Sabtu, 30 Januari 2010

"Dalam Diam Ada Cinta"

Teruntuk Kakak Iparku,
Andi Mulya Arfan.


Aku berusaha menggoreskan pena di atas lembaran kertas. Menuliskan segala perasaanku yang bergejolak dalam relung-relung yang samar. Yah...di saat itulah suara datang dari arah berlawanan.

"Ada gambar tak ada suara" ujar Puang ke padaku. Istilah itu Ia tujukan ke pada Kakak Iparku. Aku mencoba tuk memahami arti dari istilah yang Ia pantenkan pada Kak Arfan, "Ada gambar tak ada suara?" batinku bertanya.

Kuberanikan diri tuk menoleh ke arah luar jendela yang berada di samping kiriku saat ini. Kaca jendela yang tipis dan transparan ini memberikanku kesempatan untuk mengamatinya dari sudut yang berbeda.

" Tok...petok...petok" bunyi dua ekor ayam yang saling mematuk-matuk tanah. Dua ekor ayam yang berbadan kecil berwarna merah kecoklatan dengan warna putih berbaur hitam di ekornya. Rupanya dia mengamati gerak-gerik ayam tersebut. Ku tahu dua ekor ayam itu miliknya."Ayam itu dia bawa dari Sengkang" penuturan Puang menjelaskan status kepemilikan 2 ekor ayam kecil tersebut.
Jelas sudah! Saat ini ayam itu mengisi kekosongan waktunya mungkin juga kekosongan hatinya.

"Kur...kur...kur," suara isyarat panggilan yang Ia tujukan pada dua ekor ayam yang berada di depannya sekarang.
Dua ekor ayam itu mengalihkan dunianya.

***

Hari ini, Kakak Ipar tidak bertugas menjaga para pekerja dan buruh jembatan di tepi pantai Kupa. Sudah hampir 5 bulan setelah pernikahannya dengan Kakak sulungku yang bernama Sukma Dewi. Ia membulatkan hati untuk mengambil lowongan tersebut. Keputusan yang berat!
Sebelumnya Ia bekerja di perantauan, jaraknya terbilang jauh dari sini tepatnya di ujung pulau Indonesia. Ia memberanikan diri untuk mengambil langkah itu hanya untuk mencari modal sebagai "Panae'" pernikahan dengan Kakakku.

"Panae'" kata ini penuh dengan makna.
Kuat! Tegas! Tersirat! Mungkin juga perlu Was-was!
Bagi orang berdarah Bugis, istilah itu tidaklah asing di telinga.
Lumrah tapi tak murah!

"Panae'" merupakan uang naik untuk calon pengantin wanita.
"Wanita Bugis dibeli." Kalimat yang terlontar dari beberapa mulut teman priaku di kampus dua tahun silam. Bukan hanya itu yang pernah mereka katakan " Bisa beristri 3 atau 4 Gadis Jawa dong?" Mahal bukan?
Pernyataan yang pedas untuk Kami Wanita berdarah Bugis, tapi bukan untuk menurunkan atau bermaksud apa-apa terhadap Wanita Jawa.

"Bukankah Wanita yang paling mulia adalah wanita yang paling murah maharnya?
Tapi, Panae' bukanlah mahar melainkan uang belanja untuk pesta pernikahan sang mempelai wanita. Jadi, Aku salut dengan keluarga yang memiliki prinsip tak neka- neko dan pastinya tak ingin memberatkan calon menantunya.
Huff...jadi mumet sendiri kalau dipikir.
***
Selama 3 bulan lebih Kakak Ipar memeras keringat di pulau kecil dekat Papua. Nyamuk yang ganas tak lagi dihairaukan hingga Ia jatuh sakit di perantauan. Terik matahari membakar kulitnya tapi Ia tetap mengabaikan demi niat suci yang Ia pertahankan.
Tersiksa? Menderita? Mungkin iya! Tapi Aku yakin benih yang Ia tanam akan Ia tuai seperti pepatah 'Akan Indah pada waktunya'
Dan pada akhirnya pengorbanan itu membuahkan hasil yang indah.
Tepat pada tanggal 26 Juli 2009 Kak Arfan menyematkan cincin emas di jari manis kanan Kakakku.
Dua hati telah menyatu dalam jalinan Cinta yang Suci.
Doaku Samara (Sakinah Mawaddah Warahmah) dalam Cinta-Nya.

***
"Kur...kur...kur," dua ekor ayam masih mencuri perhatiannya.
Mengisi kekosongan pada hati yang resah dan gelisah. Ia ingin menghapus getir dan lara yang menggayuti setiap denyut nadi kehidupannya. Nyanyian rindu Ia alunkan dalam hati hanya untuk seorang Kekasih Hati. Di sana...
Bertemu untuk berpisah. Berpisah untuk Bertemu. Dua insan dunia merasakan hal itu.
Antara Barru dan Bone. Jarak memisahkan mereka hanya untuk sementara, tapi telah diikat oleh Ikrar Suci hingga jiwa terpaut kini dan selamanya.
Insya Allah.



Dalam diam kuyakin,Ia menapak Cinta di hati.
Dalam diam kuyakin,Ia merindu Kasih.
Dalam diam kuyakin,Ia menerjang pasti.
Dan...
dalam diam kuyakin, Ia masih menanti.


Kakak...moga Hatimu dan Hatinya kan menyatu dengan-Nya.
Amin.

Bola Puangku, Cilsel, Barru
11 Januari 2010
pk. 14:35 WITA


Robiatul

Jumat, 29 Januari 2010

"Tuhan, Ijinkan Ia Mati""

“Kau dengar?” tanyaku pada hati yang hampir mati. Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...terdengar tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!

“Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.

“Entah, siksaan apalagi yang bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.

Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putihnya semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya. “Byur....byur...” dan kembali tercebur.

“Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan mejemputnya.” Ia tegar!

Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam. “Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu” tanyaku pada emosi yang memuncak.

Sepulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di dapur, sisa sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dilakukan dengan sempurna, tapi Budhe' tetap saja mencari-cari celah atau kesalahan untuk bisa menghukum si bungsu.

"Cepatlah!" hardik Budhe' dengan kasarnya. Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si ungsu.

"Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali. Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Budhe' memulai ulahnya lagi.

"Tuhan, Ijinkan Ia Mati!" pintaku pada-Nya. Sungguh, Aku tak kuasa mendengar erangan si bungsu. Terlalu perih menyaksikan Ia terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.

"Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biar malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.

Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut Cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan Aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.

Biarkan Ia tidur!
Kini dan selamanya...

Robiatul


Tabo-Tabo, Pangkep 10 Januari 2010
Tiga besar Karya Terbaik TOR FLP IV

Kamis, 28 Januari 2010

"Kado Terindah Tabo-Tabo"

"Di sini, di kampungnya, semoga akan tercatat kenangan yang jauh lebih indah"
Kutipan kalimat terakhir dari buku CUPIDER-MAN 3G karya S. Gegge Mappangewa ini memberikan inspirasi baru dalam hidupku. Kututup dengan isakan tangis yang dalam. Sosok Yusuf sebagai tokoh utama mengetuk ruas-ruas jiwa, meninggalkan seberkas kisah yang berarti dalam hati ini.

Buku ini merupakn kenangan terindah untukku. Tepatnya di bulan Januari.
"To Fitria Kutunggu karyanya di media". Goresan pena yang penulis torehkan pada halaman pertama buku yang Ia hadiahkan padaku merupakan awal keyakinanku akan slogan yang Ia lontarkan pada training 2 hari lalu " Tak ada bakat, minat pun jadi"

Aku hanya bermodal nekat untuk mengikuti "TOR" yang merupakan singkatan dari Training or Recruitment yang diselenggarakan di Tabo-Tabo, Pangkep tanggal 8-10 Januarai 2010 oleh FLP (Forum Lingkar Pena). Sejak setahun silam, Aku berniat untuk menjadi peserta TOR, tapi impian itu baru terwujud sekarang.

Aku tak peduli tiada kawan yang menemaniku untuk pergi ke sana.
Aku yakin bahwa Aku akan memiliki banyak teman sedari sana dan terlebih lagi Aku tak peduli tiada modal ilmu yang kumilki untuk berkecimpung dalam dunia kepenulisan, malah sebaliknya keyakinanku menguatkan diriku bahwa Aku kan merauk banyak ilmu dan wawasan sepulang dari training itu.
Lebih dari itu, sekarang Aku juga memiliki kenangan yang indah yang mungkin tak dimiliki oleh sebagian orang ataupun orang di luar sana.

Tabo-Tabo... kenanganku bersama mereka yang tak mungkin terlupan, kecuali jika Allah mencabut ingatan itu dariku. Semoga tidak!Terukir dalam rasa yang tak dapat kulukiskan lewat kata. Begitu indah...

Akhirnya ku mulai tersadar dari lamunan panjang akan cita dan asa yang selama ini kuimpikan.


Gamang!
Meradang!
Kian menantang menerjang karang!
Aku datang
Menebar Bintang!

Wahai Kawan dengarkan syair yang Aku dendangkan!



Butterfly terbanglah tinggi!
Setingi anganku...
menjadi penulis



Insya Allah.
Bola Puangku, CilSel, Barru
11 Januari 2010
pk.18.19

Robiatul

"Lantunan Syair Wanita"

Syair yang kukutip dari sebuah buku menarik hati dan kuabadikan dalam note kecil dalam hp mungilku.

Yah...Kusuka syair ini...
Kupersembahkan untuk semuanya....
Ikhwafillah.

Selagi pandangan matamu berkeliaran
Segala pemandangan kan membebani hati
Kau pandang segala sesuatu di luar kemampuan
Sebagian hati tiada kesabaran lagi

Segala peristiwa berawal dari pandangan mata
Jilatan api bermula dari setitik bara
Berapa banyak pandangan yang membelah hati
Laksana anak panah yang melesat dari busurnya
Selagi manusia masih memilki mata untuk memandang
Dia tak pernah lepas dari bahaya yang menghadang
Terasa senang di permulaan dan ada bahaya di kemudian hari
Tiada ucapan selamat datang dan ada bahaya saat kembali.

Penyakit yang mungkin setiap orang tak luput darinya.


Bukankah Allah menjadikan mata sebagi cerminan hati.
Jika seseorang menahan pandangan matanya,
berarti dia menAhan syahwat dan keinginan hati.
Dan sebaliknya, jika dia mengumbar pandangan matanya,
berarti dai mengumbar syahwat hatinya.

Dia, Cerminan Hati.
Hatiku,
Hatimu,
Hati Kalian,
Hati Mereka.
Hati Kita Semua.

Hati-hati menjaga Hati!

Makassar, 28 November 2009

Robiatul

"Di antara 2 Pilihan..."


Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Kehidupan adalah keniscayan, menang dan kalahnya,
sukses dan gagalnya adalah pilihan.
Kematian adalah kepastian,

Siap dan tidaknya dalam menyambutnya adalah pilihan.
Adanya alam kubur adalah keharuan,
Bahagia atau celak di dalamnya adalah pilihan.

Surga dan Neraka adalah ketetapan,
masuk dan tidaknya adalah pilihan.

Terserah Anda, mau ke mana dan mau berbuat apa.

You are freedom of choose!
Yang pasti, Anda akan mendapat apapun yang Anda tanm dalam HIDUP ini.

Makassar, Kamar....
Rabu, 27 Jan. 2010
Menjelang dhuhur

Robiatul

DEMI MASA...

Bismillahirrahmanirrahim…..

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat.
Tahun barukan menjelang

“Demi masa…
Sesungguhnya manusia itu dalam kondisi merugi
Kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, dan berdakwah (saling menasihati untuk kebaikan dan kesabaran)”


Bukankah waktu merupakan sumber daya yang tak dapat diperbaharui.
Tak dapat terulang kembali.
Ya…itulah kaidah waktu.

Detak hati berkata kepada manusia
Sungguh kehidupan hanyalah menit dan detik
Oleh karena itu ingatlah kematian
Sungguh bagi manusia mengingat kematian adalah umur kedua.

Seruntun pertanyaan silih berganti dalam benak

SIAPKAH DIRI?
Berapa umur Kita saat ini?
Berapa banyak amal ibadah yang Kita telah kerjakan pada tahun ini?
Berapa banyak dosa yang Kita lakukan?
SURGA atau NERAKA?
Astaghfirullah…
Pantaskah diri…..?

Teringat syair yang dilantunkan oleh Ibnu Al Jauzi,
syair yang mengoyak kesombongan diri.

“Wahai orang yang umurnya terbatas
dan badannya setelah kematian dimakan ulat!
Aku melihat kamu selalu dalam kekurangan sejak kamu diayunan hingga kamu mendekat saat kematian.
Wahai orang yang usianya yang berjalan dari waktu ke waktu,
Wahai orang yang sakit bekalnya…

Ya Rabb…Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Hari itu akan datang
Hari pembalasan , hari waktu manusia menerima pembalasan amalnya baik atau buruk.
Hari di mana tangan, kaki, anggota badan kita kan menjadi saksi atas perbuatan kita selama di dunia.
Yaumul hisab pasti datang!
Itulah Janji Nya

Ya Rabb…hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon…

Berikan kemashlatan kepada kami,
Agama kami yang menjadi peneguh dalam urusan kami.
Dan berikanlah kemashlatan untuk dunia kami, karena dunia itu tempat hidup dan kehidupan kami
Dan berikanlah kemashlatan untuk akhirat kami, karena akhirat merupakan tempat kembalinya kami

Ya Rabb…jadikanlah kebaikan di akhir umur kami,
Dan jadikanlah sebaik-baiknya amal perbuatan di akhir hayatku,
Dan sebaik-baiknya ketika kami bertemu dengan Mu
Ya Rabb…sesungguhnya kami meminta kepada-Mu perkara yang menyenangkan, kematian yang nyaman, dan tidak dikembalikan pada tempat yang hina dan buruk.

Ya Rabb kami…
Berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindunglah kami dari siksa api neraka.
Amin

Sebelum kumengakhiri tulisan ini perkenankanlah Hamba ya Rabb untuk mengutip perkataan Syibli dari buku “14 Jalan Mencintai Allah “ karya Imam Al Ghazali..
“Aku telah membaca dan menelaah empat ribu hadits.
Sesudah itu, aku pilih satu hadits saja untuk diamalkan.
Selebihnya aku tinggalakan . Sebab setelah kupertibangkan , keselamatanku berada dalam kandungan satu hadits ini.
Ilmu orang yang terdahulu dan sekarang pun berada di dalamnya.
Maka rasanya cukuplah bagiku mengamalkan hadits itu.”

Hadits yang dimaksud Syibli yaitu:
“ Beramallah untuk duniamu sesuai kadar hidup kamu di dalamnya.
Beramallah untuk akhiratmu sesuai kadar kamu di dalamnya.
Dan beramallah untuk Allah sesuai dengan kebutuhanma kapada-Nya.
Serta beramallah untuk neraka sesuai dengan kemampunamu menerima siksa.”



Hayati…
Dan renungkanlah…!

Makassar, Kamis, 17 Desember 2009
Kamar kos Tercinta 23 NE
Pk.12.00 WITA
Robiatul

Dendang "1/2 Sayap" (Part 1)

Teruntuk kupukupubiru...

Selalu ada kerinduan kala pagi menjelang
lalu rembesan surya menghunus risalah pertarungan
Dalam dekap hening kebisuan,
ada bisik segenggam Cinta para pejuang.

Dengarkan dendang kualunkan menyerta langkahmu
Kau menantang!
Lalu puja memuja sabda tentangamu
Tuhan menitip beribu sayang!

Pejamkan matamu,
setelah kau tahu betapa benyak Cinta kelak Kau tuai dari juangmu!

Received:
031209
07:24:25

Dendang 1/2 Sayap (Part 2) "Aku dan Cinta"

Ya Ilahi...
Aku terbaring seorang diri di sini
Sepi...
Merasuk dalam hati yang kian tak terkendali

Dan kini...
Dialog Hati pun terjadi

Mengapa Aku tak pecahkan saja gelasnya?
Biar Ramai!
Tak perlu sedu sedan itu!

Tidak!
Karena Aku adalah manusia yg haus akan Cinta

Mengapa Kau tak meneguk secangkir Cinta Cappucino saja
Hingga dahagamu kan hilang dalam kelam

Tidak!
Karena Cintaku, Bukanlah Cinta Biasa!

Di sini...
Aku mencoba menawarkan berjuta Cerita Tentang Cinta.
Yah! Ku Ingin Melukis Cinta!

Ada Apa dengan Cinta?

Ada sederet Ayat-Ayat Cinta yg mengusik lelapku
hingga Aku tersentak!

"Laki-laki yg baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yg baik. Laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk dan perempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk pula"

Dan kini,
Aku mulai tersadar dari lamunan panjang

Ketika Cinta Bertasbih dalam Kisi-Kisi Hatiku
Ku mulai yakin!
Suatu saat nanti
Entah kapan?
Aku kan berlabuh Dalam Mihrab Cinta-Nya
Memasang Mahkota Cinta di Atas Singgasana dengannya



Ya Ilahi...
Ijinkan Aku Melukis Cinta!

Kamar, Pondok Ne
27 Jan 2010
pk.21.00 Wita

Robiatul