Selasa, 18 Agustus 2009

HARIKU

Hariku

Assalamu'alaikum….
Hm…hari ini Insya Allah LebihBaik dari hari kemarin. Hari ini kuberpuasa.
Sahur ala kadarnya, yah seperti biasa mie kuah dan nasi plus susu coklat.
Hari yang kupenuhi dengan rasa optimis, menggebu dalam dada.

Pagi itu masih dg suara parau ku menjawab salam Ibu dari seberang sana.
“Baru bangun ya?
Bagaiman kabarnya?”Pertanyaan itu mulus terjawab.
Selanjutnya Ibu bertanya lagi ttng tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit,
Hal itu kujawab dengan nada yang lebih tinggi tanda jengkel.Aku jujur pada Ibu bahwa Aku tak suka membahas hal itu dan kuyakin bahwa Ibu tlah tahu hal itu.

Akhirnya Ibu bertanya lagi, “Apa masih mau bicara lagi Nak?”
Serentak kumenjawab tidak. Rupanya rasa jengkelku belum hilang
Tak sewajarnya kuberkata seperti itu. Tak adil rasanya seorang anak yang menghentikan pembicaraan dengan orang tua duluan apalagi dia adalah Ibu yang telah mengandung kita selama 9 bulan 10 hari lamanya.
Yah kutahu itu,tapi apa boleh buat lisan ini tlah tak terjaga.

Tapi…sesaat Ibu ingin menutup teleponnya, suara melantun dengan malu….
”Ibu, uang sanguku tinggal Rp. 100.000,-“
Aduh…malunya diri ini masih “ma’pale’” (bahasa Bugis) atau nebeng, “nrimo ae” atau bahas lebih pasnya meminta uang jajan dari orang tua.
Apalagi sebelumnya ku tlah meminta untuk menutup telepon Beliau.
Sungguh anak yang tak tau diri.
Bukankah Surga berada di telapak kaki Ibu?

‘Ibu pernah bilang “klu uangnya mau habis bilang ya…”
“Jangan tunggu sisa Rp. 50.000,- atau malah sama sekali tak ada, baru bilang,
Nanti ngirimnya mendadak lagi, Kan sulit klu tiba-tiba harus ke Parepare”
Dan kumasih ingat dengan jawaban yang kulontarkan.
‘Ju2r Bu, Aku sungkan meminta uang sangu ma Ibu”
Aku tahu klu kondisi keluarga tak sebaik dulu, tlah lama.... hampir 7 tahun yang lalu.
Kondisi yang semakin lama kian melemah
Pemasukan surut bagaikan air laut.
Dan Lautan itupun hampir kering.

“Ya Allah Nak, jangan berkata seperti itu. Ini Ibumu”
Yah kutahu maksud Beliau.
“Insya Allah besok uangnya Ibu titip di Puangmu, moga aja dia bawa motor ke kantonya (DLLAJ di Pare)”
Pembicaraan kita pun mulai membaik.
Mulai kembali normal.
Persoalan yang tadi pun tak diungkit2 lagi.

Dari seberang sana kutahu Ibu tak sendiri,
Ku yakin Tanteku berada di sampingnya untuk mendengar pembicaraan antara Aku dan Ibu.

Aku merasa memiliki 2 Ibu yang selalu menyayangiku.
Tanteyang sehari2nya, kupanggil denagn sebutan Puang.
Puang berarti dalam hidupku.
Hidup keluargaku.
Kami bergantung padanya.
Puang adalah perantara Allah yang selalu membantu Aku dan keluarga.
Alhamdulillah……Puang masih berada di samping kami.
Dalam kondisi seperti ini, Puang tetap setia.
Menopang setengah biaya kuliahku. Aku pernah menolaknya, tapi Puang tersinggung.
Wal hasil…. Aku menerimanya.
Yah… Puang Messang namanya (panggilan dalam bahas Bugis, nama asli SamSam) .
Puang Messang, Ibu Keduaku.


Magrib sebentar lagi…..
Ku menunggu seorang kawan membawakan pesananku. Lebih tepatnya janji dia padaku.
“Es Teler” Hm….hm….pasti enak. Secara Anugra…Anu Gratis.
Akhirnya dia datang juga.Dua bungkus es teler dingin untukku. Untuk berbuka.
Terima kasih ya Kawan….
Dia pun buru2 pulang , katanya sih mo jemput kawan yang lagi mendata di sekitar poskonya.
Dengan riangnya ku membwa 2 bungkus es teler masuk ke dalam posko dan memsukkannya ke dalam kulkas.
"Wah…ada semangka!"
Enaknya diiris kecil-kecil lalu diberi susu kental manis rasa coklat di atasnya.
Yummy….Untukku, untuk Bu Hj pemilik rumah, dan untuk kawan-kawan posko yang mendata di luar sana.


Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Wah dah beduq. Alhamdulillah…..
Berdoa n………….diminum deh es telernya.
Seger banget.Plus super dingin,,,,bagaimana tidak! Isinya lebih banyak es batunya ketimbang buah-buahannnya.
He…..
*********Wktunya Shalat Magrib*****************
Dilanjut maem semangka campur susu…tambah nikmat
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
********* Waktunya Shalat Isya di mesjid*****************
Di saat teman2 mendata di rumah penduduk, Aku dan Ibu Hj.pergi ke rumah cucunya bernama Ciming yang tak jauh dari posko.
Membawa sebungkus es teller yang tersisa berharap moga dia menyukainya.
Alhamdulillah Kedatanganku disambut dengan hangat.
Bapak, Ibu, Kk ,dan Ade’ Ciming berkumpul di ruang tamu menyambut kedatanganku dan Bu Hj
Aneh...Aku merasa mereka begitu dekat.Mereka Supel, ramah, baik hati, terbuka denganku. Seperti ku tlah mengenalnya sejak lama.
Banyak yang ku dapat dari pertemuan malam itu. Perbincangan yang cukup panjang ttng kehidupan, kecurangan, janji2 palsu wakil rakyat, kondisi yang tak berpihak , perjuangan, kematian (salah satu keluarga mereka termasuk korban ,pesawat Hercules“).
Yah...itu pembicaraan yang seru sarat akan makna
Pembicaraan pertama kami.
Masih pemanasan.
Nah...saatnya kita memasuki tahap Inti pembicaraan.
************************************************************************************
Saat rasa takut mencekam dan bulu kuduk berdiri
Bagaimana tidak, pembicaran yang tiba-tiba nyasar entah berawal dari mana hingga kita bisa membahas hal ini.
Yah….ttng “Parakang”
Allahu’alam.
Tapi mereka benar-benar tahu ttng itu, terutama Bapak Ciming. Beliau pakar makhluk setengah manusia dan setngah makhluk halus itu. Rupanya Beliau sering berurusan dg makhluk ang berbau mistik tsb. Sejak tinggal di Polmas (skrng Polman) sampai akhirnya pindah ke Gowa, tempat KKN ku Entah karena apa... Beliau ingin memberikan doa penangkal Parakang versi bahasa Makassar padaku.
Ya Rabb....tambah serem aja.
Aku berusaha menolaknya
Dan alhamdulillah mereka tak jadi memberikan penagkal tersebut..
Ya iyalah...Aku tidak bisa berbahasa Makassar, tapi lucunya Suami Istri tsb berdebat agar penangkal itu ttp diberikan padaku.
"Kasih aja Pak!"
"Iya De’ mau saya kasih, tapi gimana Bu doanya kan pakai bahasa Makassar:?"
Ade’ bisa bahasa Makassar?
"Tidak Pak!!!"(dengan suara lantang kumenjawab)
"Ato gini aja, nanti Bapak kasih, terus nanti Ibu yang akan terjemahkan artinya."
"Ha……"(Sepontan kuterkejut)
Kepalaku jadi mumet******Toeng....toeng....
Itulah sekilas perdebatan yang terjadi di antara kita.

Cerita itupun berlalu melangkah ke cerita dan pengalaman yang lebih seru lagi,tapi……
Cerita ini masih berbau mistik juga.
Yah,...."Pe’po"
Ada yang pernah mendengarnya?
Menurut Narasumber (Bapak Ciming) pe’po itu tidak seperti bayangan kita selama ini
Yang katanya organ dalamnya berterbangan di malam hari atau ditaruh di loteng atau malahdisimpan dalam baskom di loteng rumah.
Kata Beliau, Orang yang menguasai dan memakai ilmu ini adalah seorang penenun
Aku pun semakin bingung dengan alur pembicaraan kami.
Tapi tak tahu mengapa lama-lama ku mulai serius mendengarkan penjelasan Bapak.
Bukankah Aku pun yang memulai pembicaraan ini.
Jadi, Lebih Baik menjadi pendengar yang Baik saja
Lanjutkan!!!

"Pe’po adalah Ilmu ttng Sukma.. Biasanya orang yang menguasai ilmu ini adalah seorang penenun. Contohnya aja di Sengkang. Seorang penunun kain sutera seringkali lembur untuk menyelesaikan tenunannya di malam hari hingga tak tidur, berusaha untuk menghasilkan tenunan sutra yang baik.Hal inilah merupakan alasan utama mengapa banyak penenun menggunakan ilmu tsb.“
Aku tak mengerti......
Dan Bapak memperjelas ceritanya kembali.
”Seorang penenun akan merasa kewalahan dan kelelahan jika terus bekerja apalagi jika sedang kejar target. Jadi, di saat penenun tidur, maka mereka menggunakn sukmanya , di mana sukma mereka terbang menuju alat penenun dan menenun dengan cepat, sangat cepat..... dan hasilnya begitu rapi“
Katanya sangking rapinya, hasil tenunan Pe’po sangatlah halus dan bagus.
Sangat mudah dibedakan dengan hasil tenunan biasa.
Tenunan Pe’po dapat dilipat hingga menjadi lipitan yang begitu kecil,dan...kecil...dan bisa dimasukkan ke dalam lubang pipa atau bambu yang kecil pula , masuk dari lubang kanan dan dapat keluar dari lubang sebelahnya (kiri) tanpa tersangkut sedikitpun dan seterusnya..
Itu membuktikan kain sutera itu sangatlah halus.
Yah....Itulah penuturan Narasumber (Bapak Ciming)
Wah salut deh ma Bapak Ciming!!!!!
Cerita berbau mistik pun usai, tapi bukan berarti cerita kita pun usai sampai di sini

Bapak Ciming rupanya pakar obat-obatan juga. Tepatnya obat-obatan tradisional.Pernah, beberapa tahun yang lalu, ada Kerja Praktek beberapa anak kesehatan yang meneliiti ttng obat2-obatan tradisional (herbal)di Gowa.
Bapak memliki cerita yang lucu dengan mereka.
Suatu hari, mahasisiwa Kesehatan melihat gejala penyakit pasien, warga desa di Gowa.
Mereka tampak bingung pasiennya menderita apa dan obat apa yang sebaiknya diberikan. Cukup lama untuk mambahas persoalan itu di antara mereka.
Bapak pun datang dengan tenangnya dan menjelaskan ttng penyakit pasien itu dan memaparkan dengan detail obat apa yang sebaiknya digunakan oleh Mahasiswa untuk pasien.
Mahasiswa itu pun heran, dan tampak malu.
"Bpk ini dari mana ya?"
Warga desa yang sederhana tapi tahu ttng obat-obatan tradsional.
Sejak itulah...para mahasisiwa selalu meinta bantuan ataupun sekedar meminta masukan jika mereka menemukan hambatan di tengah jalan dalam penelitiannya.
Yah...Bapak memag orang yang cerdas, ramah dan baik hati.
************************************************************************************
Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan ttng Beliau
Pintar memasak. cara memasaknya pun tergolong Unik tapi memilki rasa yang fantastis.
Masakanya Bapak digemari oleh warga (Itulah pnuturan Bu Hj.(mertua) dan Istri Bapak
Masakan kasnya "Nasi Goreng"
Aku sempat diajari teorinya.
Bener-bener Unik!
Berani tampil Beda tapi kualitasnya Oke punya!
Entah kenpa Aku sangat percaya waalau diriku belum pernah mencicipi masakan nasi gorengnya. Tapi, Aku berharap kelak ku dapat mempraktekanya dan hasilnya memuasakan.
Amin.
Pertemuan dan perbincangan kami ditutup dengan hidangan buah nangka masak yang legit.
Sayang Aku tak dapat makan nangka terlalu banyak.Itu salah satu pantanganku.
Tapi kudapat pelngetahuan baru lagi dari Beliau sekeluarga.
Subhnallah.......
Tahukah Anda bagaiman caranya menghilangkan getah yang melengket di tangan setelah memegang atau memakan buah nangka?.

Jawabannya...
Lagi-lagi kudapat dari Bapak Ciming dan Istrinya.
Singkat saja!
Pakai kulit dari biji nangka.
Kulit biji nangka yang tipis itu...
Bukan kulit luarnya yang berduri seperti durian.
Itu mah bagusnya digunakan untuk nabok pencuri.
He....he....
Rupanya kulit yang membungkus biji nangka yang sering kita acuhkan itu bermanfaat lo

Bapak adn Ibu menjeaskan dengan sabar kepadaku.( secara bergantian)
"Kenapa bisa Pak?" tanyaku dengan nada penasaran
"Begini, getah itu kan legket“
"Hm...iya Pak!"Jawabku
Tiba-tiba Ibu mengambil alih pembicaraan "Sedangkan kulit biji nangka itu berminyak alias mengandung minyak, sebagai penawar dari getah yang ada di buah nagka"
Seraya Bapak memegang kulit biji nangka dan memperlihatakan minyak yang terkandung dalam kulit tersebut
Aku pun mencoba mengambil kulit biji nangka yang sempat kubuang tadi.
Subhanallah......
Benar!
Kulit itu mengandung minyak.......
dan akhirnya Kami mempraktekannya bersama-sama.
Membersihkan tangan yang bergetah dengan kulit biji nagka itu sendiri.
Setelah itu dicuci menggunakan air di kobokan.
Wal hasil..............
Tak lengket lagi seperti tadi.

Itulah hari yang terukir dengan Makna.
Malam penuh dengan Hikmah.
Silahturahim yang membawah Berkah.
Rejeki ditabur di mana-mana.

Yup!!!!
Kita sepatutnya belajar dari siapapun. Bukankah kita sebagi umat Muslim dianjurkan memuntut ilmu. Ilmu Itu bukan dilihat dari siapa orang yang memberikannya tapi apa yang disampaikannya.
,
Belajar....Belajar.....Belajarlah dari siapapun!
Asalkan yang positif loh....
Dalam Al Quran pun surat tercinta dari Yang Maha Pecinta berkata
"Tuntutlah Ilmu sanpai ke negeri Cina"


Robiatul.

Senin, 10 Agustus 2009 sekiar pukul 23.00 di Kamar Bu Hj Posko, Lokasi KKN
En...Kamis, 13 Agustus 2009 pukul 01.00 di Kamar Kos Tercinta 23 Pondok NE

Tersenyumlah Pelangiku!!!


1 komentar:

Sembilanperempuan mengatakan...

Wah....Aku merasa rindu pada mereka...

Ingin ku menjumpai mereka lagi.
Insya Allah suatu saat nanti.

/(^_^)\

Posting Komentar

Ojo lali dikomen yo...!!!