MATA KETIGA COWOK
“A….a….. Takut! Jangan cepet-cepet dong!”
“Iya, pelan-pelan aja. Jangan ngebut!”
“Blue, kita semua belum mo mati tau!”
Tiga perempuan yang berteriak histeris saat Blue menyetir mobil di jalan curam dan berkelok-kelok menuju Bone. Camba.
“Ye…malah pura-pura ga denger. Dah pada mabok nih!” Yeti semakin kesal
“Kita yang di belakang kaya’ main playstasion aja” ujar Nuri yang mulai mual saat itu.
“Wue…wue….” dan akhirnya malah Tini yang muntah duluan.
Yah itulah situasi yang membuat para perempuan di kursi belakang terpojokkan, mereka dibuat naik pitam. Darah mereka mendidih ingin menikam Blue dari belakang yang dengan tenangnya masih menyetir ala pembalap mobil no.1 di dunia.
“Blue, sudahlah! Kasihan mereka. Hati-hatilah kalau nyetir” Imbuhku, berusaha merayu meluluhkan hatinya.
“Iya..iya, napami seng!” jawaban ketus darinya dengan gaya bahasa Makassarnya yang masih kental dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Untunglah ia mendengarkanku kali ini, menurunkan laju kendaraannya sambil cengar-cengir sendiri.
“Dasar Blue gokil!”ujarku dalam hati.
Sebenarnya aku juga mulai geram dengan tingkahnya seperti anak kecil. Ego! Nggak mau nagalah, nggak mau dengerin pendapat orang lain, mementingkan diri sendiri. Kesal! Tapi, itulah Blue. Jangan panggil ia Blue jika nggak gokil, cerewet, dan multitalenta alias bisa buat orang ngambek seketika, tertawa oleh banyolan dan ulahnya yang lucu.
Rupanya rekaman itu masih membekas di ingatanku. Walau kejadiannya sudah lima bulan lamanya, saat rombongan kami ingin menghadiri pesta pernikahan senior yang dirayakan di kampungnya Bone. Banyak kisah seru saat itu. Yah salah satunya cerita di atas.
Aku heran mengapa ada laki-laki yang setega itu. Bukan hanya tiga perempuan yang duduk di kursi belakang saja yang terkena damprat ulahnya, tapi seisi mobilpun pada kesal dibuatnya, termasuk si Doni yang duduk di sampingnya kala itu.
Aku mulai mencari-cari jawaban atas kebingungan dan pertanyaanku pada laki-laki setelah kejadian itu. Setelah kuperhatikan dengan cermat dan seksama, bukan Blue saja yang memiliki sifat itu, tapi Pak Riko juga teman sekantorku. Lebih tepatnya petinggi selevel direktur. Aku baru ingat bahwa sudah dua kali aku numpang di mobilnya setelah pulang dari acara makan-makan kantor bersama istri dan anaknya. Pak Riko malah lebih parah lagi. Ngebutnya dah dari bawaan kali. , tapi betul-betul lincah. Sepertinya punya indera keenam. Aku ingin sekali berteriak kencang dan melarang beliau seperti yang pernah kulakukan pada Blue tapi nggak enak juga, terpaksa diam saja menahan sakit di dada atas ketakutan yang kurasa. Beristighfar dalam hati sedikit mengobatinya. Sedangkan istrinya menikmati pejalanan itu. Tenang tak bergeming. Mungkin sudah terbiasa.
Ada apa dengan hobi laki-laki yang suka ngebut? Mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membuat jantung berdetak lebih cepat di atas ambang rata-rata. Setelah sekian lama aku mencari, tepat sebulan dari kejadian itu aku menemukan jawaban atas kebingunganku terhadap sifat aneh yang dimiliki oleh laki-laki. Akhirnya! Alhamdulillah…Jawaban itu aku temukan dari sebuah buku best seller berwarna kuning,. tipis 124 halaman. berjudul Ta’aruf Forever karya M. Shodiq Mustika dan Krisna Rihardini, tepatnya pada bab “Mata Ketiga Cowok”
Di bab tersebut diterangkan bahwa laki-laki memiliki kemampuan atau kelebihan dibandingkan perempuan salah satunya adalah lihai dalam mengemudi di jalan raya.
“…sebenarnya, tingginya kecepatan mengemudi mereka tuh nggak sengeri yang dibayangin orang. Dengan adanya mata ketiga, cowok akan mudah mempertkirakan gigi persneling, kombinasi rem dan pedal kecepatan waktu di tikungan…” Begitulah bunyi pendapat yang aku kutip dari buku tersebut.
O…gitu yah! Katanya mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah keasyikan tersendiri, asalkan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada.
Semenjak kejadian itu, aku mulai sadar bahwa selama ini aku masih belum tahu banyak tentang kaum Adam walau aku dibesarkan oleh seorang Bapak dan memiliki kakak laki-laki yang menyayangiku saat ini. Laki-laki penuh lika-liku juga.
Aku bertekad harus lebih banyak belajar mengenai mereka. Hingga suatu saat nanti tak akan ada salah paham dan cekcok seperti kejadian di atas.
Sebaiknya bukan hanya laki-laki saja yang mau dimengerti tetapi mereka juga harus lebih mengenal sosok perempuan. Karena perempuan lebih ingin dimengerti. Jadi sepatutnya kita -laki-laki dan perempuan- memahami karakter masing-masing seperti pesan yang ditujukan untuk kaum Adam di muka bumi ini dalam buku tersebut yang berbunyi: ”Di sisi lain, andaikan kamu cowok ingin lebih dihargai cewek, jangan kebut-kebutan di depan mereka ataupun ngebut ketika mengendarai kendaraan yang penumpangnya ada ceweknya . Keahlianmu mengemudi gak bakal bikin terkesan. Bisa-bisa dia justru mencibir, menyangka kamu orang yang tak peduli akan keselamatan orang-orang!”
Nah loh! Kalau begitu baiknya kita gencarkan gerakan ta’arufan forever karena tak kenal maka tak sayang!
“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta’arufu (supaya saling kenal mengenal).”Hujurat(49):13
Makasar, NE 23
27 Februari 2010

0 komentar:
Posting Komentar
Ojo lali dikomen yo...!!!