Andi Mulya Arfan.
Aku berusaha menggoreskan pena di atas lembaran kertas. Menuliskan segala perasaanku yang bergejolak dalam relung-relung yang samar. Yah...di saat itulah suara datang dari arah berlawanan.
"Ada gambar tak ada suara" ujar Puang ke padaku. Istilah itu Ia tujukan ke pada Kakak Iparku. Aku mencoba tuk memahami arti dari istilah yang Ia pantenkan pada Kak Arfan, "Ada gambar tak ada suara?" batinku bertanya.
Kuberanikan diri tuk menoleh ke arah luar jendela yang berada di samping kiriku saat ini. Kaca jendela yang tipis dan transparan ini memberikanku kesempatan untuk mengamatinya dari sudut yang berbeda.
" Tok...petok...petok" bunyi dua ekor ayam yang saling mematuk-matuk tanah. Dua ekor ayam yang berbadan kecil berwarna merah kecoklatan dengan warna putih berbaur hitam di ekornya. Rupanya dia mengamati gerak-gerik ayam tersebut. Ku tahu dua ekor ayam itu miliknya."Ayam itu dia bawa dari Sengkang" penuturan Puang menjelaskan status kepemilikan 2 ekor ayam kecil tersebut.
Jelas sudah! Saat ini ayam itu mengisi kekosongan waktunya mungkin juga kekosongan hatinya.
"Kur...kur...kur," suara isyarat panggilan yang Ia tujukan pada dua ekor ayam yang berada di depannya sekarang.
Dua ekor ayam itu mengalihkan dunianya.
***
Hari ini, Kakak Ipar tidak bertugas menjaga para pekerja dan buruh jembatan di tepi pantai Kupa. Sudah hampir 5 bulan setelah pernikahannya dengan Kakak sulungku yang bernama Sukma Dewi. Ia membulatkan hati untuk mengambil lowongan tersebut. Keputusan yang berat!
Sebelumnya Ia bekerja di perantauan, jaraknya terbilang jauh dari sini tepatnya di ujung pulau Indonesia. Ia memberanikan diri untuk mengambil langkah itu hanya untuk mencari modal sebagai "Panae'" pernikahan dengan Kakakku.
"Panae'" kata ini penuh dengan makna.
Kuat! Tegas! Tersirat! Mungkin juga perlu Was-was!
Bagi orang berdarah Bugis, istilah itu tidaklah asing di telinga.
Lumrah tapi tak murah!
"Panae'" merupakan uang naik untuk calon pengantin wanita.
"Wanita Bugis dibeli." Kalimat yang terlontar dari beberapa mulut teman priaku di kampus dua tahun silam. Bukan hanya itu yang pernah mereka katakan " Bisa beristri 3 atau 4 Gadis Jawa dong?" Mahal bukan?
Pernyataan yang pedas untuk Kami Wanita berdarah Bugis, tapi bukan untuk menurunkan atau bermaksud apa-apa terhadap Wanita Jawa.
"Bukankah Wanita yang paling mulia adalah wanita yang paling murah maharnya?
Tapi, Panae' bukanlah mahar melainkan uang belanja untuk pesta pernikahan sang mempelai wanita. Jadi, Aku salut dengan keluarga yang memiliki prinsip tak neka- neko dan pastinya tak ingin memberatkan calon menantunya.
Huff...jadi mumet sendiri kalau dipikir.
***
Selama 3 bulan lebih Kakak Ipar memeras keringat di pulau kecil dekat Papua. Nyamuk yang ganas tak lagi dihairaukan hingga Ia jatuh sakit di perantauan. Terik matahari membakar kulitnya tapi Ia tetap mengabaikan demi niat suci yang Ia pertahankan.
Tersiksa? Menderita? Mungkin iya! Tapi Aku yakin benih yang Ia tanam akan Ia tuai seperti pepatah 'Akan Indah pada waktunya'
Dan pada akhirnya pengorbanan itu membuahkan hasil yang indah.
Tepat pada tanggal 26 Juli 2009 Kak Arfan menyematkan cincin emas di jari manis kanan Kakakku.
Dua hati telah menyatu dalam jalinan Cinta yang Suci.
Doaku Samara (Sakinah Mawaddah Warahmah) dalam Cinta-Nya.
***
"Kur...kur...kur," dua ekor ayam masih mencuri perhatiannya.
Mengisi kekosongan pada hati yang resah dan gelisah. Ia ingin menghapus getir dan lara yang menggayuti setiap denyut nadi kehidupannya. Nyanyian rindu Ia alunkan dalam hati hanya untuk seorang Kekasih Hati. Di sana...
Bertemu untuk berpisah. Berpisah untuk Bertemu. Dua insan dunia merasakan hal itu.
Antara Barru dan Bone. Jarak memisahkan mereka hanya untuk sementara, tapi telah diikat oleh Ikrar Suci hingga jiwa terpaut kini dan selamanya.
Insya Allah.
Dalam diam kuyakin,Ia menapak Cinta di hati.
Dalam diam kuyakin,Ia merindu Kasih.
Dalam diam kuyakin,Ia menerjang pasti.
Dan...
dalam diam kuyakin, Ia masih menanti.
Kakak...moga Hatimu dan Hatinya kan menyatu dengan-Nya.
Amin.
Bola Puangku, Cilsel, Barru
11 Januari 2010
pk. 14:35 WITA
Robiatul




