Minggu, 07 Februari 2010

COKLAT PALENTEN AQSO

 


“COKLAT PALENTEN AQSO”



“Bu Gulu! Bu Gulu!” rajuk seorang anak cadal yang kini menarik-narik bajuku.
Aku hentikan sejenak aktivitas yang sedang kulakukan di pagi ini. Mencondongkan tubuh, mendekat, dan berbisik pada anak laki-laki yang hiperaktif, yang tak suka tidur siang, dan hobinya bertengkar dengan anak Ibu Kepala Sekolah yang bernama Raihan itu.
“Iya sayang, ada apa? Ada yang bisa Ibu bantu?”  Sambil kuusap rambut hitam ikalnya.
“Aqso mo tanya Bu” jari telunjuknya ia acungkan tinggi.
“Iya silakan! Ibu guru akan mendengarkan asal Aqso menaruh tasnya dulu di kelas ya…!
Sebental aja ko, sedikiiit aja. Yah…! Yah…?” Gaya wajah memelasnya akhirnya ia pamerkan juga pagi ini.
“Anak ini memang berjiwa kolerik,” ujarku dalam batin.
“Ok deh! Tapi, kita buat perjanjian dulu ya?”
“Iya…! Iya Aqso sepatu, Bu Gulu!Sambil melompat-lompat kegirangan.
“Ko’ sepatu sih?” Tanyaku dengan heran padanya.
“Kata kakak Aqso, tiga hali yang lalu.”
“Ups…! Salah…! Salah! Labu, Selasa, Senin, Minggu,sambil mengangkat tangan kanannya dan mulai menghitung hari secara mundur.
“ O…! Iya…! Ya yang benel tuh. Empat hali yang lalu, Bu Gulu"  
Hm…! Hm…! Geleng-geleng aku dibuatnya. Aqso memang anak yang cerdas, daya ingatnya sangat kuat dibanding anak-anak seusianya.
Sepatu itu altinya sepakat dan setuju Bu Gulu, ia melanjutkan kembali penjelasan yang hampir terputus tadi.
“Janji sepatu ya Bu?”
Seperti biasa, Aqso selalu mendahuluiku. Tanpa komando, jari kelingking mungilnya langsung ia kaitkan di jari kelingking kananku.
“Iya, janji!” balasku.
“Sekarang Aqso cerita ya! Karena bel masuk sebentar lagi berbunyi, sayang.”
 Kila-kila belapa menit lagi ya, Bu Gulu?” Tak lupa jari telunjuk dan ibu jari kanannya membentuk pistol dan ia gerakkan silih berganti tepat di dagunya sambil mengerutkan dahi lebarnya. Gaya khasnya yang sok dewasa itu yang membuatku menahan tawa yang sejak tadi ingin kugelegarkan.
Aku lupa bahwa berbicara dengan Aqso haruslah hati-hati dan cermat. Ia anak yang suka dengan kepastian. Hitung-hitungannya jarang meleset. Jadi harus jelas kalau menerangkan sesuatu padanya, tak boleh ngambang. Kalau tidak, ia akan meluncurkan serangan balik tanpa henti. Aqso memang anak yang spesial.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangan kiriku saat ini.
Tiga belas menit lagi sayang” jawabku
"Oce deh Bu!"  
“Ibu guluku yang cantik…” Aqso mengedipkan mata tanda rayunya padaku. Pembukaan yang bagus tuk memulai cerita. Ia selalu mencoba menarikku dalam ceritanya. Kali ini apalagi yang akan ia tanyakan? Gumamku dalam hati.
“Ibu pelnah dengal Aqso?” Ujarnya spontan tapi penuh tanya.
“Hm…! Pernahlah! Kan sekarang ada di depan Ibu orangnya. Hayo…? Aqso mo main-maini ibu ya?”
“Bukan itu maksud Aqso, Bu Gulu!” Aqso menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Terus apa dong?”
Itu tuh. Aqso di Palestina ”
Kaget bukan main aku dibuatnya.
“Kenapa Aqso tanya soal itu?” Aku mencoba mencari tahu sebenarnya.
“Kasihan yah olang-olang di sana, Bu Gulu. Meleka kelapalan, lumahnya hancul, banyak yang mati dali tua sampai muda. Aqso sedih melihat meleka apalagi anak-anaknya. Anak-anak banyak yang ga punya papa, mama, dan kakak kaya’ Aqso di sini. Anak-anak di Aqso ga bebas, ga bisa sekolah, ga bisa belmain, ga bisa makan enak juga. Pasti meleka ga bisa makan coklat sepelti kesukaan Aqso. Aqso sedih Bu Gulu” Mata Aqso berkaca-kaca. Kini ia menengadah ke arah langit-langit kantorku. Berusaha membendung lelehan air matanya yang siap tumpah.
Ada apa dengan anak ini? Pertanyaan yang kusimpan dalam hati tak urung kulontarkan padanya. Beberapa pertanyaan telah meluncur kembali dari mulut kecilnya. Datang bertubi-ubi, padahal aku belum sempat menanggapi curahan hati sebelumnya.
”Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
“Kalau ada, lasanya sama ya ma coklat palenten (palenten=valentine) punya kakak Aqso?”
“Tapi, kalau nggak ada nanti Aqso suluh mama kilimin meleka coklat lewat pesawat papa deh. Papa Aqsokan pilot. Apalagi coklat kakaknya Aqso banyak banget! Tapi, kakak mah pelit! Aqso aja cuman dikasih satu yang bentuknya hati, Bu Gulu. Katanya sih ga cocok untuk anak kecil cocoknya tuh untuk olang dewasa aja!”
 “Jadi, Bu Gulu bantu Aqso ya? Bu Gulu sumbangin coklatnya ya untuk Aqso? Coklat dali pala penggemal ibu gulu. Ibu simpan di situkan? Telunjuknya menunjuk ke arah lemari berwarna biru milikku.
Telus…! Telus…! Bantu Aqso juga layu kakak Aqso untuk ngasihin coklatnya yang banyak itu.“ Celoteh Aqso tak bertepi.
Semangatnya menggebu melancarkan ide-idenya yang menurutku sangat langka. Aqso tahu persis para kumbang yang selalu mencoba dekat denganku. Wajar jika ia tahu karena Aqsolah yang selalu diminta untuk comblangin mereka denganku. Rata-rata hadiah yang mereka titip ke Aqso adalah coklat. Tapi ada yang mengganjal di pikiranku saat ini.
“Mengapa harus coklat Aqso?”
“Kata mama, coklat itu punya kandungan penilepeniletiaAduuuh! Apaan ya?“ Seraya memukul dahinya sambil mencoba mengingat kembali nama kandungan itu.
Ko jadi lupa! Padahal kemalin Aqso dah ngapalin belulang-ulang lo. Lupa ah...! Pokoknya bisa buat olang seneng dan dapat menenangkan suasana hati” terangnya.
Mama Aqso memang seorang dokter terkenal di kota ini. Mungkin maksudnya phenylethyalamin. Memang kandungan ini dapat menghasilkan dopamine. Memiliki efek yang dapat memunculkan perasaan senang dan perbaikan suasana hati.
”Jadi, teman-teman Aqso di Palestina bisa melasa tenang dan senang saat makan coklat, lupa papanya yang telah telbunuh di medan pelang, lupa mamanya yang entah ke mana menghilang, setidaknya melupakannya walau sedikit.” Celetuknya lagi.
“Wah, pasti selu! Palenten di Palestin pasti kelen habis! Iyakan Bu Gulu?”  Imbuhnya, senyum sumringah ia mekarkan dari bibir tipisnya. Tampak sederet gigi putih menghiasi senyumnya saat ini.
Ya Tuhan, celoteh macam apa ini? Mengalir begitu saja dari hati suci Aqso.
“Adakah coklat di Palestina, Bu Gulu?”
Palenten di Palestin, pasti kelen habis!
“Bu Gulu sumbangin coklatnya ya…!
Semua itu berdenging di telingaku. Dari mana anak laki-laki kecil usia lima tahun ini mendapatkan pertanyaan dan ide seperti itu? Sedangkan aku sendiri tak pernah memikirkannya apalagi jika aku harus menjawabnya. Haruskah kujawab? Aku tak mampu!
Desah-desah keputusasaan bertalu-talu dalam hati terbelenggu dan letih menanti penantian tak bertepi, tak kunjung henti. Di bawah benteng tirani nilai-nilai manusia telah mati terintimidasi oleh kerasnya hati.
Aku merasakan pembuluh darahku menyempit, terlilit masalah pelik. Kini darah itu hampir beku. Seperti darah mayat yang berserakan di tanah suci itu. Darah korban pembantaian, penindasan, dan penzholiman. Darah atas ruh yang tak berdosa. Darah bercucuran itu terbang menuju pembaringan yang mulia, tempat yang telah dijanjikan. Darah itu kan mewangi selamanya di tanah suci nan mulia, tanah Palestina. Ya Tuhan, perasaan apa ini? Serentak jantungku berdegup kencang. Kuraba, memastikan jantungku masih normal. Anak ini membuatku tersudut dalam ruang hatiku.
“Bu Gulu! Bu Gulu! Ko nangis? Ia menghapus bulir-bulir bening yang mengalir lembut di pipiku.
“Bu Gulu, nanti Aqso tambah sedih loh. Jangan nangis ya Bu! Aqso nggak akan nanya lagi! Ibu nggak usah jawab! Ga apa-apa ko! Aqso ikhlas , Bu Gulu!” Anak kecil ini berusaha menenangkanku dengan sepenuh hatinya. Aku merasa hangat dalam pelukan tubuh kecilnya. Pelukan terhangat yang pernah kuterima setelah ibuku tiada.
“Hapuslah ail mata ibu guluku sayang!” Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggungku. Berusaha meredakan tangisan yang mengucur deras  sedari tadi.
“Ya Tuhan, apakah Aqso malaikat kecil yang Kau kirimkan padaku untuk menyadarkan aku bahwa hidup ini begitu berharga? Aku malu!”
Dalam dekapannya, dalam hatinya yang lapang, tepat di jantungnya. Aku merasakan lirih pembebasan yang Aqso kecil lantunkan untuk Palestina.
Untukmu Jiwa-jiwa Aqso
Untukmu Jiwa dan Darah Aqso
Untukmu Palestina Tercinta
Aqso penuhi panggilanmu
Untuk Al Aqso yang mulia
Aqsokan terus bersamamu

Makassar, 08 Februari 2010 Pk 03.00
*Salah satu mahasiswi Universitas Hasanuddin




2 komentar:

Sembilanperempuan mengatakan...

Masih banyak yang perlu diedit.
Ada yang punya masukan?
Judulnya juga msih bisa diubah.
Silakan!

Sembilanperempuan mengatakan...

Alhamdulillah...
Akhirnya dah selesai ngeditnya...
^_^
17 Februari 2010

Posting Komentar

Ojo lali dikomen yo...!!!