Rabu, 17 Februari 2010

"Kepak Sayapku"


Kepak Sayapku

             Aura Tabo-Tabo masih terpancar dari diriku. Tepat tanggal 11 Januari 2010, satu hari setelah TOR FLP diselenggarakan, jemari ini dengan lincahnya menggoreskan pena di atas lembaran kertas. Perasaanku menggebu. Dua essai sebanyak 2,5 lembar kukhatamkan dalam waktu kurang dari lima jam . Tak seindah penulis tenar, tapi tulisan itu kubuat dari binar-binar cahaya. Sederhana tapi sepenuh hati! Tak semua orang memiliki itu!
            “ Dalam Diam Ada Cinta” Tulisan pertama yang aku buat untuk kakak iparku, Andi Mulya Arfan. Bercerita tentang kegigihan dan perjuangannya meminang Kakak sulungku Sukma Dewi dengan syarat yang  ditentukan oleh keluarga kecil kam yang telah mendarah daging  yaitu “Panae’”. Hidup berpisah setelah akad terucap sudah.
            Tulisan kedua “Kado Terindah Tabo-Tabo” Menggambarkan kenangan yang terukir indah di Tabo-Tabo, dan merupakan awal keyakinanku pada slogan “Tak Ada Bakat, Minatpun Jadi!”. Tulisan yang berada di hadapan pembaca saat ini merupakan lanjutan dari tulisan Kado Terindah Tabo-Tabo, tetapi dengan judul yang berbeda yaitu “Kepak Sayapku”
            Tulisan selanjutnya tak selancar seperti dua essai sebelumnya. Dari beberapa tulisan yang ada, terdapat dua tulisan yang sulit  terselesaikan dan perlu beberapa kali pengeditan  yang menurutku terbilang lama. Salah satunya, puisi yang berjudul ”Jangan Panggil Aku Elang!”dan yang kedua berupa cerpen “Coklat Palenten Aqso”. Tapi pada akhirnya tulisan itu pun telah pada puncak penantian dengan hasil yang menurutku memuaskan dan kini Aku mencoba untuk mengirimkan salah satu tulisan tersebut ke media. Doaku, semoga diterbitkan!
***
            HP. Benda mungil yang selalu menemaniku. Di kamar, di atas becak, di pete-pete, di saat menunggu, saat berjalan, menjelang tidur, di kala suka dan duka melanda dan kala mata merekam suatu kejadian. Kuabadikan dalam notes sederhana yang tersedia dalam hp mungil ini.
            “Teruntuk Sang Aku”, “Catatan Hati Kekasih”, “Jangan Panggil Aku Elang!”, ”Coklat Palenten Aqso”, ”..IS”, “Lantunan Syair Wanita”. Semua bermula dari ketikan huruf pertama dalam benda ini. Terangkai kata dalam kalimat, kalimat dalam bait, bait mencipta karya.
            Tapi, sering kali Aku menemukan jalan buntu, saat mata merekam dengan sempurna, saat rasa terlalu peka, saat pikiran begitu cepat menyusun rangkaian kata,  jemariku tak mampu menguasai itu semua. Teralalu cepat! Aku tertinggal, terlampau jauh untuk mengejarnya. Kabur…Tak terkontrol.Kabel-kabel impulsnya terputus dan dalam hitungan detik menghilang dari imajin. Tulisanku terhenti.  Hanya semu yang tersisa.
            Inilah saatnya api peperangan berkobar. Perangpun dimulai ! Aku kalah! Kalah dalam pertarungan! Kudengar lirih kematian. Rasa pesimisku berkata:
            ”Tulisan ini mungkin diselesaikan tapi sulit”, maka secepat kilat kan kuciptakan penawar untuk memusnahkannya.
            Optimislah Wahai Jiwa! ”Tulisan ini memang sulit diselesaikan, tapi itu mungkin!” Kutemukan kehidupan!
            Bicaralah dengan kerja! Hiduplah dengan ceria dan kreatifitas! Cerdaskan jiwa agar bahagia! Sebuah motivasi yang kupetik dari sebuah buku kecil bersampul merah dengan  gambar tangan mengepal. Bertuliskan “Deadline Your Life!
            Membuka hati dan mata yang hampir saja mati mendahului ajal yang telah ditetapkan. Semangatku telah kembali. Puing-puing asa kususun dalam bingkai harapan. Kubiarkan menyala!
***

           
Jembatan inilah yang mengantarku pada simpul–simpul positif, terjalin menjadi sebuah ikatan kuat dalam jiwa yang haus akan sebuah pencarian jati diri.
            “Siapa Aku?”
            Aku Raja! Tulisan membawaku berimajinasi tanpa batas. Sesuai inginku. Aku yang memegang kendali.
            “Siapa Aku?”
             Aku adalah seekor kupu-kupu yang selalu ingin mewarnai dunia dengan warna terindah yang ia miliki. Itulah Aku! Aku mencari warna itu dan kini kumenemukannya! Kebebasan mengeksprikan warna diriku.
            Dalam tulisan, Aku melihat diriku. Cerminan hatiku. Tulisan membawaku terbang tinggi. Bebas! Mengepak sayap , menari di atas taman surga yang subur.
            Akhirnya Aku mulai tersadar dari lamunan panjang akan cita dan asa yang selama ini kuimpikan.
            Gamang!
            Meradang, menerjang karang!
            Aku datang menebar bintang!
            Wahai kawan dengarkan syair yang kudendangkan!

“Butterfly terbanglah tinggi setinggi anganku menjadi penulis…”


Makassar, NE 23
 Sabtu, 13 Februari 2010
Pk.17.55

"O" Warnaku...

“O” WARNAKU

Setelah membaca blog milik Kak Aryanto from Bima, aku putusin untuk COPAS alias copy paste tulisannya ini yang dengan sengaja Beliau Copas juga dari link lain. COPAS di Copas? Penulisnya tuh Edwin Ferdian,.Tau ga siapa? Kalau Aku yang ditanya, jawabanku jelas banget: “Ga tau tuh!”
Tapi afwan (afwan=maaf) ya Kak ga minta ijin dulu. He…he…
Yang aku copas cuman golongan darahku aja ko.
Ok deh mo tahu golongan darah O itu kaya apa?


Let’s go!
Katenye sih…O itu…

Berorientasi pada tujuan dan memiliki perspektif
Memiliki keinginan yang lurus dan tulus
Ingin sekali menyenangkan hati orang lain
Sangat benci kekalahan
Tidak suka dikontrol
Cenderung Romantis dan memberikan kasih sayang sepenuhnya, walaupun terkadang tidak terlihat
Memutuskan sesuatu berdasarkan Fakta
Pemikirannya jauh dari hal-hal berbau Negatif
Pembuat Persahabatan dan mengenal arti persahabatan
Suka akan Cinta yang berwujud Kontak Fisik
Sangat berhati-hati terhadap orang yang bukan Teman
Sayang terhadap milik Pribadi
Menonjolkan diri sendiri dan Mengekspresikan diri dengan Kuat
Mahir menggunakan dan mengolah Bahasa yang baik
Memiliki Prinsip dalam Bertindak
Memiliki Mimpi, Visi dan Ambisi yang melampaui Zamannya
Memiliki Kesadaran Sosial yang Tinggi
Memiliki Naluri yang Alamiah untuk selalu berada pada Titik Maksimum
Memikirkan Keluarga dan bertanggung jawab kepadanya
Mudah Grogi dan kalau sudah begitu cenderung Temperamental pada Lingkungannya

Udah pada bacakan karakter golangan darah O.
Sekarang waktunya tuk ngomentarin, apa sesuai dengan diriku ya…
Setelah dilihat, dipikir-pikir, ditimbang-timbang and dicermatin akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa: banyak benernya, rupanya banyak yang sama ma karakterku.

Tapi, ada tapinya lo…
Aku tuh ga benci banget ko yang namanya kekalahan, kan wajar-wajar aja .
Kalah ma menang, bunga kehidupankan? Lah wong Allah cuman lihat prosesnya ko. Istiqamah ato tidak. Betul?
Terus pada poin ke 9 tentang persahabatan, sampai sekarang aku ga dapet-dapet tuh ma sahabat yang bener-bener sahabat. Susah banget nyarinya. Jangan2 dianya lagi main sembunyi-sembunyian yah. Ato Allah belum nunjukin jalan ke rumahku ya, jadinya dia nyasar ke rumah orang laen ato jangan-jangan Allah simpenin dia di surga. Ato….? Banyak banget atonya. Intinya keep husnudzan aja ma Allah.
Terus, aku bukan orang yang sangat berhati-hati ma orang yang bukan temen. Aku mah supel banget kali. He..he… ke PD-an ya? Tapi mang bener, Aku mudah percaya ma orang. Asal Ia baik ma aku maka tunggu aja aku bakal baik juga ma dia. Sangking baiknya, sampe-sampe banyak orang yang nyalahin maksud and kepercayan aku ma dia. Weleh…weleh…tega banget mereka. Husss…ga boleh ghibah tau!
Ok, selanjutnya…mahir menggunakan dan mengolah bahasa yang baik? Apa bener ya? Ga bener tuh! Bahasaku kocar-kacir. Tulisan ini buktinya!
And the last, Aku ga sepatu banget alias ga setuju and ga sepakat banget kulau aku termasuk golongan orang yang mudah grogi and temperamental ma lingkungan. Ga Gue banget!

N selebihnya… Bener!
Yup! It’s my Colour!
N “U”?

Makassar, NE 23
15 Februari 2010