"TERUNTUK LANGIT DARI BUMI"
Oleh; kupukupubiru
Kau tahu? Langit sekarang menumpahkan amarah dan kesedihannya pada bumi. Kini ia menangis. Sesekali menampilkan kilat dan gemuruh. Dukanya membasahi tanah kelahiranku. Yah! Hujan mengingatkanku pada bumi. Bumi? Apakah itu kau? Mungkin! Karena aku menyangkal kalau bumi adalah kau.
Langit dan bumi! Kau tahu siapa mereka? Mereka adalah kita. Aku dan kau! Ungkapan itu yang tepat kutujukan untuk kita. Langit dan bumi! Jauh membentang jarak. Sangat! Jangan tanya mengapa! Kau langitnya! Aku sulit menggapaimu karena aku bumi.
***
Aku mengenalmu lewat bisikan. Lirih! Bisikan-bisikan itu membawa kabar tentang kepopuleranmu yang katanya layak dipuja, dan berujung pada statement, banyak bintang berpijar mengelilingimu. Mungkin karena kau langit. Sepertinya! Tapi, itu kata mereka, bukan aku! Aku belum menjamahmu sama sekali.
Ternyata kau “Anak Sang Ratu Langit”. Itulah berita yang terbang dari burung bersayap hitam yang datang pada suatu malam. Sontak! Degup jantungku melonjak cepat. Buaian dan dedikasi Sang Ratu telah diakui oleh bintang-bintang, rembulan, dan matahari. Tak ada yang menyangsikannya! Tak terkecuali bumi. Berbahagialah dan bersyukurlah, kau terlahir dari rahim suci Sang Ratu. Semua semakin jelas menguak jurang pemisah. Langit dan bumi! Engkau langitnya dan aku bumi.
***
Hitam. Kau berteman dengan malam. Coba lihat di luar sana! Gelap, ya gelap. Akhir-akhir ini langit selalu tampak mencekam. Mendung hitam menjadi raja. Mengguyur bumi yang gersang dan sedang dilanda kekeringan. Penawar gelisah panjang.
Seperti itulah kira-kira awal perjumpaan kita. Hitam menjadi biru. Cantik! Bumi tersungging untuknya. Kau tahu? Bumi hanya tertunduk malu, enggan menengadahkan wajahnya ke langit. Itulah bumi! Merangkai tanda dalam hening. Tak seperti bintang yang datang mengedipkan cahaya. Yah, kami berbeda! Perlu kutegaskan sekali lagi bahwa kami tak kan pernah sama. Karena aku bumi!
Apakah ini? Wajarkah? Ku akui takut dan cemas dekat denganku saat ini. Menggayuti rasa yang lumrah. Tepat sasaran! Layar masa lalu itu belum redup dalam jejakmu. Menghantuiku. Mungkin aku telah banyak tahu tentang luka langit yang menjelma menjadi rintik-rintik bening. Jatuh mewarnai bumi.
Aku telah merangkainya dalam diam. Perlahan tapi pasti! Mengakar kuat dalam perut bumi. Bagaimana denganmu? Langit menyibak tabir kebingungan, keraguan, ketidakpastian, dan kepalsuan. Telah jelas! Kini aku menjelma sepertimu, bukan hujan! Bukan mozaik tapi embun. Datang dan pergi sesuka hati. Muncul di pagi hari dan hilang disengat mentari. Embun milik bumi!
***
Teruntuk Langit tak berawan yang melintas dalam kepekatan malam. Aku tetap ingin menjemput cahaya seratus itu. Aku ingin menggandengnya dan memberikan senyum termanis dengan hiasan kedua lesung pipit di pipiku. Izinmu pun ku pinta.
Harapan? Harapan ‘tuk melanjutkan estafet titik lainnya. Biarkan ia melanjutkan perjuangannya! Itu yang membuatku bertahan dari badai mematikan yang selalu kau sudutkan padaku. Beban kau pikul, kebencian terrkumpul. Benci menyergapimu. Aku telah peka dengan benci. Terima kasih, itu bertanda embun masih milik bumi! Tapi mengapa kau selalu menyuguhkanku rintik itu? Tersapu hujan yang kau tuangkan dari langit. Kau tahu? Bumi tersungging kembali.
Langit dan bumi! Masihkah seperti itu? Menggema dalam relung semu Menggoyahkan ketuguhan hati yang hampir mati.
Teruntuk Langit dari bumi. ‘Kan kukabarkan kepada rasi bintang dan galaksi. Kau langit! Kokoh memayungi tanpa perlu dipilari. Bumi…itu aku! Tak sesak dipijak sabar menanti.
***
Kupu-kupu memberitakan kepadaku bahwa Surat Teruntuk Langit tak pernah sampai di tangannya karena Bumi telah melahap dan mengubur itu dalam perutnya. Dalam! Hingga kini. Biarkan Langit yang menjemputnya sendiri!
Makassar, 14 April 2010. Pk 01.00 kupukupubiru


0 komentar:
Posting Komentar
Ojo lali dikomen yo...!!!