Sabtu, 17 April 2010

"Teruntuk Langit dari Bumi"

"TERUNTUK LANGIT DARI BUMI"
Oleh; kupukupubiru
Kau tahu? Langit sekarang menumpahkan amarah dan kesedihannya pada bumi. Kini ia menangis. Sesekali menampilkan kilat dan gemuruh. Dukanya membasahi tanah kelahiranku. Yah! Hujan mengingatkanku pada bumi. Bumi? Apakah itu kau? Mungkin! Karena aku menyangkal kalau bumi adalah kau.
Langit dan bumi! Kau tahu siapa mereka? Mereka adalah kita. Aku dan kau! Ungkapan itu yang tepat kutujukan untuk kita. Langit dan bumi! Jauh membentang jarak. Sangat! Jangan tanya mengapa! Kau langitnya! Aku sulit menggapaimu karena aku bumi.
***
Aku mengenalmu lewat bisikan. Lirih! Bisikan-bisikan itu membawa kabar tentang kepopuleranmu yang katanya layak dipuja, dan berujung pada statement, banyak bintang berpijar mengelilingimu. Mungkin karena kau langit. Sepertinya! Tapi, itu kata mereka, bukan aku! Aku belum menjamahmu sama sekali.
Ternyata kau “Anak Sang Ratu Langit”. Itulah berita yang terbang dari burung bersayap hitam yang datang pada suatu malam. Sontak! Degup jantungku melonjak cepat. Buaian dan dedikasi Sang Ratu telah diakui oleh bintang-bintang, rembulan, dan matahari. Tak ada yang menyangsikannya! Tak terkecuali bumi. Berbahagialah dan bersyukurlah, kau terlahir dari rahim suci Sang Ratu. Semua semakin jelas menguak jurang pemisah. Langit dan bumi! Engkau langitnya dan aku bumi.
***
Hitam. Kau berteman dengan malam. Coba lihat di luar sana! Gelap, ya gelap. Akhir-akhir ini langit selalu tampak mencekam. Mendung hitam menjadi raja. Mengguyur bumi yang gersang dan sedang dilanda kekeringan. Penawar gelisah panjang.
Seperti itulah kira-kira awal perjumpaan kita. Hitam menjadi biru. Cantik! Bumi tersungging untuknya. Kau tahu? Bumi hanya tertunduk malu, enggan menengadahkan wajahnya ke langit. Itulah bumi! Merangkai tanda dalam hening. Tak seperti bintang yang datang mengedipkan cahaya. Yah, kami berbeda! Perlu kutegaskan sekali lagi bahwa kami tak kan pernah sama. Karena aku bumi!
Apakah ini? Wajarkah? Ku akui takut dan cemas dekat denganku saat ini. Menggayuti rasa yang lumrah. Tepat sasaran! Layar masa lalu itu belum redup dalam jejakmu. Menghantuiku. Mungkin aku telah banyak tahu tentang luka langit yang menjelma menjadi rintik-rintik bening. Jatuh mewarnai bumi.
Aku telah merangkainya dalam diam. Perlahan tapi pasti! Mengakar kuat dalam perut bumi. Bagaimana denganmu? Langit menyibak tabir kebingungan, keraguan, ketidakpastian, dan kepalsuan. Telah jelas! Kini aku menjelma sepertimu, bukan hujan! Bukan mozaik tapi embun. Datang dan pergi sesuka hati. Muncul di pagi hari dan hilang disengat mentari. Embun milik bumi!
***
Teruntuk Langit tak berawan yang melintas dalam kepekatan malam. Aku tetap ingin menjemput cahaya seratus itu. Aku ingin menggandengnya dan memberikan senyum termanis dengan hiasan kedua lesung pipit di pipiku. Izinmu pun ku pinta.
Harapan? Harapan ‘tuk melanjutkan estafet titik lainnya. Biarkan ia melanjutkan perjuangannya! Itu yang membuatku bertahan dari badai mematikan yang selalu kau sudutkan padaku. Beban kau pikul, kebencian terrkumpul. Benci menyergapimu. Aku telah peka dengan benci. Terima kasih, itu bertanda embun masih milik bumi! Tapi mengapa kau selalu menyuguhkanku rintik itu? Tersapu hujan yang kau tuangkan dari langit. Kau tahu? Bumi tersungging kembali.
Langit dan bumi! Masihkah seperti itu? Menggema dalam relung semu Menggoyahkan ketuguhan hati yang hampir mati.
Teruntuk Langit dari bumi. ‘Kan kukabarkan kepada rasi bintang dan galaksi. Kau langit! Kokoh memayungi tanpa perlu dipilari. Bumi…itu aku! Tak sesak dipijak sabar menanti.
***
Kupu-kupu memberitakan kepadaku bahwa Surat Teruntuk Langit tak pernah sampai di tangannya karena Bumi telah melahap dan mengubur itu dalam perutnya. Dalam! Hingga kini. Biarkan Langit yang menjemputnya sendiri!

Makassar, 14 April 2010. Pk 01.00 kupukupubiru




Rabu, 14 April 2010

"TUHAN, IZINKAN IA MATI"

 TUHAN, IZINKAN IA MATI


Oleh: kupukupubiru*
            
“Kau dengar?” tanyaku ke pada hati yang hampir mati.

            Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...! Terdengar  tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!

            “Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa, hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.

            “Entah, siksaan apalagi yang Bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.

            Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putih yang semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya.

            “Byur....byur...” dan kembali tercebur.

            “Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan menjemputnya.”

            Ia tegar! Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam.

            “Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu.” tanyaku pada emosi yang memuncak.

            Setiap pulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring bekas sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dikerjakan dengan sempurna, tapi Puang tetap saja mencari-cari cela atau kesalahan untuk bisa menghukum si Bungsu.

            Buyarkan mimpi si Bungsu kecil yang dekil.

            "Cepatlah!" hardik Puang dengan kasarnya.

            Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si bungsu.

            "Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali.

            Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Puang memulai ulahnya lagi.

            "Tuhan, izinkan ia mati!" pintaku pada-Nya.

            Sungguh, aku tak kuasa mendengar erangan si Bungsu, terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.

            "Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biarkan malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.

            Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.

            Biarkan ia tidur! Kini dan selamanya....

***

            Kebisuan membawaku terbang menerjang kelam dua tahun silam. Gara-gara mereka! Mereka tak bertanggung jawab telah merampas kebahagianku. Suamiku bersimpah darah hari itu. Mereka menghancurkan hidupku. Tidak! Bukan hanya hidupku tapi hidup banyak orang , masyarakat menderita karenanya.

            Mentari tersenyum menyambut pagi yang cerah di Kota Daengku. Aku, Ayah, Sulung, dan Bungsu bersiap-siap untuk berangkat bertamasya ke Malino. Sudah lama si Bungsu ingin menginjakkan kakinya di tempat itu. Tempat yang ia idamkan sejak duduk di kelas tiga SD. Mobil tua peninggalan orang tuaku menjadi saksi perjalanan kami. Toyota sedan berwarna biru tua yang telah pudar   termakan  usia , tak seindah dulu, meski begitu mobil itu tetap  terlihat cantik.  

            “Tlilit…tlilit…” bunyi HP Ayah dari kantong kemeja garis-garis putih yang ia kenakan. Seketika wajahnya berubah, dahinya berkerut, menampakkan kekecewaan yang dalam. Aku tahu bahwa liburan ini akan batal lagi untuk sekian kalinya.

Ayah bekerja sebagai pengaman kampus. Posisinya telah naik tingkat menjadi ketua pengamanan setelah tujuh tahun mengabdi di kampus itu.

            “Tawuran di kampus lagi?” tanyaku yakin padanya. Anggukan kecil darinya menandakan hal itu benar. Anak-anak hanya diam, duduk lesu di kursi belakang.

            “Kampus ricuh, mahasiswa melanjutkan aksi Anti BHP-nya di depan rektorat dan memblokir jalan masuk ke kampus. Tak sempat lagi untuk pulang, kita langsung ke sana! Ibu dan anak-anak ikut saja! Anak-anak pegangan yang kuat, ya!”

             Tak butuh waktu lama, Ayah mengalihkan perjalanan kami membanting setir melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah kampus terkenal itu.

***

            Semenjak kejadian itu aku mengalami kelumpuhan. Shock! Terbaring lemas dan bisu di atas ranjang reyot. Sedangkan Puang menyalahkan si Bungsu atas kejadian hitam itu. Meluapkan kemarahan padanya.

“Gara-gara kau! Ayahmu meninggal. Mencarimu di tengah keramaian berandal-berandal itu. Mengapa kau keluar dari mobil? Mengapa? Mengapa?”
“Kau tak mengindahkan perintah Ayahmu! Dasar anak nakal!” Amarah menguasai diri Puang, hanya suara tamparan yang terdengar dari bilik sebelah.
Kalimat itu yang kerap kali ia tudingkan pada Bungsu. Aku kasihan padanya.

Kasihan?”  Itu tak mengobati apa pun. Tak bisa menggantikan apa-apa.

            “Bunda, Bungsu akan merawatmu! Jangan ragukan Bungsu, Bunda! Bunda tetap berdoa ya, agar Ayah  dan Kakak hidup bahagia di sana. Pasti mereka sudah berada di surga yang indah. Tersenyum melihat Tuhan. Bungsu tahu, Bunda masih rindu pada Ayah dan Kakak, tapi biarkan mereka tenang.” Bungsu meneduhkan hatiku.

            “Ya Tuhan tak sepantasnya aku meminta kematian untuk si Bungsu. Dia begitu tegar mengahadapi hidup ini. Tak serapuh aku yang hanya bisa diam terpaku dan menyesali masa lalu.” Rasa penyesalan menggayutiku.

            “Ya Tuhan, aku ibu yang jahat! Aku hampir saja membunuhnya dengan doa beracunku. Bukankah doa seorang ibu yang terzholimi pasti Kau dengar dan ijabah? Aku khilaf!” Tak hentinya aku menyalahkan diriku.

            “Aku tak akan lagi melukainya, Tuhan. Bungsu terlalu lugu untuk mengerti makna kematian. Biarkan ia bertahan melangkah menapaki jembatan kehidupan!”

            Ya, aku akan merelakan Ayah dan Sulung, tenang dengan-Mu, Sang Maha! Tapi aku tidak akan tenang sedikit pun, akan tetap menyimpan dendam pada  mereka yang telah merenggut pelita kami. Biarkan munajatku tetap  kudendangkan untuk mereka yang tak lebih mengerti akan arti sebuah nyawa yang telah dirampasnya. Nafsu telah menguasai dirinya, menggerogoti pikiran busuknya. Putih menjadi merah!

“Atas nama rakyat! Turunkan mereka!”

“Bunuh para bajingan, si Tikus Kampus! Kalian merampas hak kami!”

“Kalian maling!”      
“Kami menggugatnya! Cabut segera!

            Mereka pintar berdalih. Seakan-akan mereka adalah yang paling benar dan suci menyuarakan keadilan. Ha…! Apa harus dengan kekerasan dan kekacauan untuk menikam para tikus yang kau teriakkan dengan lantang? Maling teriak maling! Bukankah kau sama saja dengan mereka?

Anarkis! Itu yang terjadi. Tepat di depan lampu merah jalan masuk kampus, perjalanan kami terhenti. Sesak! Kau salah sasaran! Menyerang membabi buta dengan tangan mengepal kau angkat tinggi-tinggi lalu dengan sekuat tenaga kau lempar batu ke arah kami. Setelah itu kau lari terbirit-birit bersembunyi di balik dinding tinggi. Meninggalkan jejak-jejak darah di hadapan kami yang teraniaya. Darah mengucur deras dari kepala Ayah,  dan Sulungku. Kau hujamkan tajam batu-batu itu tepat di tubuh mereka berdua. Mereka terkapar terinjak-injak dalam massamu. Mobil kami dilahap oleh api yang kau sulutkan. Bungsu merintih ketakutan di balik pohon. Teriakanku kau abaikan dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

            Akankah kalian bertanggung jawab atas kejadian itu?

            Penjara dunia tak pantas untukmu, karena kau menyumpal mulut para abdi negara yang silau akan kuasa dan uang. Kau bebas! Tapi, penjara lain akan menunggumu. Kelak maut akan meregang nyawamu dengan keras. Menebasnya  dengan kapak kegelapan.

            Kebrutalanmu telah menyengsarakan banyak orang. Jangan kau buat negara menjadi semakin malu, menanggung beban atas ulahmu! Cepatlah bertaubat wahai penerus generasi bangsa! Jika tidak, inilah lantunan doa yang akan kupersembahakan untukmu,  Tuhan, izinkan ia mati!
            Dan anakku, Bungsu. Tetaplah tegar bagai karang dihempas ombak! Kau tahu? Doa itu kini telah kulantunkan untuk mereka yang telah merampas kebahagianmu. Kebahagian kita. Bungsu, doa itu bukan untukmu lagi. Bukan! Karena Tuhan begitu menyayangimu.


Pangkep, Awal  2010

*Salah satu mahasiswi Pengembangan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin