Jumat, 29 Januari 2010

"Tuhan, Ijinkan Ia Mati""

“Kau dengar?” tanyaku pada hati yang hampir mati. Kuterhenyak oleh dinginnya malam. Sesak...terdengar tangisan yang mengisak dari balik dinding yang retak. Gemertak itu tak kunjung reda. Batinku tersentak!

“Sudah! Hentikan itu! Hentikanlah!” raungku dalam hati yang takkan pernah berarti. Letih kurasa hanya diam terpaku mendengar rintihan itu. Kutahu di balik sana, si bungsu mengalami hal yang sama setiap harinya. Seperti malam-malam sebelumnya, Ia sendirian di kamar itu, menanti hukuman yang pasti.

“Entah, siksaan apalagi yang bungsu terima malam ini?” batinku bertanya dengan cemas. Ingin kutak menghiraukannya. Bukankah itu lebih menguntungkan untukku? Tapi bukan ini yang kuharapkan.

Ia meronta-ronta, berusaha melepas ikatan yang melilit di kaki dan tangannya. Semakin kuat usahanya, semakin dalam pula luka yang menyayat tubuh kecilnya. Kulit putihnya semakin memucat, nafasnya tersengal-sengal, rambut ikalnya mulai basah, tubuhnya menggigil menahan dingin yang menyergapinya. “Byur....byur...” dan kembali tercebur.

“Entah, malaikat apa yang selalu melindunginya? Serasa maut enggan mejemputnya.” Ia tegar!

Hukuman itu selalu bungsu terima, semenjak kuterkapar di ranjang dua tahun silam. “Apa daya? Aku hanya seorang perempuan tua bisu kian lapuk dimakan oleh waktu” tanyaku pada emosi yang memuncak.

Sepulang sekolah, bungsu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari mencuci pakaian, mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di dapur, sisa sarapan dan makan siang, dan menyetrika pakaian yang telah kering. Walau semua tugas itu telah dilakukan dengan sempurna, tapi Budhe' tetap saja mencari-cari celah atau kesalahan untuk bisa menghukum si bungsu.

"Cepatlah!" hardik Budhe' dengan kasarnya. Aku hanya dapat mendengar suara perintah itu dari dinding yang menghalangi diriku dengan si ungsu.

"Gubrak!" suara gaduh terdengar kembali. Aku diam. Takut. Tubuhku terasa dingin. Tangisannya semakin meledak. Aku yakin Budhe' memulai ulahnya lagi.

"Tuhan, Ijinkan Ia Mati!" pintaku pada-Nya. Sungguh, Aku tak kuasa mendengar erangan si bungsu. Terlalu perih menyaksikan Ia terkapar tak berdaya menahan sakit yang kian menganga.

"Tuhan, turunkan malaikat maut-Mu itu padanya!" munajatku semakin kuat kupanjatkan. Biar malaikat menjemputnya! Mengakhiri penderitaannya atas ruh yang tak berdosa.

Aku merasakan waktu yang beringsut berdenyut semakin mendekat. Cahaya mengusapnya lembut, selembut Cinta dan sayangku padanya. Cahaya di atas cahaya kan datang menjemput dan mengakhiri ceritanya, dan Aku kan berbaring tenang di ranjang bisu ini.

Biarkan Ia tidur!
Kini dan selamanya...

Robiatul


Tabo-Tabo, Pangkep 10 Januari 2010
Tiga besar Karya Terbaik TOR FLP IV

2 komentar:

Sembilanperempuan mengatakan...

Masih buntu...
Belum bisa nglanjutin tulisan ini

Sembilanperempuan mengatakan...

Ada yang bisa bantu?

Posting Komentar

Ojo lali dikomen yo...!!!