahasa Makassarnya yang masih kental dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Untunglah ia mendengarkanku kali ini, menurunkan laju kendaraannya sambil cengar-cengir sendiri.
“Dasar Blue gokil!”ujarku dalam hati.
Sebenarnya aku juga mulai geram dengan tingkahnya seperti anak kecil. Ego! Nggak mau nagalah, nggak mau dengerin pendapat orang lain, mementingkan diri sendiri. Kesal! Tapi, itulah Blue. Jangan panggil ia Blue jika nggak gokil, cerewet, dan multitalenta alias bisa buat orang ngambek seketika, tertawa oleh banyolan dan ulahnya yang lucu.
            Rupanya rekaman itu masih membekas di ingatanku. Walau kejadiannya sudah lima bulan lamanya, saat rombongan kami ingin menghadiri pesta pernikahan senior yang dirayakan di kampungnya Bone. Banyak kisah seru saat itu. Yah salah satunya cerita di atas.
            Aku heran mengapa ada laki-laki yang setega itu. Bukan hanya tiga perempuan yang duduk di kursi belakang saja yang terkena damprat ulahnya, tapi seisi mobilpun pada kesal dibuatnya, termasuk si Doni yang duduk di sampingnya kala itu.
            Aku mulai mencari-cari jawaban atas kebingungan dan pertanyaanku pada laki-laki setelah kejadian itu. Setelah kuperhatikan dengan cermat dan seksama, bukan Blue saja yang memiliki sifat itu, tapi Pak Riko juga teman sekantorku. Lebih tepatnya petinggi selevel direktur. Aku baru ingat bahwa sudah dua kali aku numpang di mobilnya setelah pulang dari acara makan-makan kantor bersama istri dan anaknya. Pak Riko malah lebih parah lagi. Ngebutnya dah dari bawaan kali. , tapi betul-betul lincah. Sepertinya punya indera keenam. Aku ingin sekali berteriak kencang dan melarang beliau seperti yang pernah kulakukan pada Blue tapi nggak enak juga, terpaksa diam saja menahan sakit di dada atas ketakutan yang kurasa. Beristighfar dalam hati sedikit mengobatinya. Sedangkan istrinya menikmati pejalanan itu. Tenang tak bergeming. Mungkin sudah terbiasa.
            Ada apa dengan hobi laki-laki yang suka ngebut? Mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membuat jantung berdetak lebih cepat di atas ambang rata-rata. Setelah sekian lama aku mencari, tepat sebulan dari kejadian itu aku menemukan jawaban atas kebingunganku terhadap sifat aneh yang dimiliki oleh laki-laki.     Akhirnya! Alhamdulillah…Jawaban itu aku temukan dari sebuah buku best seller berwarna kuning,. tipis 124 halaman. berjudul Ta’aruf Forever karya M. Shodiq Mustika dan Krisna Rihardini, tepatnya pada bab “Mata Ketiga Cowok”
            Di bab tersebut diterangkan bahwa laki-laki memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan perempuan salah satunya adalah lihai dalam mengemudi di jalan raya.
“…sebenarnya, tingginya kecepatan mengemudi mereka tuh nggak sengeri yang dibayangin orang. Dengan adanya mata ketiga, cowok akan mudah mempertkirakan gigi persneling, kombinasi rem dan pedal kecepatan waktu di tikungan…” Begitulah bunyi pendapat yang aku kutip dari buku tersebut.
            O…gitu yah! Katanya mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah keasyikan tersendiri, asalkan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada.
            Semenjak kejadian itu, aku mulai sadar bahwa selama ini aku masih belum tahu banyak tentang kaum Adam walau aku dibesarkan oleh seorang Bapak dan memiliki kakak laki-laki yang menyayangiku saat ini. Laki-laki penuh lika-liku juga.
            Aku bertekad harus lebih banyak belajar mengenai mereka. Hingga suatu saat nanti tak akan ada salah paham dan cekcok seperti kejadian di atas.
            Sebaiknya bukan hanya laki-laki saja yang mau dimengerti tetapi mereka juga harus lebih mengenal sosok perempuan.  Karena perempuan lebih ingin dimengerti. Jadi sepatutnya kita -laki-laki dan perempuan- memahami karakter masing-masing seperti pesan yang ditujukan untuk kaum Adam di muka bumi ini dalam buku tersebut yang berbunyi: ”Di sisi lain, andaikan kamu cowok ingin lebih dihargai cewek, jangan kebut-kebutan di depan mereka ataupun ngebut ketika mengendarai kendaraan yang penumpangnya ada ceweknya . Keahlianmu mengemudi gak bakal bikin terkesan. Bisa-bisa dia justru mencibir, menyangka kamu orang yang tak peduli akan keselamatan orang-orang!”  
            Nah loh!  Kalau begitu baiknya kita gencarkan gerakan ta’arufan forever karena tak kenal maka tak sayang! 
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta’arufu (supaya saling kenal mengenal).”Hujurat(49):13 
                                                                                                                            Makasar, NE 23
27 Februari 2010                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 


Minggu, 07 Februari 2010

COKLAT PALENTEN AQSO

 


“COKLAT PALENTEN AQSO”



“Bu Gulu! Bu Gulu!” rajuk seorang anak cadal yang kini menarik-narik bajuku.
Aku hentikan sejenak aktivitas yang sedang kulakukan di pagi ini. Mencondongkan tubuh, mendekat, dan berbisik pada anak laki-laki yang hiperaktif, yang tak suka tidur siang, dan hobinya bertengkar dengan anak Ibu Kepala Sekolah yang bernama Raihan itu.
“Iya sayang, ada apa? Ada yang bisa Ibu bantu?”  Sambil kuusap rambut hitam ikalnya.
“Aqso mo tanya Bu” jari telunjuknya ia acungkan tinggi.
“Iya silakan! Ibu guru akan mendengarkan asal Aqso menaruh tasnya dulu di kelas ya…!
Sebental aja ko, sedikiiit aja. Yah…! Yah…?” Gaya wajah memelasnya akhirnya ia pamerkan juga pagi ini.
“Anak ini memang berjiwa kolerik,” ujarku dalam batin.
“Ok deh! Tapi, kita buat perjanjian dulu ya?”
“Iya…! Iya Aqso sepatu, Bu Gulu!Sambil melompat-lompat kegirangan.
“Ko’ sepatu sih?” Tanyaku dengan heran padanya.
“Kata kakak Aqso, tiga hali yang lalu.”
“Ups…! Salah…! Salah! Labu, Selasa, Senin, Minggu,sambil mengangkat tangan kanannya dan mulai menghitung hari secara mundur.
“ O…! Iya…! Ya yang benel tuh. Empat hali yang lalu, Bu Gulu"  
Hm…! Hm…! Geleng-geleng aku dibuatnya. Aqso memang anak yang cerdas, daya ingatnya sangat kuat dibanding anak-anak seusianya.
Sepatu itu altinya sepakat dan setuju Bu Gulu, ia melanjutkan kembali penjelasan yang hampir terputus tadi.
“Janji sepatu ya Bu?”
Seperti biasa, Aqso selalu mendahuluiku. Tanpa komando, jari kelingking mungilnya langsung ia kaitkan di jari kelingking kananku.
“Iya, janji!” balasku.
“Sekarang Aqso cerita ya! Karena bel masuk sebentar lagi berbunyi, sayang.”
 Kila-kila belapa menit lagi ya, Bu Gulu?” Tak lupa jari telunjuk dan ibu jari kanannya membentuk pistol dan ia gerakkan silih berganti tepat di dagunya sambil mengerutkan dahi lebarnya. Gaya khasnya yang sok dewasa itu yang membuatku menahan tawa yang sejak tadi ingin kugelegarkan.
Aku lupa bahwa berbicara dengan Aqso haruslah hati-hati dan cermat. Ia anak yang suka dengan kepastian. Hitung-hitungannya jarang meleset. Jadi harus jelas kalau menerangkan sesuatu padanya, tak boleh ngambang. Kalau tidak, ia akan meluncurkan serangan balik tanpa henti. Aqso memang anak yang spesial.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangan kiriku saat ini.
Tiga belas menit lagi sayang” jawabku
"Oce deh Bu!"  
“Ibu guluku yang cantik…” Aqso mengedipkan mata tanda rayunya padaku. Pembukaan yang bagus tuk memulai cerita. Ia selalu mencoba menarikku dalam ceritanya. Kali ini apalagi yang akan ia tanyakan? Gumamku dalam hati.
“Ibu pelnah dengal Aqso?” Ujarnya spontan tapi penuh tanya.
“Hm…! Pernahlah! Kan sekarang ada di depan Ibu orangnya. Hayo…? Aqso mo main-maini ibu ya?”
“Bukan itu maksud Aqso, Bu Gulu!” Aqso menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Terus apa dong?”
Itu tuh. Aqso di Palestina ”
Kaget bukan main aku dibuatnya.
“Kenapa Aqso tanya soal itu?” Aku mencoba mencari tahu sebenarnya.
“Kasihan yah olang-olang di sana, Bu Gulu. Meleka kelapalan, lumahnya hancul, banyak yang mati dali tua sampai muda. Aqso sedih melihat meleka apalagi anak-anaknya. Anak-anak banyak yang ga punya papa, mama, dan kakak kaya’ Aqso di sini. Anak-anak di Aqso ga bebas, ga bisa sekolah, ga bisa belmain, ga bisa makan enak juga. Pasti meleka ga bisa makan coklat sepelti kesukaan Aqso. Aqso sedih Bu Gulu” Mata Aqso berkaca-kaca. Kini ia menengadah ke arah langit-langit kantorku. Berusaha membendung lelehan air matanya yang siap tumpah.
Ada apa dengan anak ini? Pertanyaan yang kusimpan dalam hati tak urung kulontarkan padanya. Beberapa pertanyaan telah meluncur kembali dari mulut kecilnya. Datang bertubi-ubi, padahal aku belum sempat menanggapi curahan hati sebelumnya.
”Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
“Kalau ada, lasanya sama ya ma coklat palenten (palenten=valentine) punya kakak Aqso?”
“Tapi, kalau nggak ada nanti Aqso suluh mama kilimin meleka coklat lewat pesawat papa deh. Papa Aqsokan pilot. Apalagi coklat kakaknya Aqso banyak banget! Tapi, kakak mah pelit! Aqso aja cuman dikasih satu yang bentuknya hati, Bu Gulu. Katanya sih ga cocok untuk anak kecil cocoknya tuh untuk olang dewasa aja!”
 “Jadi, Bu Gulu bantu Aqso ya? Bu Gulu sumbangin coklatnya ya untuk Aqso? Coklat dali pala penggemal ibu gulu. Ibu simpan di situkan? Telunjuknya menunjuk ke arah lemari berwarna biru milikku.
Telus…! Telus…! Bantu Aqso juga layu kakak Aqso untuk ngasihin coklatnya yang banyak itu.“ Celoteh Aqso tak bertepi.
Semangatnya menggebu melancarkan ide-idenya yang menurutku sangat langka. Aqso tahu persis para kumbang yang selalu mencoba dekat denganku. Wajar jika ia tahu karena Aqsolah yang selalu diminta untuk comblangin mereka denganku. Rata-rata hadiah yang mereka titip ke Aqso adalah coklat. Tapi ada yang mengganjal di pikiranku saat ini.
“Mengapa harus coklat Aqso?”
“Kata mama, coklat itu punya kandungan penilepeniletiaAduuuh! Apaan ya?“ Seraya memukul dahinya sambil mencoba mengingat kembali nama kandungan itu.
Ko jadi lupa! Padahal kemalin Aqso dah ngapalin belulang-ulang lo. Lupa ah...! Pokoknya bisa buat olang seneng dan dapat menenangkan suasana hati” terangnya.
Mama Aqso memang seorang dokter terkenal di kota ini. Mungkin maksudnya phenylethyalamin. Memang kandungan ini dapat menghasilkan dopamine. Memiliki efek yang dapat memunculkan perasaan senang dan perbaikan suasana hati.
”Jadi, teman-teman Aqso di Palestina bisa melasa tenang dan senang saat makan coklat, lupa papanya yang telah telbunuh di medan pelang, lupa mamanya yang entah ke mana menghilang, setidaknya melupakannya walau sedikit.” Celetuknya lagi.
“Wah, pasti selu! Palenten di Palestin pasti kelen habis! Iyakan Bu Gulu?”  Imbuhnya, senyum sumringah ia mekarkan dari bibir tipisnya. Tampak sederet gigi putih menghiasi senyumnya saat ini.
Ya Tuhan, celoteh macam apa ini? Mengalir begitu saja dari hati suci Aqso.
“Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
Palenten di Palestin, pasti kelen habis!
“Bu Gulu sumbangin coklatnya ya…!
Semua itu berdenging di telingaku. Dari mana anak laki-laki kecil usia lima tahun ini mendapatkan pertanyaan dan ide seperti itu? Sedangkan aku sendiri tak pernah memikirkannya apalagi jika aku harus menjawabnya. Haruskah kujawab? Aku tak mampu!
Desah-desah keputusasaan bertalu-talu dalam hati terbelenggu dan letih menanti penantian tak bertepi, tak kunjung henti. Di bawah benteng tirani nilai-nilai manusia telah mati terintimidasi oleh kerasnya hati.
Aku merasakan pembuluh darahku menyempit, terlilit masalah pelik. Kini darah itu hampir beku. Seperti darah mayat yang berserakan di tanah suci itu. Darah korban pembantaian, penindasan, dan penzholiman. Darah atas ruh yang tak berdosa. Darah bercucuran itu terbang menuju pembaringan yang mulia, tempat yang telah dijanjikan. Darah itu kan mewangi selamanya di tanah suci nan mulia, tanah Palestina. Ya Tuhan, perasaan apa ini? Serentak jantungku berdegup kencang. Kuraba, memastikan jantungku masih normal. Anak ini membuatku tersudut dalam ruang hatiku.
“Bu Gulu! Bu Gulu! Ko nangis? Ia menghapus bulir-bulir bening yang mengalir lembut di pipiku.
“Bu Gulu, nanti Aqso tambah sedih loh. Jangan nangis ya Bu! Aqso nggak akan nanya lagi! Ibu nggak usah jawab! Ga apa-apa ko! Aqso ikhlas , Bu Gulu!” Anak kecil ini berusaha menenangkanku dengan sepenuh hatinya. Aku merasa hangat dalam pelukan tubuh kecilnya. Pelukan terhangat yang pernah kuterima setelah ibuku tiada.
“Hapuslah ail mata ibu guluku sayang!” Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggungku. Berusaha meredakan tangisan yang mengucur deras  sedari tadi.
“Ya Tuhan, apakah Aqso malaikat kecil yang Kau kirimkan padaku untuk menyadarkan aku bahwa hidup ini begitu berharga? Aku malu!”
Dalam dekapannya, dalam hatinya yang lapang, tepat di jantungnya. Aku merasakan lirih pembebasan yang Aqso kecil lantunkan untuk Palestina.
Untukmu Jiwa-jiwa Aqso
Untukmu Jiwa dan Darah Aqso
Untukmu Palestina Tercinta
Aqso penuhi panggilanmu
Untuk Al Aqso yang mulia
Aqsokan terus bersamamu

Makassar, 08 Februari 2010 Pk 03.00
*Salah satu mahasiswi Universitas Hasanuddin